Showing posts with label #WordsofPoetica. Show all posts
Showing posts with label #WordsofPoetica. Show all posts

24.7.13

Malaikat di Dalam Angkot

Aku mencari-cari dompet di dalam tasku. Tidak ada! Kucari lagi setiap tempat di sudut-sudut tas yang kupakai. Resleting di sana-sini kubuka satu persatu. Tidak ada! Keringat dingin mulai bermunculan. Bagaimana ini? Aku dilanda kebingungan untuk mengatasi hal ini. Dompetku tidak ada. Kecopetan? Aku tidak tahu. Kuingat-ingat kejadian sebelum aku pergi meninggalkan rumah. 

Aku mengganti tasku sebelum pergi. Kuletakkan dompet di kasur. Mungkin dompet itu tersamarkan oleh selimut sehingga aku tidak melihatnya dengan jelas. Itulah aku. Aku mengutuk diri sendiri. Jika tidak di depan mata, alhasil, aku akan lupa membawa barang.

Kuputar otak bagaimana caranya membayar angkot. Tidak ada sepeserpun uang terselip di dalam tas. Kukorek saku jeans. Tidak ada. Aku pun meninggalkan receh di meja. Sial! Aku benar-benar sial. Apakah aku telepon temanku dan memintanya untuk menungguku di pinggir jalan sambil membawa uang untuk ongkos? Ah, terlalu riskan. Bagaimana kalau ia sedang dalam diskusi yang tidak bisa ditinggalkan?

Angkot yang kutumpangi berhenti di lampu merah. Masih ada waktu berpikir di lampu merah. Aku belum menemukan bagaimana caranya membayar angkot tanpa sepeserpun uang kubawa. Sampailah angkot di depan Carrefour. Aku memutuskan untuk turun. Dengan perasaan yang agak tidak enak hati, kuminta nomor telepon sopir angkot. Kukatakan bahwa aku tidak membawa dompet tapi aku akan menghubungi Pak Sopir untuk membayar ongkos angkot. Terdengar mustahil, ya. Tapi sudahlah, namanya juga usaha. Pak Sopir tampak kebingungan dengan permintaanku. Ia menyebutkan sederet angka.

Ketika aku sedang mencatat nomor telepon sopir angkot, tiba-tiba seorang ibu yang tadi duduk di sebelahku mengatakan kalau ia akan membayar ongkos angkotku. Oh Tuhan, baiknya ibu itu. Kuucapkan terima kasih padanya. Aku berdoa, semoga Allah membalas kebaikannya dan menggantinya dengan rezeki yang lebih banyak. Malaikat memang ada di mana-mana.

#14DaysofInspiration, kebaikan. 

23.7.13

Seperti Kunang-kunang

Aku tidak sanggup lagi untuk berteriak. Suaraku sudah hampir habis, tenagaku sudah terkuras. Aku lemas. Kuraba dinding di sekitarku. Penuh dengan batu-batu cadas. Kulitku perih karena tergores cadas-cadas itu. Namun, perih tak kurasakan. Yang kurasakan adalah perasaan takut dan cemas karena hari sudah mulai gelap. 

Aku tidak tahu sudah berapa lama terjebak di sini. Jam tangan kusimpan di dalam tas ketika aku mau pergi ke sungai untuk mengambil air. Seingatku, saat aku jatuh, matahari masih bersinar. Sekarang, matahari sudah berangsur tenggelam. Aku tersesat dan terjatuh di lubang ini. Ranting-ranting dan dedaunan kering mengaburkan kewaspadaanku. Mungkin ini adalah jebakan harimau. Beruntung tidak ada tombak di dalam lubang ini. Aku bergidik ngeri membayangkan tubuhku tercabik-cabik tertusuk tombak. Sebaris untaian syukur kupanjatkan karena tubuhku masih utuh. Goresan-goresan di sana-sini tak sebanding dengan bayangan tubuhku berlubang-lubang. 

Kukumpulkan sisa-sisa tenagaku. Aku berdoa dalam hati semoga ada orang yang lewat dan mendengar sisa suaraku. Aku kembali berteriak untuk kesekian kalinya. Sunyi. Hanya desir angin yang bertiup menggoyangkan dedaunan. Bunyi pohon bambu berderit membuat bulu kudukku mulai merinding. Aku teringat mitos saat aku kecil. Pohon bambu adalah pohon tempat berkumpulnya para jin. 

Kulayangkan pandanganku ke atas. Tinggi jurang ini sekitar tiga meter, tapi aku sudah tidak bisa lagi menatap langitnya. Semua gelap. Aku kembali berteriak. Sekali, dua kali, tiga kali. Suaraku benar-benar habis. Air mataku mulai mengalir. Aku teringat keluargaku, teman-temanku, dan musuh-musuhku. Ketakutan mulai menyelimuti. Aku mulai pasrah. Doa-doa mulai kupanjatkan. Tuhan, kalau ini adalah hari terakhirku, tolong ampuni aku. Tuhan, jaga keluargaku, maafkan musuh-musuhku. Aku pasrah. Kupandang langit yang gelap gulita. Tiba-tiba.....

Setitik cahaya kulihat di atas sana. Harapan! Aku melihat ada harapan. Aku berteriak sekuat-kuatnya. Kukerahkan sisa-sisa tenaga dan suaraku untuk berteriak lagi. Perlahan-lahan, titik-titik cahaya semakin banyak. Seperti sekelompok kunang-kunang yang sedang menikmati malam. Harapanku semakin besar, semangatku semakin kuat. 

"Gilda! Kamukah di sana?" Suara seseorang di atas sana.

Aku menangis. Kali ini tangis gembira menyongsong harapan. Aku selamat! Terima kasih, ya, Allah! Betul. Aku Gilda. Kuberkata pada diriku sebelum berteriak menyahut menyambut harapan.

                                                          ***
#14DaysofInspiration, harapan.

22.7.13

Cerita Tentang Sahabat

Aku menengok ke kiri dan ke kanan sebelum menyeberang jalan. Kulewati tukang kupat tahu dan penjual minuman yang masih setia di depan gedung itu. Semua masih tetap di posisi seperti dulu. Pohon mangga yang rimbun masih berdiri tegak di halaman depan. Yang jelas berbeda adalah gambar kolase di dinding depan. Dulu kolasenya adalah kastil. Dulu, sebelum aku meninggalkan gedung ini. Kolase kastil yang merupakan bukti sinergi kami, aku dan sahabat-sahabatku, sekarang berganti dengan kolase robot. 

Aku berjalan melewati meja front office. Penghuni ruangan ini benar-benar mahluk setia. Sejak pertama kali ia kerja di sini sampai sekarang masih bertahan. Aku tersenyum padanya. Mahluk ayu berambut panjang yang selalu tenang. Nyaris tidak pernah terlihat marah bagaimanapun kesalnya dia. Sekarang, mahluk ayu itu menjadi sahabatku. Entah kapan dimulainya, tapi sejak aku meninggalkan gedung ini, kami selalu bertukar kabar. Sekedar obrolan ringan, sampai curhatan mendalam. 

