Showing posts with label #친구. Show all posts
Showing posts with label #친구. Show all posts

28.1.18

-1 Menuju 0

Satu bagian di Nagoya University
#1
Dulu, aku sebut nama tempat ini saja kau tutup telinga.
Dulu, ketika kita melewati tempat ini kau marah-marah. Waktu kita sampai di depannya, kau buang muka. Sesudah itu, sepanjang hari aku harus mendengar omelanmu tentang betapa tempat kenangan itu ingin kau lupakan.
Sekarang, kenapa kau ajak aku ke sini?
Kau pesan makanan dan minuman yang dulu sering kau pesan. Menu favoritmu katamu.
Kau duduk dekat jendela. Tempat favoritmu dulu.
Kenapa?

#2
Kau lihat dua pohon di luar sana? Hijau dan kuning. Hijau akan berubah jadi kuning. Yang kuning akan rontok dan jadi gundul. Dunia berputar. Waktu selalu bergerak. Begitulah dunia bekerja. Bayangkan kalau pohon hijau menolak menjadi kuning. Yang kuning menolak rontok. Dunia akan kacau. Aku hanyalah manusia, yang pernah terluka, dan hanya bisa sembuh dengan berlalunya waktu. Bayangkan jika aku menolak waktu berputar. Kapan aku sembuh? Datang ke tempat penuh luka ini adalah gerakanku dari -1 menuju 0.

#3
Ia menyeruput kopinya. Matanya masih menatap dua pohon beda warna di luar sana. Aku terdiam mendengar ia bicara. Tak ada niat menanggapi, menyangkal, atau sekedar komentar. Aku hanya berharap, ia sembuh dengan segera. ****

Lokasi pohon dua warna: Nagoya University, Nagoya-Jepang.
Ditulis dalam rangka tantangan #30haribercerita #30hbc1828 #30hbc18bergerak
.
.
#nagoyauniversity #todayisalucKyday
#autumnlover #youareworthit #Keepyourheadup #createhappinessagoyauniversity #todayisalucKyday
#autumnlover #youareworthit #Keepyourheadup

22.8.16

Awan dan Angin

Suatu ketika, awan marah pada angin. Angin pun demikian. Setiap perkataan awan membuat angin marah. Kata-kata angin membuat awan marah. Tidak ada lagi cerita antara angin dan awan. Angin tidak pernah membawa kabar untuk awan tentang keadaan di bumi. Awan tidak pernah menceritakan keadaan langit pada angin. Awan tidak mengetahui apa yang dirasakan angin. Ketika ia berusaha untuk menyatakan perasaannya terhadap angin, keadaan justru semakin buruk. Padahal, harapan awan dengan berbicara, kesalahpahaman mereka akan selesai. Awan sedih. Angin semakin menjauh. Awan rindu dengan cerita-cerita angin. Awan rindu dengan semilirnya. Awan rindu dengan canda tawa mereka berdua. Dua sahabat itu jarang bertemu. Kalaupun bertemu, itu pun hanya sekilas. Angin hanya menebar semilirnya kemudian pergi mencari tempat sendiri. Hanya saja, angin sedang sibuk di tempat lain. Ajakan-ajakan awan kadang tidak bersambut. Untuk bertanya pada angin, awan tidak berani. Ia takut membuat angin marah. Awan menyesal suatu saat dalam kehidupannya. Ia tidak ingin berada dalam keadaan ini.

Kehilangan angin, sahabatnya, membuat awan gundah gulana. Ia yang semula seputih kapas menjadi kelabu bahkan hitam pekat. Awan menurunkan hujan karena kesedihannya. Ia tidak kuat menanggung titik-titik air yang semakin memberatkan tubuhnya. Namun, titik-titik air yang keluar dari tubuhnya tidak membuat perasaan awan menjadi ringan. Ia masih dilingkupi kesedihan kehilangan angin. Apakah angin memiliki perasaan yang sama dengan awan? Entahlah. Awan hanya berharap, mereka dapat saling berbicara terbuka seperti dulu. Awan sungguh rindu cerita tentang bumi yang sudah jarang ia dengar lagi. Apakah di bumi masih banyak pohon? Apakah di bumi masih ada air? Awan ingin bercerita pada angin bahwa di langit masih banyak bintang. Di langit masih ada bulan. Tapi, kesempatan itu tak kunjung ada. Angin seperti sudah tidak menganggapnya sahabat lagi. Awan ingin meminta maaf. Awan sudah meminta maaf. Tapi awan takut angin menyangka kalau awan mengungkit masa lalu. Tidak move on. Akhirnya, awan hanya bisa membiarkan saja. Ia tidak berharap ia dan awan berjalan bersama memandang bumi. Awan hanya berharap ia dimaafkan dan hubungannya dengan angin bisa membaik kembali. 

Hari ini angin mendatangi awan. Awan senang sekali. Setelah sekian lama awan tidak bersua dengan angin, awan kembali bercerita banyak pada angin. Angin menanggapi cerita awan seperti dahulu. Awan dan angin tertawa bersama. Awan bahagia. Ia berharap, ia dan angin dapat kembali saling bercerita. Cerita yang membuat malam-malam mereka ceria walaupun gelap di sekitarnya. Awan ingin tubuhnya seputih kapas kembali. Awan tidak ingin menjadi kelabu apalagi hitam pekat. Awan ingin bertanya pada angin," Maukah?" Awan ingin berjalan dengan angin menikmati bumi dari atas langit.

****

17.8.16

Selamat Ulang Tahun, Uci!

Dear ,Uci!
Tiba-tiba aja pengen nulis khusus untuk Uci. 
Sebagai hadiah ulang tahun. Hadiah yang telat.

Terima kasih, Ci, selalu jadi sahabat sampai detik ini.

Sahabat yang selalu menerima aku datang kapan pun aku ingin datang.  Entah di Jatinegara, atau pun di Cengkareng. Feel like own home always. Nyaman dan selalu diterima. Canda, tawa, cerita selalu ada. Jadi basecamp kumpul siapa pun teman atau sahabat yang lagi ada di Jakarta.

Sahabat yang bisa membuat ‘dinding’ aku runtuh.  Masih ingat percakapan panjang kita? Aku lagi makan di warung soto (yang sekarang warungnya udah pindah).

Sahabat yang membuat aku merasa disayang.
Sahabat yang selalu peduli.
Sahabat yang sudah seperti keluarga (selalu diajak ke mana-mana).

Terima kasih sudah membuat sebagian chapter hidupku berwarna.
Terima kasih sudah membuat aku merasa berharga.

Selamat ulang tahun, Ci. Semoga Uci dan keluarga selalu diberikan kesehatan.  Bahagia selalu dengan Mas Deni, Shafa, dan Fiori. Ceritakan foto-foto kita pada Fiori. Ceritakan tentang persahabatan kita. Semoga dia akan punya cerita seperti cerita kita. Shafa, dia sudah cukup besar untuk menyaksikan sendiri cerita persahabatan kita tanpa perlu story telling. Jangan pernah lupa. Uci punya aku untuk cerita. This too, shall pass. Kita pasti bisa melewati cerita hidup kita.

Love you, Ci.

*****

Kalau diingat-ingat, aku nggak ingat kapan kita mulai dekat. Teman satu kosan waktu kuliah jelas bukan. Teman main di kampus, bukan juga. Oh... kita pernah satu kelompok praktikum psikodiagnostik. Kadang-kadang main bareng ke Bandung. Naik angkot rame-rame. Tapi entah kenapa, sesudah lulus malah jadi sering bareng, ya.:-) 

10.4.16

Jangan Bilang 'Bye-bye', Ya.


Dear Lan,
Sedih...
Pada akhirnya kamu harus pulang.
Nggak ada lagi nonton drakor atau dorama bersama (dan aku ketiduran).
Nggak ada lagi ketawa-ketawa ngetawain IG yang lucu-lucu.
Nggak ada lagi baju bagus tapi murah (banget).

Terima kasih sudah menjadi bagian cerita kehidupan gembira aku. 
Terima kasih sudah menjadi teman, sahabat, dan keluarga.
Terima kasih sudah mengenalkan Yong dan lagu-lagunya Beast. Sebagai komposer, dia hebat banget (tapi masih dicari cakepnya sebelah mana). Kalau dengerin lagunya Beast, aku pasti inget Lan. Apalagi kalau bagiannya Yong.Tadi pas banget lagunya saat Lan pamit. Lagunya Beast, 비가 오는 날엔. Jadi aja (hujan) air mata.
Terima kasih sudah rela capek-capek nyariin baju-baju pesenan aku.
Terima kasih sudah berbagi gembira.
Terima kasih untuk setiap waktu yang sudah kau bagi bersama.
We are gonna miss you. Pasti.