Aku melangkah ke ruangan berikutnya. Aku tertegun di ruangan itu. Sekarang ruangan ini sudah berubah. Meja-meja dan kursi-kursi ukuran kecil tersusun di ruangan ini. Aku merindukan blocks yang dulu tersusun rapi di sini. Tidak, bukan blocks-nya yang aku rindukan. Aku merindukan semua orang-orang yang sering menghuni ruangan ini. Dulu, beberapa tahun lalu. Di sinilah tempat kami berkumpul. Aku dan sahabat-sahabatku. Timku yang solid. Kala itu, kami benar-benar seperti keluarga. Saling membantu tanpa memikirkan 'ini bukan tugasku'. Yang kami pikirkan saat itu adalah 'apa yang bisa kubantu'. Sungguh! Sampai saat ini, aku belum menemukan lagi tim seperti teman-temanku dahulu. 

Aku duduk di salah satu kursi. Ruangan yang aku duduki sekarang, dulu adalah ruangan berkarpet dengan blocks tertata di sekeliling ruangan. Kecuali bagian pintu tentu saja. Di sini, aku dan teman-temanku mengerjakan tugas-tugas kami. Mengisi buku hijau, membuat laporan, memeriksa karya, lembar kerja, mencari sumber belajar, dan lain sebagainya. Entahlah, rasanya kami melakukan segala hal di ruangan ini. Paling sering kami menghadapi laptop-laptop kami. Termasuk memutar music video Super Junior kalau kami merasa suntuk. Akhirnya, kami akan tertawa-tawa bersama, cukup menghilangkan kesuntukan kami. Aku sering merindukan saat-saat itu, saat-saat di mana aku menghabiskan waktu bersama teman-temanku, sahabat-sahabatku, yang sudah menjadi keluargaku. 

Sekarang, sahabat-sahabatku yang dulu berada di ruangan ini sudah pergi satu demi satu. Masing-masing memiliki mimpi dan harapan. Acara perpisahan sudah diadakan. Acara perpisahan pasti identik dengan kesedihan, betul? Ya! Siapa yang tidak sedih ketika sahabat-sahabat kita memutuskan untuk 'pergi'? Setiap orang punya pilihan, kan? Hanya saja, tidak semua kesedihan harus disertai dengan tangis. 

Lalu kenapa aku tidak menangis?
Karena aku tahu, perpisahan ini bukan untuk selamanya. Hanya sebatas kertas putih sebagai batas formal yang disebut kontrak atau surat kesepakatan. Aku dan kalian, para sahabatku, masih bisa bertemu seperti yang sudah pernah kita lakukan sebelumnya. Kita masih bisa bercanda, bertukar cerita, tertawa bersama, saling mendukung bersama, dan banyak hal yang bisa kita lakukan bersama. Itu yang membuat aku tidak menangis.

Sahabat-sahabatku, hidup adalah pilihan. 
Terima kasih karena sudah memberikan kenangan indah selama ini.
Di mana pun kalian berada, aku yakin kalian pasti akan bisa bahagia.
Bahagia itu sederhana. Sesederhana tawa kita bersama. 

Aku teringat salah seorang sahabatku pernah berkata, "Inilah yang dinamakan sahabat, In. Kita tidak harus bertemu dan berbincang setiap hari. Tetapi, ketika kita bertemu, kita bisa lebur dalam obrolan, mengalir tanpa beban, saling berbicara tanpa ada pamrih. Seperti yang kita lakukan sekarang ini. Ringan."

Semoga, kita tetap menjadi sahabat yang benar-benar bersahabat. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan. Insya Allah.


Photo by Lupytha Hermin


#14DaysofInspiration.
Gabungan 'Kangen' dan 'Kenapa Aku Tidak Menangis?

20.7.13

Surat Untuk Kei (2)

Hai, Kei! 
Bertemu lagi dalam surat. Semoga kamu tidak bosan dengan suratku. Kali ini, aku ingin berbicara tentang keharmonisan dalam perbedaan yang kita miliki. Bingung? Maksudku begini, Kei. Kita berdua sudah membuktikan bahwa perbedaan itu bukan masalah. Ya, kita memiliki buktinya tanpa kita sadari ataupun sengaja membuktikan diri. 

Kei, seringnya aku berkunjung ke tempatmu tidak menghalangi kita untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing. Aku berdoa sesuai dengan agamaku, begitu pula dirimu. Kau mengucapkan 'Selamat Lebaran' dan aku memberi 'Selamat Tahun Baru'. Seingatku, kita tidak pernah sekalipun membicarakan tentang perbedaan agama yang kita anut, atau berbicara masalah agama atau berdiskusi dari kaca mata agama. Tidak sengaja dihindari, tapi tidak pernah terucap dalam obrolan kita. Apalagi 'melintasi batas' dengan saling 'mengajak' dalam menjalankan ibadah. Justru dengan begitulah, kita dapat dengan bebas menjadi diri kita masing-masing. Toleransi yang kita bangun membuat kita merasa nyaman untuk saling berbagi dan beraktivitas bersama. Sekian tahun pertemanan kita, tidak sekali pun kita 'ribut'. Mungkin karena kita saling menghargai satu sama lain, ya, Kei. Apakah kau memiliki pendapat yang sama denganku, Kei? 

Kei, hari sudah semakin malam. Sebentar lagi, tanggal akan bertambah satu. Aku mau tidur. Besok aku harus bangun pagi-pagi. Semoga surat singkat ini memperat persahabatan kita. Sampai jumpa lagi, Kei.


Iin

#14DaysofInspiration, toleransi.

19.7.13

Jangan Menyuruhku Berhenti Bermimpi, Callysta!

"Mau sampai kapan kamu begini, Na? Berpijaklah ke dunia nyata. Lihat sekelilingmu untuk melihat kenyataan. Berhentilah bermimpi."

Sahabatku berkata padaku pada suatu sore yang indah. Ya, seharusnya sore yang indah kalau saja, Callysta, sahabatku tidak memintaku untuk berhenti bermimpi. Ia menganggap bahwa kesukaanku menonton film Korea membuat aku terbuai dalam mimpi. Oh.. tidak, Sahabatku! Aku masih bisa menggunakan nalarku untuk membedakan mimpi dan kenyataan. 

"Ya, enggaklah, Cal. Aku masih cukup waras untuk bertindak. Kamu pikir gara-gara aku penyuka film Korea, lalu aku mengidamkan lelaki seperti dalam film-film itu?"

Aku menjawab dengan nada agak (sedikit) tinggi. Kulanjutkan omelanku.

"Aku bukan seperti remaja-remaja atau perempuan yang baru memasuki masa dewasa awal. Aku nggak lantas ngomel-ngomel pada lawan main aktor yang disukai kalau mereka punya chemistry dengan lawan main mereka. Aku nggak nangis-nangis saking cemburunya. Aku bisa memisahkan antara kenyataan dan imajinasi. Jangan kau memintaku berhenti bermimpi."

Callysta diam. Sepertinya ia sedang mencari kata-kata untuk 'melawanku'. Bisa juga karena ia terkaget-kaget karena aku yang pendiam tiba-tiba menjadi banyak bicara. Aku menghela nafasku.