Sampai ketemu lagi.
Kamu nggak mau kami bilang 'bye', kan? (Ingat, nggak? Kamu bilang itu di depan kamar Teh Defi waktu hari Sabtu pagi, "Jangan bilang 'bye-bye', ya. Bilangnya sampai jumpa.")
Semoga lancar di sananya. 
Sering-sering main ke Bandung. 
Kita putar Beast bareng-bareng.

Bandung, 10 April 2016

********
Perpisahan adalah bagian dari kehidupan. 
Tak bisa dipungkiri, perpisahan dengan sahabat pasti menyedihkan. 
But life is never flat. 
Datang dan pergi adalah natural.
Datang dan pergi adalah seleksi alam.
Tapi, biarkan hari ini aku menikmati kesedihanku karena pindahnya seorang sahabat.

31.12.15

Tapi Iin Nggak Pernah Ngucapin Natal Ke Gue

               Kalimat itu dilontarkan sahabat saya pada Hari Natal yang lalu. Saya tidak langsung menjawab. Tidak mau impulsif atau bersikap reaktif. Takut akan membawa dampak tidak mengenakkan buat kami. Buat saya, menjawab pertanyaan ini tidak semudah menjawab pertanyaan kenapa saya suka mengumpulkan snowball? Atau pertanyaan seperti “kenapa saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun atau Selamat Tahun Baru?” Saya harus hati-hati menanggapinya
               “Kalian nggak haram temenan ama gue (disusul stiker menangis)?” Ini awal mula percakapan saya dan sahabat saya. Saya masih di kereta api. Dua jam lagi baru sampai tujuan.
                “Apaan, sih? Lu abis baca apa?” Saya balik bertanya. Mungkin kalau berhadapan, suara saya terdengar kalem. “Pasti abis baca sesuatu,” tambah saya lagi (masih kalem).
                “Kan ngucapin Natal haram. Sama aja ngeharamin temen,” lanjutnya.
                “Kalau gue sih prinsipnya lakum diinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Artinya, kalau masalah ibadah itu masing-masing. Berteman dengan yang beda agama nggak masalah, tapi nggak akan ikut ibadah agama temen gue. Lu misa gue nggak akan ikut. Gue salat, gue nggak akan ngajak lu salat. Kalau berteman dengan non Islam haram, sahabat-sahabat gue nggak ada yang nonmuslim. Tapi gue punya (dan saya sebutkan sahabat-sahabat saya yang nonmuslim),” jawab saya.
                “Trus apa yang salah dengan ngucapin Selamat Natal? Ngucapin doang kan nggak berarti lu ngejalanin ibadah gue. Gue ngucapin Lebaran ke lu nggak berarti gue ngeyakinin agama lu. Gue ngucapin karena ngehormatin lu sebagai temen. Sahabat malah. Tapi Iin nggak pernah ngucapin Natal ke gue. Nah ini udah jadi masalah gue dari sejak sahabat gue SMA nggak pernah ngucapin. Gue diem-diem aja karena gue juga menghargai. Tapi itu gue rasain sebagai minotitas di sini. Gue ngerasa kalian nggak mengakui keberadaan kami. Even my best friend nggak mau mengakui keberadan gue, jati diri gue.”
                Cukup membuat saya harus berpikir keras menjawabnya. Saya tidak mau kehilangan sahabat saya karena masalah ini. Sampai dua jam kemudian saya tiba di tujuan, sampai di rumah pun, diskusi ini belum berakhir.  Dan baru kali ini saya mengalaminya.
                Berada dalam situasi di mana saya berada pada lingkungan majemuk (berbeda keyakinan) saya alami saat SMP, SMA, dan kuliah. Kuliah lebih beragam lagi. Beberapa sahabat saya nonMuslim seperti Kristen atau Katolik. Teman-teman saya selain Kristiani ada juga yang Hindu dan Budha. Berada  pada lingkungan yang majemuk membuat pengalaman saling menghargai saya dapatkan. Saya tidak suka kalau ada yang menjelekkan atau mencemooh agama teman-teman saya. Kenapa? Karena saya jarang dicemooh atau diejek oleh sahabat atau teman-teman saya yang nonmuslim. Pernah terjadi sekali ketika saya di SMP. Tapi pengalaman itu tidak begitu membekas dan bahkan lupa. Saya sering menginap di kosan sahabat saya yang Kristiani dan salat di sana. Ia tidak pernah melarang kamarnya dijadikan tempat salat. Setiap malam dan pagi hari ia berdoa dan membaca Alkitab. Saya tidak pernah mengusiknya. Itulah prinsip beragama yang saya jalankan. Lakum diinukum waliyadin. Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Saya menghormati orang yang berbeda agama untuk menjalankan ibadahnya. Saya tidak akan mengajaknya mengikuti saya ketika saya beribadah. Ketika dalam suatu kegiatan ada ibadah agama yang bukan saya anut, saya tidak akan mengikuti. Itu juga yang saya terapkan ketika momen Natal tiba. Natal adalah diyakini sebagai suatu perayaan keagamaan. Di dalamnya terdapat ibadah. Ada satu prinsip dalam agama saya yang tidak selaras dengan prinsip keyakinan mereka. Perbedaan prinsip itu yang membuat saya mengikuti prinsip yang saya yakini. Ketika Natal tiba, berbagai pendapat mengenai bagaimana hukum Selamat Natal pasti bermunculan di media sosial. Saya tidak pernah mengungkit hal itu. Saya tidak menyatakan sikap saya mengenai hal itu di media sosial. Mengapa? Karena saya tidak ingin mempeributkan hal tersebut. Ketika Natal tiba, ingin rasanya saya mengucapkan ‘Selamat Natal’ pada teman-teman Kristiani saya, apalagi sahabat saya. Tapi, saya hanya ingin menjalani apa yang saya yakini.
                Perbedaan keyakinan bukan berarti saya tidak menghargainya. Tidak mengucapkan Natal tidak berarti saya mengabaikan keberadaan dan jati diri teman-teman saya yang nonmuslim.  Bagi saya, kalian ‘ada’. Saya akui jati diri kalian. Saya akui keberadaan kalian. Kita hanya berbeda dalam prinsip hidup.
                Saya tahu bagaimana rasanya jadi minoritas. Betapa susahnya mencari tempat untuk ibadah (baca: salat) sampai saya harus nebeng di tempat-tempat makan, bahkan tidak layak. Betapa susahnya saya mencari makanan halal sampai kadang cuma makan nasi saja. Tapi itu saya jalani karena saya mengharapkan berkah Allah, bukan manusia. Saya bukan orang suci. Saya hanya berharap surga.
                Saya senang dianggap sebagai teman yang lebih dari sekedar teman (baca: sahabat) oleh sahabat saya. Saya senang sahabat saya terbuka tentang apa yang ia rasakan. Saya senang kita sering bersama meski beda keyakinan. Semoga kau (dan teman-temanku lainnya) bisa memahami apa yang saya rasakan dan kita tetap bersahabat.
                Dulu, saya pernah membaca salah satu cerita pendek di majalah remaja. Dulu sekali. Dan saya masih ingat ceritanya. Dua orang berbeda keyakinan yang saling bersahabat sejak mereka sekolah. Mereka masih tetap bersahabat sampai mereka kemudian berpisah. Suatu saat, mereka bertemu lagi. Yang muslim sudah menjadi hajjah, dan yang Katolik menjadi biarawati. Mereka masih tetap bersahabat. Entah kenapa, saya suka sekali dengan cerita itu. Sampai sekarang. Selamat Tahun Baru.