"Jangan minta aku untuk berhenti bermimpi, Callysta! Mimpi membawaku pada harapan untuk menjalani hidup. Mimpi membuatku bersemangat membuat hidup lebih berwarna. Mimpi membawaku pada usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya. Beberapa mimpiku sudah terwujud. Jadi, jangan memintaku berhenti bermimpi."

Callysta tidak berkata apa-apa. Mungkin ia mengakui kebenaran kata-kataku. Callysta tidak tahu mengapa aku begitu ngotot mempertahankan mimpi-mimpiku. Adalah sebuah pesan singkat ucapan Selamat Tahun Baru beberapa tahun lalu dari seorang teman untukku. Tentang mimpi. 
                  
          Mimpi adalah setengah cita-cita
          Cita-cita adalah setengah rencana
          Rencana  adalah setengah kerja keras
          Kerja keras adalah setengah keberhasilan

Kata-kata itu begitu 'mengena' sehingga aku mempertahankannya untuk tidak dihapus dari kotak pesan ponselku. Kata-kata itu memberikanku kekuatan untuk tidak takut bermimpi. Kata-kata itu mendorongku untuk mewujudkannya. 

"Jadi, Callysta sahabatku, berhentilah menuduhku tanpa dasar atas mimpi-mimpiku. Aku punya hak untuk bermimpi."

Ya, aku punya hak untuk bermimpi, dan kamu juga. 

#14DaysofInspiration, mimpi

Bunga Mawar Putih

jualbibitpremium.wordpress.com
Nenekku sangat sayang pada bunga mawar putih yang beliau tanam di halaman rumah. Katanya, bunga mawar itu sudah dipelihara sejak Nenek masih muda. Aku tidak pernah tahu asal muasal mengapa Nenek menanam bunga mawar tersebut. Yang jelas, setiap kali beliau pergi menginap di rumah om atau tanteku yang notebene adalah anak-anaknya, pesan beliau cuma satu: 

Tolong siram bunga mawar, Nenek ya, Mala. Jangan sampai lupa!

Kalau Ibu menelepon Nenek atau sebaliknya, pasti Nenek tidak lupa menanyakan apakah aku menyiram mawar putihnya atau tidak. Berkali-kali aku melihat Nenek 'mengurus' bunga itu dengan sepenuh hati. Ya, betul, sepenuh hati. Bagaimana tidak, Nenek akan memetik daun-daun kering perlahan-lahan, mengusap debu-debu yang menempel di daun, mencium bunganya, memotong tangkai dengan sangat berhati-hati. 

Saat aku lahir, Ibuku mengatakan bahwa Nenek sudah memiliki bunga itu. Aku pernah bertanya pada Ibu mengapa Nenek begitu menunjukkan sikap welas asih pada bunga mawar itu. Ibu menjawab bahwa bunga mawar juga mahluk Allah, yang hidup, dan perlu dipelihara. Sampai detik ini, aku tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan dari Nenek kalau aku bertanya padanya. 

Sampai suatu hari, gempa melanda kotaku. Pot bunga jatuh terguling dan menimpa bunga mawar putih Nenek. Aku baru saja sampai ke rumah ketika kulihat Nenek sedang berjongkok di depan mawar putih yang tangkainya patah. Nenek memeriksa tangkai bunga mawar dengan hati-hati, mengusap kelompoknya, dan berusaha menegakkan tangkai yang patah. Aku ikut berjongkok di sebelah Nenek. Diam, tidak bicara. Tiba-tiba Nenek berbicara.

Bunga ini lambang kasih sayang, Mala. Kenapa Nenek merawat bunga ini dengan welas asih, karena pemberi bunga ini adalah seorang penyayang. Ia mengajari Nenek untuk berbagi kasih dengan sesama mahluk Tuhan. Walaupun hanya sebatang pohon. Kenapa Nenek mengistimewakan bunga ini, karena pemberi bunga ini adalah orang yang istimewa. Tanpanya, ibumu tak akan lahir. Kalau ibumu tidak lahir, kamu juga tidak akan lahir. Kamu dan ibumu adalah orang-orang istimewa bagi Nenek dan bukti kasih sayang kakekmu. Allah terlalu menyayangi kakekmu sehingga memanggilnya dengan cepat. Jangankan kamu, ibumu juga belum lama memanggilnya 'Ayah'. 

Nenek menjelaskannya dengan senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Aku tepekur dalam diam. Sekarang aku tahu, apa arti bunga mawar putih itu bagi Nenek.

#14DaysofInspiration, welas asih.

17.7.13

Hilangnya Sepatu Keanu

Bicara tentang kejujuran mengingatkanku pada konfrontasi yang kulakukan pada seorang anak kecil berusia 6 tahun. Bicara dengannya harus siap dengan alasan logis. Maklum, ia adalah anak lelaki pintar meskipun baru kelas 1 SD. Anak itu bernama James, muridku di Sekolah XYZ.

Asal mulanya adalah hari sebelumnya. Jam pulang sekolah, seorang anak kelas 1 SD menghampiri kakeknya dengan hanya mengenakan kaos kaki. Namanya Keanu. Ia datang dari perpustakaan. Keanu mengatakan pada kakeknya kalau sepatunya hilang. Sang kakek marah karena sepatu cucunya hilang. Guru yang saat itu mengantar Keanu terkena damprat sang Kakek. Aku dan guru tersebut mencari ke sekitar lokasi hilangnya sepatu tapi tidak ketemu. Akhirnya, dibuatlah sayembara untuk mencari sepatu tersebut pada keesokan harinya.

Esok hari, kelas James adalah kelas pertama yang mencari sepatu. Setelah guru di kelas James menceritakan tentang peristiwa hilangnya sepatu dan mengumumkan sayembara, James berlari ke sisi kantin di mana terdapat tumpukan pot bunga yang tidak terpakai. Saat aku mencari sepatu, aku tidak mencarinya sampai ke sana karena tidak pernah terpikir untuk mencari ke tempat itu. James berteriak kalau ia berhasil menemukan sepatu Keanu. Sebagai penanggung jawab kegiatan, aku bertanya pada beberapa anak untuk mengetahui bagaimana proses ditemukannya sepatu. Seorang anak mengatakan bahwa ia melihat Keanu langsung menuju pot di sebelah kantin dan mengambil sepatu dari sana.

Aku panggil James dengan alasan ingin mendengarkan cerita keberhasilannya menemukan sepatu. Senyum senang mengembang di wajahnya. Terjadilah tanya jawab seputar bagaimana ia menemukan sepatu Keanu. 

"Aku melihat sepatu Keanu kemarin di perpustakaan tapi kemudian sepatunya hilang. Keanu dimarahin sama kakeknya." Kata James.

"James tahu siapa yang mengambil sepatu Keanu?"

"Aku tidak tahu " jawab James.

James menjawab dengan nada bangga setiap pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan.
Aku juga menanyakan tentang apa perasaan Keanu ketika hilang sepatunya, saat dimarahi kakeknya, kemungkinan yang terjadi pada Keanu di rumah. Aku juga menanyakan apa yang terjadi pada pencuri itu, apa akibatnya untuk diri dan orang lain jika mencuri? Ketika James menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, nada suaranya mulai berubah menjadi tidak yakin, duduknya gelisah, dan matanya sering menatap ke arah lain. Sampailah aku pada konfrontasi yang kuceritakan di awal. Aku berkata pada James.

"James, Bu Raisya sudah tahu siapa yang mencuri sepatu Keanu. Ibu hanya ingin orang itu berkata jujur. Bu Raisya tidak akan marah. Hanya saja, Ibu perlu membicarakan lebih lanjut apa yang perlu dilakukan oleh pencuri tersebut untuk bertanggung jawab.Ibu juga harus mengatakannya pada guru dan orangtua anak itu agar dapat mengingatkan anak kalau mencuri itu tidak baik."

James diam. Matanya berkaca-kaca. Ia lalu berkata:

"Aku yang mencuri sepatu Keanu."
"Kenapa?"
"Karena Keanu pernah menyembunyikan sepatu aku."
"Kenapa James tidak jujur? James takut?"
"Iya."
"Pada siapa?"
"Mama. Aku takut Mama marah."
"Oke. Apa harapan kamu terhadap Mama?"
"Aku ingin Mama tidak marah padaku."
"Apa yang ingin kamu lakukan untuk mengganti kemarahan Mama?"
"Aku mau membantu Mama mencuci baju dan membantu mencuci mobil Bapak."
"Lalu apa yang mau kamu lakukan untuk bertanggung jawab karena telah mencuri sepatu?"
"Aku mau minta maaf ke Keanu."

Aku katakan bahwa aku menghargai kejujuran James tapi aku tidak menyukai perilaku mencuri yang dilakukannya. Dengan James, aku membahas tentang mencuri dan akibatnya. Kemudian, aku panggil Keanu. James mengatakan pada Keanu kalau ia yang mengambil sepatu dan meminta maaf pada Keanu. James memeluk Keanu.

"Aku nggak tahu kalau kamu yang mengambil sepatu aku. Kenapa kamu ambil sepatu aku?" Tanya Keanu dengan polosnya. Keanu memaafkan James. Ia menasihati James supaya tidak melakukan hal itu lagi. Masalah selesai. Ah.. dasar anak-anak. 

Pulang sekolah, aku panggil Mama James. James kuminta menceritakan pada mamanya apa yang terjadi, apa harapannya, dan apa yang mau dilakukannya. Mamanya mau menerima apa yang dikatakan James. 

Selalu ada alasan dibalik suatu kejadian dan anak harus tahu apa akibat dari yang dilakukannya. Disitulah fungsi orang dewasa. Memberikan wawasan dan pemahaman pada anak mengenai nilai benar dan salah. Bukan memberikan penilaian 'kamu salah/benar' tapi anak perlu menilai sendiri apakah yang dilakukannya 'benar/salah'. 

Ngomong-ngomong, aku jadi ingat kalau aku juga harus melakukan konfirmasi pada Keanu apakah benar ia pernah menyembunyikan sepatuJames. Aku benar-benar lupa.


#14DaysofInspiration, #iwritetoinspire, kejujuran
Bandung, pada malam hari saat hati sedang galau.

16.7.13

Sendal Jepit Baru

Hari ini adalah hari keempat aku mengikuti suatu pelatihan. Setiap pagi, peserta dan panitia selalu ditanya apa perasaan hari ini. Begitu juga ketika selesai pelatihan. 

Pagi ini, sang trainer kembali bertanya apa perasaan kami hari ini. Aku, dengan bahagia mengatakan:

     "Hari ini aku merasa lega sekali karena pagi ini, sebelum pergi ke sini, akhirnya aku berani meminta maaf pada kakakku atas kesalahan yang kulakukan berpuluh-puluh tahun lalu." 

Selain perasaan lega, hati ini rasanya bahagia. Waktu aku kecil, aku menangis karena ingin sekali mempunyai sendal jepit baru. Sendal jepit! Ibuku tidak punya uang untuk membeli yang baru. Saat itu hujan turun dengan derasnya. Aku tidak mau tahu, pokoknya aku ingin sendal baru, begitu pikirku. Kakakku, dengan berhujan-hujanan, mencuci sendal jepit lama di sumur di samping rumah. Ia lalu datang lagi kepadaku. Rambutnya basah. Kakak membawa sendal. Ini sendal baru, kata kakakku. Sambil menangis, aku menolak sendal itu karena aku tahu sendal itu bukan sendal baru. 

Sesudah aku beranjak besar, aku masih teringat dengan peristiwa itu. Aku merasa bersalah. Perasaan yang saat kejadian itu tidak aku rasakan. Aku merasa bersalah karena membuat kakakku harus berbasah-basahan mencari 'sendal baru'. Trenyuh setiap kali mengingatnya. Meminta maaf sangat ingin aku lakukan, tapi aku tidak berani. Sampai hari ini, aku sedang memakai sepatu sebelum pergi pelatihan. Aku dan kakakku berbicara tentang 'masa dulu'. Saat itulah aku meminta maaf atas kesalahanku waktu itu. 

Ya, hari ini aku merasa lega dan bahagia karena berhasil mengatakan 'maaf' pada kakakku. Saat aku menceritakan ulang kejadian itu, kakakku bertanya:
     
     "Yang mana, sih?"

Ia benar-benar lupa kejadian itu! Perasaan bersalah kutanggung setiap kali mengingatnya padahal kakakku sendiri tidak ingat kejadiannya. Yang pasti, aku makin sadar bahwa kakak benar-benar sayang padaku.


#14DaysofInspiration
사랑 해요, 언니!

Surat Untuk Kei

Hai, Kei.
Apa kabar? Aku senantiasa berdoa agar kamu baik-baik saja. Kei, bagiku, kamu  adalah orang yang dermawan dan tanpa pamrih pada siapa pun. Kamu siap menolong. Bukan saja terhadap keluargamu, teman-temanmu, bahkan pada orang yang baru kamu kenal. Sebagai perantau dari pulau paling timur Indonesia, kamu begitu terbuka dengan orang-orang yang berasal dari pulau yang sama, apalagi jika berasal dari kota yang sama. Kamu anggap mereka saudara. Padahal, sama sekali tidak ada hubungan darah. 

Kei, apakah kamu ingat? Kami (aku dan Candra) pernah berencana membuat kamu marah karena kami tidak pernah melihatmu marah. Sekalipun ada teman yang mengambil keuntungan darimu, kamu tenang saja. Aku ingat perkataanmu pada kami waktu itu.

     "Sudah, sudah. Tuh, kan. Aku sebenarnya nggak ingin cerita pada kalian. Kalau cerita, kalian pasti marah. Benar, kan?"

Benar, Kei. Aku dan Candra tidak rela melihat orang lain 'mempergunakanmu'. Teman-temanmu sering menggunakan printer tanpa mengganti, memakai barang-barangmu, bahkan belanja dengan uangmu. Tapi, kamu tidak pernah menganggap hal itu sebagai masalah. Kamu terlalu baik pada orang lain, Kei.

Kei, kamu ingat boneka ikan berbibir tebal berwarna biru hadiah ulang tahun darimu? Sekarang masih ada di kamarku. Aku sengaja memasangnya karena aku ingin selalu mengingatmu. Kamu terlalu baik untuk dilupakan.