#curahan hati menuju pergantian tahun.
#kau tetap sahabat saya

30.12.15

Deja Vu

Pukul 11.30 siang. Matahari siang memanggang bumi.
                Damn! Aku mengutuk kemacetan ini. Tak ada yang mendengar tentu saja. Aku sendirian di dalam mobil. Kalau saja Ana, adikku, tidak datang hari ini, aku takkan keluar dan menghadapi kemacetan. Aku benci macet. Tapi aku harus keluar menjemput Ana di bandara. Ia pulang hari ini. memang, tidak biasanya aku melewati jalan ini. Alih-alih menghindari kemacetan karena libur yang berderet, aku malah terjebak ke dalam kemacetan yang semula ingin kuhindari. 
                Kulayangkan pandang ke sekeliling. Mobil berderet diam di depanku. Di sebelah kanan dan kiri juga sama. Dari kaca spion kulihat di belakang juga begitu. Kuhembuskan napas. Kedua tangan kuletakkan di atas stir. Menunggu.
                Syukurlah. Antrian sudah mulai maju. Aku menjalankan mobilku sekitar 2 kilometer sebelum kemudian terjebak lagi dalam antrian yang panjang. Entah kapan akan berakhir.      
                Damn! Aku mengutuk lagi dalam hati. Ana sudah tiba di bandara. Kembali kulayangkan pandanganku ke sekeliling. Aku tertegun. Di mana aku pernah melihat keadaan seperti ini? Apakah ini ilusi? Fatamorgana? Kubelalakan mata. Keadaan yang kulihat tetap sama. Berarti bukan ilusi. Kupejamkan mata dan kubuka lagi. Sama! Kututup lagi mataku. Kuhitung sampai 10 sebelum kubuka mata. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti sebelum aku menutup mata. Ada selintas ingatan yang muncul di benakku. Toko  besi di sebelah kananku. Di sebelah kiri toko besi ada kantor desain. Tulisan 10+ terpampang besar-besar di jendela kacanya. Di sebelah kanan kantor desain ada bank. Di sebelah kiri toko besi ada tanah kosong dengan warung tenda berdiri di atasnya. Tak ada aktivitas di sana. Hanya meja dan bangku panjang yang ditumpuk di atas meja. Kulihat antrian di depanku masih belum bergerak. Kucoba memanggil ingatan yang muncul tadi. Nihil. Aku menengok lagi ke sebelah kanan. Tidak berubah. Rasanya familiar. Kupejamkan mata rapat-rapat sambil menghitung lagi.
                Tet....tet....!
                Hitunganku mencapai 23 ketika suara klakson mengagetkanku. Seketika membuat aku membuka mata. Mobil di depanku sudah berjalan sekitar  5 meter. Aku cepat-cepat menjalankan mobilku sambil melihat ke arah kanan. Deretan bangunan di sebelah kananku tidak berubah. Dan warung itu.... tetap ada di sana. Di mana aku pernah melihat hal yang sama? Toko bangunan, kantor desain, bank, dan ..... sebuah warung. Apakah aku sering  melewati jalan ini? Tidak! Baru kali ini aku lewat ke sini. Tapi rasanya aku pernah melewatinya. Sering malah. Tapi kapan? Di mana? Kapan aku pernah ke sini? Ataukah aku mengalami deja vu?
                                                                     ***
                “Kenapa? Dari tadi diam sambil mikir gitu.” Ana bertanya padaku dalam perjalanan pulang dari bandara.
                “Deja vu.”
                “Apa?” Suara Ana terdengar heran.
                “Deja vu. Aku mengalami deja vu,” aku berkata pelan.
                “Deja vu apa?”
                “Ah.. sudahlah. Kenapa tadi delay?” Aku mengalihkan pembicaraan.
                Deja vu. Ya. Deja vu.  Kata itu berkeliaran di dalam kepala. Aku masih terus memikirkan jalanan yang kulewati tadi. Pun di rumah sesudah menjemput Ana. Di mana aku pernah melihat hal yang sama seperti ‘pemandangan’ saat perjalanan ke bandara?
                Ingatan itu masih terpikirkan sampai aku tertidur. Warung itu muncul di dalam mimpiku. Alam bawah sadar sialan!
                                                                      ****