Kei, kita semakin jarang berbincang satu sama lain. Selain kita berjauhan, sekarang kita memiliki kesibukan yang berbeda. Bukan lagi anak kuliahan yang saling menginap di tempat kos masing-masing, mengerjakan tugas kelompok, mengejar-ngejar dosen, memesan mie rebus/goreng, atau pergi ke mall yang jaraknya satu setengah jam perjalanan dari tempat tinggal sementara kita. Kita bukan lagi anak kos yang bermimpi membuat terowongan dari tempat kosku ke tempat kosmu karena seringnya kita bersama-sama. Dari jejaring sosial, aku tahu kegiatanmu banyak saat ini. Aku terkesan dengan itu. Kamu benar-benar mengaktualisasikan dirimu. Mengajar, memberikan pelayanan, melakukan kegiatan sosial yang kamu lakukan semakin menunjukkan jiwa sosialmu. Itu adalah kamu yang sebenarnya. Aku sendiri tidak menyangka bahwa kamu akan sibuk sekali. Tapi, itulah kamu. Temanku yang baik hati.

Kei, semoga kamu selalu diberikan kesehatan supaya kamu tetap dapat berbagi dengan siapa saja. Semoga, kamu bisa datang ke Jakarta atau Bandung supaya kita dapat bersua lebih lama. Tidak hanya sekedar pertemuan singkat di bandara, atau makan mi dan es alpukat di Linggarjati. Aku tidak berharap bertemu denganmu karena kamu harus berobat di Jakarta seperti beberapa waktu lalu. Aku berharap saat kita bertemu, kamu benar-benar dalam keadaan sehat. Orang-orang yang kamu tolong pasti mendoakan kesehatanmu karena kamu benar-benar baik.

Sampai bertemu kembali, Kei
 Iin

#14DaysofInspiration
Untuk 'Kei' nun jauh di sana. Tidak sabar menunggu kabar kedatanganmu, Kei.

14.7.13

Bahagia Itu Sederhana



Entah siapa yang pertama kali menggulirkan kalimat ini, tapi aku suka, sangat suka:

                       "Bahagia itu sederhana."

Ya! Bahagia itu sederhana, simple, nggak neko-neko
Aku sebal dengan orang-orang yang selalu mengeluh. 
Mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah. 
Kenapa tidak mencoba membahagiakan diri sendiri saja?

Bahagia itu sederhana. 
Ketika aku senang, aku telepon keluargaku.
Ketika aku kesal dan sedih, aku pesan talkmania seharga Rp. 2000 untuk menelepon temanku dan berbicara panjang lebar.
Ketika ada yang berulang tahun, kuucapkan selamat ulang tahun.
Ketika aku punya sesuatu, aku berbagi.
Ketika supir angkot mengambil bayaran lebih banyak dari biasanya, kuikhlaskan saja. Niatkan saja beramal.
Ketika teman mengajak main dan aku bisa, kuiyakan.
Ketika ada yang memberi komentar di facebook atau reply di twitter, kubalas komentarnya dan me-reply
Ketika ada yang berdoa baik untukku, aku aminkan (semoga terkabul). 
Ketika ada yang menggosipkanku, aku aminkan kalau gosipnya baik. Kalau gosipnya buruk, aku berdoa semoga aku mendapat banyak rejeki dan dia diampuni dosanya.

Bahagia itu sederhana.
Aku bahagia ketika aku tidak punya hutang.
Aku bahagia ketika aku bisa menabung walaupun sedikit.
Aku bahagia ketika kulihat angka di tabungan yang bertambah (walaupun pada akhirnya diambil lagi).
Aku bahagia ketika bisa menolong orang lain.
Aku bahagia ketika tugas-tugasku selesai.

Bahagia itu sederhana.
Kubersyukur dengan apa yang kudapatkan.
Kurancang mimpi-mimpiku.
Kukejar harapan-harapanku.
Kuhadiahi diriku sendiri.
Kusisihkan waktu untuk diriku.
Kusisihkan waktu untuk kesenanganku.
Kubuat rencana untuk bahagia.
Aku juga berhak bahagia, kan?

Kalau kamu? 
Kamu juga berhak bahagia.
Apa yang membuat dirimu bahagia?


#14DaysofInspiration, hari ke-5: happiness

Panti Jompo

Chantigi salut pada Karindra karena jiwa sosialnya yang tinggi. Bagaimana tidak, setiap bulan, Karindra selalu pergi ke panti jompo. Panti jompo yang berbeda-beda. Chantigi beberapa kali pernah ikut dengan Karindra. Di sana, Karindra mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci baju penghuni, membersihkan kamar, menyuapi kakek-nenek yang sudah sangat renta, mengobrol, membacakan cerita, menunggui nenek-nenek sampai tertidur, dan lain sebagainya. Ia tidak merasa riskan dengan kamar yang beraroma pesing dan balsem. Karindra tetap tersenyum dengan omelan penghuni yang kadang tidak jelas ditujukan pada siapa dan penyebabnya apa. Ia tetap sabar melayani mereka. Sementara Chantigi berusaha keras menahan dirinya supaya tidak muntah karena aroma-aroma itu.

Pertama kali Chantigi ikut ke panti jompo, ia tidak bertanya apa-apa pada Karindra. Sampai ia menemukan bahwa Karindra sering mengunjungi berbagai panti jompo yang berbeda di mana pun ia berada termasuk saat ia berlibur atau bekerja ke luar kota. Karindra akan melakukan hal yang sama di semua panti jompo. Keheranan mengusik Chantigi dan membuatnya ingin tahu apa motif sebenarnya di balik itu.

     "Kenapa kamu suka sekali pergi ke panti jompo?" Tanya Chantigi suatu ketika.
     "Hanya ingin berbagi," jawab Karindra. 

Setidaknya, apa yang dilakukan Karindra berpengaruh juga pada Chantigi. Ia jadi sering ikut pergi dengan Karindra. Bagus, kan?
                                                          
                                                              *** 
Suatu malam, Chantigi dan Karindra sedang menonton televisi di rumah kos mereka. Stasiun televisi yang mereka tonton menayangkan berita tentang gempa bumi yang kembali mengguncang Aceh. Chantigi langsung melihat Karindra. Karindra menatap layar kaca tanpa teralih. Wajahnya pucat, raut mukanya tegang, dan air mata meleleh di pipinya. Chantigi bertanya apakah ia perlu memindahkan saluran televisi?  Karindra tidak menjawab, tapi ia menggangguk. Aceh adalah tempat asal Karindra. Hanya itu yang Chantigi tahu. Karindra menutup diri tentang diri dan keluarganya. Ia tidak bercerita banyak kecuali bahwa ia berasal dari Aceh. Chantigi memindahkan channel televisi ke acara lain. 

Karindra menyusut air matanya. Tiba-tiba saja, Karindra berbicara tanpa diminta atau pun ditanya oleh Chantigi. Gempa bumi mengingatkan Karindra pada bencana tsunami yang melanda Aceh. Kampungnya porak-poranda. Rumahnya tak bersisa. Ia kehilangan kontak dengan nenek dan kakeknya, keluarga yang selama ini membesarkannya. Ayahnya sudah meninggal ketika ia kecil. Ibunya meninggalkannya setahun setelah ayahnya 'pergi'. Karindra sudah mencari ke mana-mana tapi kakek dan neneknya (bahkan jasadnya jika mereka sudah meninggal) tidak juga ditemukan. 

     "Aku sering ke panti jompo dengan harapan bertemu Kakek dan Nenek, jika mereka masih hidup. Membantu panti jompo adalah caraku menghormati Kakek dan Nenek. Bentuk bakti dan ucapan terima kasih yang belum sempat kuberikan pada Kakek dan Nenek. Aku  merasa dekat dengan Kakek dan Nenek ketika aku berada di panti jompo." 

Karindra kembali menghapus air matanya. Chantigi terdiam. Ia teringat pada ayah, ibu, kakek, dan neneknya. Ia belum pernah melakukan 'penghormatan' pada mereka. Seharusnya ia banyak bersyukur karena keluarganya masih lengkap.


#14DaysofInspiration, hari ke-4: respect.

13.7.13

Buah Mangga dan Seekor Kupu-kupu

Di halaman rumah bercat kuning gading, tumbuh sebatang pohon mangga dengan buah yang lebat. Saat itu, buah mangga sedang berbincang-bincang dengan seekor kupu-kupu yang hinggap di ranting pohon mangga. Mereka membicarakan tentang penghuni rumah.

     "Ga, siapa yang kau senangi dari penghuni rumah itu?" Tanya Kupu-kupu pada Mangga.
     "Aku suka dengan Sarah. Ia baik padaku, sering menyiram pohonku dan menyapu dedaunan yang jatuh, " kata Mangga. "Kalau kamu?" Mangga balik bertanya pada Kupu-kupu.
     "Aku senang dengan Kayla, kakak Sarah. Ia rajin merawat bunga-bunga di taman. Jadi bunga-bunga tumbuh subur. Aku punya stok makanan yang banyak. Lihatlah, badanku jadi gemuk, kan?" Jawab Kupu-kupu.
     "Mereka orang-orang yang baik, ya. Aku berharap Sarah selalu merasa senang," kata Mangga.
     "Aku juga ingin Kayla bahagia," kata Kupu-kupu.

Mereka masih terus membicarakan Kayla dan Sarah, dua anak pemilik rumah kuning gading. Angin sepoi-sepoi menyapu pohon mangga. Mangga dan Kupu-kupu pun mengantuk dan akhirnya tertidur.

                                                                   ***

Suatu hari, Sarah dan Kayla sedang berada di bawah pohon mangga.
     "Kak, aku ingin buah mangga yang itu." Telunjuk Sarah mengarah pada Mangga.
     "Masih mentah, Sarah. Lebih enak kalau mangga itu sudah matang, " Kata Kayla pada adiknya, Sarah.
     "Berapa hari lagi, Kak, mangga itu bisa diunduh?" Tanya Sarah.
     "Dua minggu lagi baru bisa dipanen. Sabar, ya." Kayla 

Ternyata, Mangga dan Kupu-kupu yang sedang berada di atas mereka, mendengar pembicaraan dua saudara tersebut. 
     "Lihat, Sarah ternyata menginginkan aku! Aku mau memberikan diriku untuk Sarah!" Teriak Mangga senang.
     "Sabar, Ga. Kamu masih belum matang. Sarah pasti akan senang kalau memakan mangga matang." Kata Kupu-kupu.
     "Tapi aku ingin menyenangkan Sarah." Bantah Mangga.
     "Segala sesuatu ada waktunya, Ga. Bersabarlah dulu." Kata Maggie

Mangga terdiam. Ia mengamati Sarah. Mangga benar-benar ingin membuat Sarah bahagia.

                                                                 ***


Setiap hari Sarah mengamati Mangga. Ia ingin segera mencicipi Mangga. Sebenarnya,  Manggaingin menjatuhkan diri agar Sarah bisa memakannya. Namun, Kupu-kupu selalu menyuruhnya bersabar. Sampai suatu ketika, Mangga benar-benar merasa tidak tega. Ketika angin kencang bertiup, Mangga ikut menggoyang-goyangkan badannya dengan keras supaya jatuh. Beberapa kali ia mencoba melepaskan diri dari ranting pohon di mana ia terikat, dan akhirnya Mangga berhasil membuat dirinya jatuh. 

Sarah yang saat itu sedang menyapu halaman merasa senang karena mangga yang ditunggu-tunggunya terjatuh. Ia membawa Mangga ke dalam rumah. Tidak berapa lama kemudian, ia keluar sambil membawa sepiring mangga. Daging buahnya berwarna agak kekuningan. Sarah mengambil sepotong irisan mangga. Ketika ia memakan irisan buah mangga itu, Sarah mengernyitkan mukanya. Matanya terpejam dan mulutnya meringis. Ia mengeluarkan lagi buah mangga yang sedang dikunyahnya. Kayla yang baru datang dari sekolah bertanya pada Sarah.

     "Kenapa, Sar? Rasanya tidak manis?" Tanya Kayla
     "Kecut banget, Kak." Kata Sarah sambil meringis.
     "Kan Kakak sudah bilang kalau mangga itu belum waktunya dipanen, " kata Kayla lagi.
     "Mangga ini jatuh sendiri, Kak,"  ujar Sarah. 
     "Oh...," kata Kayla. 

Sarah lalu membawa masuk sisa mangga yang masih banyak ke dalam rumah. Kupu-kupu yang sedang menghisap madu di salah satu bunga mawar berkata dalam hati. Aku kan sudah bilang pada Mangga, bersabarlah. Semua akan indah pada waktunya. Sekarang, Sarah bukannya senang malah jadi menggerutu karena rasa mangganya masam. Kupu-kupu lalu terbang ke bunga yang lain dan melanjutkan menghisap madu.

#14DaysOfInspiration hari ke-3.
Bandung di malam hari yang dingin.

downloadkumpulangambarkeren.com

11.7.13

Kesempatan Belum Tentu Datang Dua Kali

Di sebuah hutan, Kancil dan Kura-kura sedang berbicara.   

     "Tidak! Tidak! Aku tidak mau," teriak Kancil ketika Kura-kura mengatakan bahwa dirinya akan diangkat sebagai wakil raja hutan. 
     "Kamu sudah ditetapkan sebagai wakil raja hutan, Kancil." Kata Kura-kura.
     "Tidak Kura-kura, aku tidak mau. Sungguh, aku tidak mau," Kancil menyanggah ucapan Kura-kura dengan raut muka ketakutan. Ia begitu cemas ketika Kura-kura mengabarkan berita dari raja hutan.
     
Kancil kemudian menceritakan berita itu pada sahabatnya, si Kuda. 

     "Kenapa kamu tidak mau jadi wakil raja hutan?" Tanya Kuda.
     "Aku tidak siap." Ujar Kancil. "Aku pasti akan dituntut oleh raja hutan untuk melakukan sesuatu sedangkan hatiku masih berpihak pada rakyat. Kamu kan tahu kalau raja dan rakyat sering berselisih paham."
     "Padahal, kamu terima saja dulu. Kesempatan tidak datang dua kali," kata Kuda.
     "Tidak, tahun depan aku pasti terpilih lagi, dan aku lebih siap kalau tahun depan, " kata Kancil dengan percaya diri.
     