                Hari ini aku kembali melewati jalanan sewaktu aku menjemput Ana di bandara. Penasaran. Bangunan dan urutannya tetap sama seperti seminggu lalu. Bedanya, bank yang seminggu lalu  tutup sekarang sudah buka. Aku tak juga bisa memanggil memori tentang urutan bangunan yang mengganggu pikiranku seminggu ini. Termasuk warung itu.
                Baiklah... aku menyerah. Kulewati deretan bangunan itu dengan satu tekad: lupakan saja! Kulayangkan warung tenda yang minggu lalu kosong. Sekarang ada kesibukan di sana. Lotek Ceu Edoh.  Lotek Ceu Edoh! Lotek Ceu Edoh tertulis di kain penutup warung. Tiba-tiba, ingatan yang enggan muncul beberapa hari ini bermunculan.  Seperti air yang keluar dari kran. Mengucur deras.
                Perih. Seiring dengan ingatan yang bermunculan, rasa perih itu muncul menyeruak mengganggu metabolisme mentalku. Sialan! Aku pun kembali menjadi pengumpat.
                                                                     ****
                “Selamat ulang tahun, Vira. Semoga, sehat, banyak rejeki, bahagia terus bersamaku,” Danis menyalamiku.
                “Terima kasih,” aku menyambut uluran tangannya dengan bahagia. Tangan yang sudah bertahun-tahun menjadi penyambung hidupku. Tangan yang memegang harapanku agar ia bisa terus menjadi pendamping hidupku. Belum! Ia belum jadi suamiku. Tapi, tak bisa kupungkiri. Bersamanya, hidupku terasa lengkap. Akan lebih lengkap lagi jika aku bersanding dengannya di depan altar. Sudah sering pikiran itu terlintas tapi kami tak jua membicarakannya dengan serius. Biarlah. Aku tak ingin kehilangan saat-saat bahagiaku bersamanya.
                “Ke tempat biasa?” Danis bertanya padaku. Kuanggukkan kepala. 
                “Let’s go!”
                Kami pun masuk ke dalam mobil dan menuju ‘tempat biasa’. Jangan! Jangan berpikir macam-macam. Tempat biasa kami adalah sebuah warung makan di pinggir jalan di Lembang. Sebelah kanannya terdapat toko bangunan. Sebelah kanannya lagi ada satu kantor desain, dan kemudian bank. Nama kantor desainnnya berbeda, tapi nama bank-nya sama. Warung itu sebuah warung lotek. Rasa loteknya biasa. Tidak sangat enak sehingga kami rela menempuh jarak jauh hanya untuk merayakan ulang tahunku atau ulangtahunnya. Bukan candle light dinner romantis di restoran, ucapan selamat disertai setangkai bunga dan kartu, atau surprise tengah malam. Bukan makan mie seperti orang Cina atau makan sup rumput laut seperti orang Korea. Suatu ‘kebiasaan’ yang tidak biasa untuk merayakan ulang tahun. Ditraktir lotek. Yang menjadikan makan lotek pada ulang tahun kami sebagai sesuatu hal yang istimewa adalah kami berdua. Danis menyatakan cintanya di warung itu 5 tahun lalu. Saat kami sedang kelaparan dan menemukan warung itu dalam perjalanan menuju Gunung Tangkuban Perahu bersama teman-teman satu fakultas. Tidak romantis. Memang! Sangat tidak romantis. Tapi, aku adalah orang yang menurutku paling bahagia pada hari itu.
                Sejak saat itu, setiap kami berulang tahun (aku atau Danis) kami akan ke Lembang, makan di warung itu, dan mengingat kembali awal kami jadian.
                Hari ini genap 6 tahun hubunganku dengannya. Cukup lama. Tapi tetap saja, belum ada dari kami yang membicarakan pernikahan. Biarlah. Toh aku masih menikmati hubungan kami. Begitu pula Danis. Putus nyambung pernah terjadi. Tapi alasannya bukan karena topik ‘pernikahan’.  Lebih banyak karena kecemburuan. Suatu hal yang biasa, kan?
                “Vir, duduk di sini,” Mama memanggilku suatu malam.
                Mendengar nadanya saat ini, aku tahu, yang akan dibicarakan adalah masalah serius. Aku bisa membedakan nada suara mama jika akan membicarakan hal yang serius dan yang tidak. Aku duduk di depan Mama.
                “Apa rencanamu dengan Danis?” Straight to the point. Tanpa basa-basi, Mama bertanya padaku. Aku tidak tahu apa yang akan Danis katakan kalau Mama menanyakannya langsung padanya. Ini saja sudah cukup membuatku gelagapan walaupun sudah mengira sebelumnya.
                “Ee....ee... Belum tahu, Ma.” 
                “Sudah cukup lama kan, kalian pacaran?”
                “Iya.”
                “Untuk apa kalian pacaran kalau tidak untuk menikah?”
                “Kami belum membicarakan tentang itu.”
                “Lalu kapan? Kalian tidak akan menikah?”
                “.......” Aku diam. Belum tahu mau menjawab apa.
                “Vir?”
                “Siapa sih yang nggak ingin menikah, Ma?”
                “Lalu, kapan?”
                “Ma....”
                “Besok, minta Danis datang ke sini. Mama mau bicara.”
                “Bicara apa, Ma?”
                “Mama mau tanya padanya. Serius nggak dia sama kamu.”
                “Seriuslah, Ma.”
                “Kalau serius, kenapa sampai sekarang dia tidak melamar kamu?”
                Aku diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
                “Besok, atau tidak sama sekali.”
                “Ma!”
                Mama pergi meninggalkan aku yang masih terdiam di sofa.
                                                                     ****
                “Hai! Belum tidur?” Suara Danis di ujung sana
                “Belum ngantuk. Ehmmm... Dan.....”
                “Kenapa?”
                “Ehmmm... Mama meminta kamu datang besok.”
                “Ada apa?”
                “Ehmmm....” Aku masih menimbang-nimbang. Bicara jujur atau pura-pura tidak tahu.
                “Vir?”
                “Tadi Mama nanya kalau kita serius nggak.”
                “Ya..seriuslah.”
                “Syukurlah kalau begitu.”
                “Kenapa?”
                “Mama tanya, kapan kita nikah,” akhirnya aku katakan juga apa yang Mama tanyakan.
                “......”  Tidak ada suara di ujung sana.
                “Dan!”
                “Ya.”
                “Kamu besok ke sini jam berapa?”
                “Ehm... besok aku ada meeting. Belum tahu sampai jam berapa. Lihat besok saja.”
                Deg! Kenapa Danis menjawab seperti itu? Apakah memang dia tidak punya niat sedikit pun untuk datang menemui Mama? Selama ini, Danis memang jarang ke rumah. Kalau Mama atau Papa mengajak berbincang-bincang, Danis seperti gelisah. Lalu, dia akan mengajakku pergi dari rumah. Aku pernah bertanya padanya tentang hal itu. Segan. Itu jawabnya. Toh kemudian aku tidak pernah mempermasalahkannya. Lebih sering aku yang mengunjungi mamanya daripada Danis mengunjungi keluargaku. Aku kenal dekat mamanya. Bahkan sering beliau memintaku menemaninya belanja.
                “Vir!” Suara di seberang menyadarkanku dari lamunan tentang kami.
                “Ya.”
                “Sudah malam. Tidur!”
                “Oke. Selamat tidur.”
               Kuletakkan ponselku di kasur. Aku masih memikirkan jawaban Danis. Malam itu aku bermimpi. Kami menikah dan.... Danis meninggalkanku di altar.
                “Mimpi sialan!” Aku mengumpat. Kulempar selimut dan pergi ke kamar mandi. Hari ternyata sudah siang.
                                                                     ****
                “Jam berapa Danis ke sini?” Mama bertanya sesampai aku di rumah sepulang kerja.
                “Dia ada meeting, Ma. Belum tahu bisa ke sini atau tidak,” jawabku.
                “Mama akan tunggu sampai dia datang. Tak peduli jam berapa.”
                “Ma!”
                “Kalau dia tidak ke sini hari ini berarti stop.”
                “Apa itu artinya?”
                “Kamu dan dia, end!”
                “Ma!”
                “Berarti dia tidak serius. Tidak usah saja.”