Setahun kemudian, raja hutan kembali memilih wakil raja. Apakah Kancil kembali terpilih? Ternyata tidak. Raja hutan memilih Kijang sebagai wakil raja. Bagaimana dengan Kancil? Kancil merasa kecewa. Ia sudah begitu percaya diri akan dipilih kembali. Tapi kenyataan berkata lain. Ia hanya bisa menyesali diri karena tidak berani untuk berkata 'ya'. Kancil juga menyesal karena tidak berani mengambil resiko. Dari kejadian itu, Kancil mengambil pelajaran bahwa ia tidak boleh sombong dan harus berani mengambil resiko. Ia juga belajar bahwa kesempatan mungkin tidak datang dua kali.  


#14DaysofInspiration
Bandung menuju tengah malam.

10.7.13

Lupa

Foto oleh Lupytha Hermin

Enam tahun lalu.

Aku pertama kali bertemu dengannya saat ia datang ke kamarku dan menanyakan arah kiblat. Oh.. anak kos baru, kataku dalam hati. Seiring waktu, kami sering bertemu. Sekedar berbincang atau diskusi mengenai kesukaan kami yang kebetulan sama. 

Andara namanya. Perempuan mungil dengan kulit coklat dan wajah manis. Memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dan kecepatan dalam mempelajari bahasa asing selain bahasa Inggris. Terbuka dalam mengungkapkan perasaan melalui status facebook. Dalam sehari, ia menuliskan 'apa yang ia pikirkan' lebih dari aturan meminum obat. Suatu hari, ia berkata padaku. 
     
     "Aku ini bodoh, Kak."

Aku mengerutkan kening. 

     "Kenapa kamu berkata seperti itu?"
     "Lihat, teman-temanku. Mereka mudah sekali mendapat pekerjaan. Bisa ini itu dengan mudah. Sedangkan aku?"
     "Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, Ra."
     "Yang aku punya hanya kekurangan, tidak ada kelebihan." 
     "Kamu punya, hanya saja kamu belum mengenal diri kamu. Allah tidak akan menciptakan sesuatu tanpa guna."
     "Tidak, aku tidak punya kelebihan."

Esok harinya, kuberikan selembar kuesioner untuk Andara isi. Tujuannya sederhana, aku bermaksud mengajaknya 'mengenali' dan 'menyadarkan' dirinya bahwa ia punya kelebihan. Ternyata, tujuanku tidak 'kena'. Ia justru semakin terpuruk dengan hasil kuesioner yang ia isi.

     "Tuh, kan, aku orangnya seperti ini. Sama sekali tidak punya kelebihan." 

Aduh, aku salah langkah. Lama-lama aku sebal dengan pandangan Andara terhadap dirinya yang jauh dari pandangan positif. Sampai suatu ketika aku menyerah dengan usahaku agar Andara melihat 'dirinya'. Perjumpaan kami pun berakhir karena Andara harus kembali ke kota kelahirannya di Jawa Tengah. 

                                                            ***
Sekarang aku sedang menunggu seminar tentang belajar bahasa asing dengan mudah. Kata teman-teman yang mengajakku ikut, pembicaranya bagus. Oke, baiklah! Aku akhirnya mendaftarkan diri bersama mereka untuk ikut seminar. Suara pembawa acara sudah terdengar tanda acara akan segera dimulai. Aku pun memandang ke panggung. Aku terkejut ketika pembawa acara mengenalkan pembicara seminar ini. Andara. Pembicaranya Andara! Aku membaca brosur seminar ini. A. Razetha Mariana. Oh.. ternyata 'A' adalah Andara. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku merasa bahagia.

Saat break seminar, aku menghampiri Andara. Ia terkejut. 

     "Kak Sandra!" Ia menyebutkan namaku dengan binar-binar di matanya.
     "Tak disangka, ya, bisa bertemu di sini. Hebat kamu, Ra. Bisa menjadi pembicara. Selamat, ya, " kataku.
     "Kak, terima kasih." Mata Andara berkaca-kaca. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Andara kembali bicara.
    "Kalau dulu Kakak tidak memarahi aku, mungkin aku masih terpuruk dengan pandangan buruk terhadap diriku sendiri. Terima kasih sudah menyadarkanku, Kak."

Aku masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Andara.

     "Memarahi kamu?"
     "Kakak, masa Kak Sandra tidak ingat kalau dulu Kakak pernah marah padaku. Waktu itu, Kakak berkata kalau hal pertama yang harus aku lakukan adalah harus percaya bahwa aku punya kelebihan. Ya, Kak. Sejak Kakak marah, aku percaya bahwa aku bisa. Itulah yang membuatku jadi seperti sekarang ini. Terima kasih, Kakak."

Andara memelukku. Aku sendiri masih tidak ingat dengan apa yang kuucapkan pada Andara lima tahun lalu. 


#14DaysofInspiration

Bandung, di malam hari. 
Untuk temanku di sana, percayalah, kamu punya kelebihan. Hanya saja kamu belum menyadarinya. 

5.5.13

Pesawat

Aku berada di pesawat dari Denpasar menuju Jakarta. Setelah mendengar berita kecelakaan Lion Air kemarin sore, aku sedikit was-was untuk naik pesawat. Ditambah lagi dengan hujan lebat yang mengguyur kota ini disertai angin dan guntur yang menggelegar sejak subuh.Untunglah, sampai di bandara Ngurah Rai hujan reda. Mendung masih menggantung. Mudah-mudahan perjalanan lancar sampai tujuan, gumamku dalam hati. Tak ada delay untuk penerbanganku. Syukurlah. Kalau delay, rencanaku bubar semua.

Pilot sudah memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat take off. Jadi para penumpang diminta untuk mengencangkan sabuk pengaman dan mematikan ponsel. Penumpang di sebelahku mulai berdoa. Ah..buat apa berdoa, pikirku. Kuambil majalah dan mulai membaca. Pesawat mulai terbang dan melayang di udara. Cuaca masih mendung. Pesawat agak berguncang-guncang. Orang di sebelahku semakin khusyu berdoa. Untuk apa berdoa seperti itu? Pastilah selamat. Sekarang kan sudah canggih, kataku dalam hati. 

Orang di sebelahku sudah melepaskan seat belt-nya. Lho.. tandanya kan masih menyala. Aku ingin memberitahukannya tapi lidahku kelu. Tidak ada satu pun kata keluar dari mulut ini. Lima belas menit sejak take off, tanda seat belt masih menyala. Aku melirik bangku depan dan sebelah kanan gang kursi penumpang. Kenapa tanda seat belt mereka sudah mati? Orang yang berada di sebelah kananku sudah membaca buku. Bahkan orang yang berada di sebelahnya lagi sudah berdiri dan berjalan menuju toilet. Awak pesawat sudah membawa-bawa troli makanan.