                “Ma!”
                Tiba-tiba aku merasa pusing. Selama hubunganku dengan Danis, tidak pernah aku merasa sepusing ini.
                                                                      ****
                “Dan, jam berapa kamu ke sini?” Aku menelpon Danis.
                “Ini masih meeting, Vir. Bakalan panjang dan masih lama. Tidak bisa ke sana.”
                “Dan, Mama bilang kalau kamu nggak ke sini, kita end.”
                Hening. Tak ada sahutan di seberang sana.
                “Dan!” Aku panggil namanya.
                Masih hening.
                Aku mulai ragu. Seberapa besar cintanya padaku. Aku tidak pernah bertanya.
                “Baiklah.” Akhirnya Danis menyahut.
                “Baiklah apa?”
                “Baiklah kalau itu mau mamamu.”
                “APA?? Apa maksudmu.” Aku kaget mendengar jawabannya.
                “Mamamu ingin kita putus? Ok!”
                “Dan, kenapa pikiranmu sedangkal itu? Mama meminta kamu datang, hanya itu.”
                “Iya. Hanya meminta datang, kemudian menanyakan kapan aku akan melamarmu. Begitu,kan?”
                “Kenapa kamu begitu terganggu dengan pertanyaan itu? Wajar, kan? Sudah lama kita pacaran.”
                Aku mulai meragukan Danis.
                “Aku belum siap. Selama ini kamu tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya?”
                Tiba-tiba aku merasa asing dengan orang yang menjadi lawan bicaraku. Siapa dia?
                “Jadi, kamu tidak akan datang ke sini?”
                Tidak ada jawaban.
                “Aku harus masuk lagi. Rapat sudah mulai.”
                Dan... keheningan melingkupi sekelilingku.
                Mama akhirnya masuk kamar. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku hanya menangkap ekspresi mukanya. Aku periksa ponselku. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tak ada pesan.           Jam berdentang dua belas kali. Hari sudah berganti. 23 Desember. Kulihat ponselku. Idle. Tak ada notifikasi pesan dari media sosial manapun. Danis pun sama sekali tidak menghubungi Mama untuk meminta maaf atau sekedar basa-basi karena kemarin tidak datang. Pukul 23.58. Dua menit lagi hari akan berganti. Selamat ulang tahun, Vira. Aku menyelamati diri sendiri. Hari ini hari ulang tahunku. 23 Desember. Jam di ruang tengah berdentang. Tepat jam 00.00. Hari berganti. Beralih menjadi 24 Desember. Danis tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Dia belum menghubungiku sejak aku menelponnya kemarin sore. Aku juga tidak menghubungi dirinya.
                Aku teringat pertanyaanku pada Danis sewaktu aku menelponnya. “Jadi, kamu tidak akan datang ke sini?” Sebenarnya, aku sudah tahu jawabannya sejak kemarin malam Mama masuk ke kamar pada jam 23.30.
                                                                     ****
                Ingatan 2 tahun lalu itu muncul seperti kaleidoskop akhir tahun. Selama 6 tahun aku berpacaran dengan Danis, baru kali itu aku merasa tidak berharga. Ada rasa perih di dadaku. Dan tidak ada lotek pada hari ulang tahunku. Hari ini aku kembali menyusuri jalan itu. Sepertinya sudah otomatis ketika melewati Warung Lotek Ceu Edoh, aku memalingkan wajah ke arahnya. Aku teringat deja vu yang dulu aku kira. Bukan, ternyata bukan deja vu. Hanya pengalaman yang sudah berakar dalam ingatanku kemudian muncul pada keadaan yang mirip dengan pengalaman itu.
                “Vir, Mama mau beli lotek. Kamu mau?” Mama mengagetkanku yang sedang terhanyut oleh kenangan masa lalu.
                “Jangan tawari aku lotek, Mama. Aku benci lotek.”
                Ya. Aku benci lotek. Sejak kapan? Sejak Danis memutuskan untuk tidak datang memenuhi undangan Mama sehari sebelum hari ulang tahunku!