Kenapa tanda seat belt di depanku masih menyala? Kenapa hanya punyaku? Kurasakan guncangan pesawat. Di luar langit masih mendung. Aku melihat keadaan di dalam pesawat. Semua berjalan seperti tidak ada apa-apa. Tapi mengapa aku merasakan guncangan begitu keras? Akhirnya aku memutuskan untuk berdoa, kegiatan yang tadi kucemooh. Tapi tak satu pun doa kuingat. Sudah lama aku tidak berdoa. Aku mulai cemas. Aku membayangkan jika pesawat ini jatuh, sudah pastilah aku hancur. Aku mengumpulkan ingatanku. Ingatan tentang doa-doa dan ayat-ayat suci yang pernah aku baca dan hafalkan. Dulu, dulu sekali ketika aku kecil. Ya Allah, tidak ada yang kuingat sedikitpun. Aku pejamkan mataku. Konsentrasi Renata, konsentrasi. Kamu pasti bisa, kumotivasi diri sendiri. Keringat mulai bercucuran. Kecemasan semakin meningkat. Guncangan tak sekalipun mereda. Bahkan semakin keras. Aku tidak berhasil memanggil kembali ingatanku tentang doa-doa dan ayat-ayat suci. Aku pasrah. Kusebut-sebut nama Tuhanku. Ya, hanya nama Tuhanku yang aku ingat. Aku mulai menangis. Ada ketakutan yang amat sangat. Kusebut-sebut nama Tuhan, pencipta diriku dan alam semesta. Aku menangis karena terbayang dosa-dosaku. Betapa aku selama ini melupakan diri-Nya. 

Pasrah. Sekarang aku pasrah. Apa pun yang terjadi, kuserahkan hidupku pada-Nya. Ketenangan mulai kurasakan. Kulihat sekeliling. Tidak ada keanehan, kepanikan, kecemasan. Semua tenang. Kenapa hanya aku saja yang merasakan? Kupejamkan mataku. Kusebut nama Allah. Guncangan kurasakan mulai berkurang. Pesawat tenang kembali. Kubuka mataku. Matahari mulai muncul di balik awan. Aku mengucap syukur tak henti-hentinya. Kuusap air mataku. Ya Allah, apa yang terjadi denganku? Kuedarkan pandangan. Semua berjalan seperti biasa. Tenang. Orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. Awak pesawat masih berkeliling menawarkan makanan dan mengantarkan pesanan. Apa yang terjadi padaku? Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, aku mengerti bahwa aku tidak bisa melawan Tuhan.

14.4.13

'Dilayukan' Sebelum Berkembang

Usia 16 tahun lebih sekian bulan. 
Aku benci sekali ketika bangun di pagi hari ini. Minggu ospek masih berlangsung. Jam masuk sekolah tiba-tiba menjadi sangat pagi. Pukul 5.30 harus sudah di sekolah, tidak  boleh diantar, harus begini, begitu, dan begitulah. Capek! Belum lagi kalau sudah ada perintah dari panitia bahwa para murid baru harus ke aula. Ketahuilah, hai, Kawan! Akulah si murid baru beserta sekian ratus murid baru lainnya. Buatku, kata 'aula' yang sering disebutkan saat itu selalu berasosiasi dengan hal yang buruk. Sungguh buruk. Penuh dengan kecemasan. Ya! Kecemasanku. Aku benci ketika harus ke aula dan tingkat kecemasanku meningkat. Bagaimana tidak, di sana kami semua dibentak-bentak, dimarahi, ah.. pokoknya penyiksaan. Panitia jelas-jelas egois dengan peraturannya yang cuma ada dua pasal itu. Pasal 1 : Panitia tidak pernah salah. Pasal 2: Jika panitia salah, lihat pasal 1. Betul, kan, egois dan otoriter. Menyebalkan! 

Oh.. ternyata oh ternyata, tidak semua panitia yang notabene anak kelas tiga itu semuanya menyebalkan. Satu orang panitia menarik perhatianku. Bukan lelaki dengan tubuh tinggi yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler favorit di sekolah, tapi lelaki agak pendek (lebih tinggi dari aku) bertubuh gempal dengan kulit sawo matang. Entahlah apa yang membuatku menaruh perhatian padanya. Rasa suka kadang-kadang muncul tanpa diminta dan tanpa alasan. Betul? Termasuk rasa sukaku pada Mas Radya. Di sekolahku, adik kelas memanggil kakak kelasnya Mas dan Mbak. Maklum, daerah tempat tinggalku adalah daerah campuran antara Jawa dan Sunda tapi lebih kental Jawa-nya daripada Sunda-nya.

Dua bulan dari saat itu.
Rasa itu semakin kuat. Rasanya senang hanya melihatnya meskipun dari jauh. Serasa melayang ketika ia tersenyum padaku. Terkagum-kagum ketika ia bicara dengan matanya yang berbinar-binar. Menunggu saat-saat ia lewat di depan kelasku. Yang paling membuatku semakin kuat rasa sukanya adalah ketika dalam salah satu acara sekolah ia tampil. Bermain gitar dengan bagusnya. Oh, Tuhan, benar-benar lelaki impianku. Aku selalu memuja siapapun yang bermain gitar dengan apik. Kecuali pengamen jalanan yang menyanyi seadanya hanya karena target utamanya adalah mengumpulkan uang, bukan menghibur penumpang kendaraan umum. Tuhan, baru kali ini aku punya rasa yang kuat terhadap seorang lelaki di masa remajaku.

Tiga bulan setelah itu.
Aku melihat Mas Radya melewati lapangan basket. Jantungku berdebar-debar, mataku terasa (sepertinya) berbinar-binar. Ia tidak berjalan sendiri. Seorang perempuan bertubuh tinggi (melebih Mas Radya) kurus berjalan di sebelahnya. 

     "Itu Mbak Anne, pacarnya Mas Radya." Suara Litha tiba-tiba memecah kesunyian.
     " Oh, itu pacarnya." Aku sepertinya bisa mendapat piala citra. Kenapa? Karena aku menimpali dengan suara tenang sementara genderang bertalu-talu di dadaku. Hebat, kan?
     
     "Iya, katanya, sih, mereka pacaran dari kelas dua. " Litha berkata lagi. Aku belum pernah bercerita pada siapa pun (termasuk Litha) tentang perasaanku. Entahlah apa yang membuatnya menceritakan tentang Mas Radya dan Mbak Anne. Mungkin karena melihat aku memperhatikan mereka. 
     "Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulutku.
     "Mbak Anne itu kakaknya Laydia." 
     "Oh.." Kembali aku mengucapkan 'oh'. Laydia adalah teman kami tapi beda kelas. Sama-sama siswa baru di sekolah ini.

Kringg!!! Suara bel masuk membuat kami berbalik badan dan menuju kelas. Saved by the bell.

Aku terus mengagumi. Hanya berani memendam rasa suka karena tahu ia sudah punya pacar. Selama setahun kami satu sekolah, aku beberapa kali melihat ia tampil bermain gitar, sering melihatnya di sekolah, di kegiatan ekstrakulikuler, dan semuanya tertata rapi di hatiku. Ya, hanya di dalam hatiku. Waktu terus berjalan. Rasa sukaku sudah kutiup jah-jauh sejak aku tahu ia sudah punya pacar. Sepuluh tahun kemudian, ketika aku bertemu dengan teman-temanku, aku tahu bahwa Mas Radya sudah menikah dengan Mbak Anne. Tapi, saat itu, rasa sukaku sudah hilang tak berbekas.