                                                                     ****

#Selamat ulang tahun, Ika.#

9.2.14

Pasir Impun Di Hari Minggu

Hai, Teman-teman!

Hari ini kita berencana kembali bertemu. Sudah lama, ya, kita tidak mengadakan acara bersama. Terakhir waktu bulan puasa lalu. Sesudahnya belum pernah lagi. Alasannya klasik. Karena kesibukan masing-masing. Kalian dengan dinamika rumah tangga kalian, aku dengan dinamika hidupku. Menyatukan jadwal berbagai kepala dengan berbagai kepentingan memang bukan hal mudah. Tapi, aku berharap hubungan baik ini tetap berjalan walaupun kita sudah semakin jarang bertemu. 

Hari ini ditunggu di rumah Dian, ya. Di Pasir Impun. Kita ngerujak. Umi sudah menyediakan brownies tabur keju buatan sendiri. Yummy! Zia mungkin tidak jadi ikut. Dia lagi galau karena mama mertuanya tidak jadi ke Garut. Jadi, kemungkinan dia dan suaminya yang harus ke Garut. Duh.. padahal aku ingin lihat ke-riweuh-an Zia. Itu yang bikin kangen, kan? Septi ada undangan. Mudah-mudahan bisa gabung sesudah undangan. Risna, semoga Bio cepat sembuh. Kangen sama Bio. Mungkin dari rumah Dian, aku mampir ke Kircon. Endang, sibuk persiapan pernikahan? Ehmm... Semoga lancar, ya. Jangan lupa undang aku. Eri, partner jalan-jalanku. Sampai bertemu di Pasir Impun.

Ada satu ikatan yang menyatukan kita. Entah apa. Tidak harus bertemu setiap hari seperti dulu tapi tetap terasa hangat. Bebas berekspresi tanpa merasa sakit hati. Indah, ya. Semoga ikatan ini semakin kuat dan tetap terjalin dengan baik. 

See you, Sisters!

6.2.14

Peri Gigi, Setahun Kemudian

Hai, Peri Gigi.
Kamu masih ingat? Aku kirim surat buatmu setahun yang lalu. Ah, bukan masalah kalau ternyata kamu lupa. Aku hanya sekedar bertanya.

Peri, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaanmu di sana, di suatu daerah terpencil. Di sana kamu baik-baik saja. Keceriaan menghias wajahmu. Badanmu sudah meningkat beratnya. :-) Kamu tetap konsisten dengan apa yang sudah kau pilih, mengabdi sebagai dokter gigi. Toh segala keterbatasan yang ada tetap membuatmu bisa bertahan. Mati lampu yang kerap terjadi (bahkan sehari bisa tiga kali), air yang kadang nyala kadang sebaliknya, jalanan tanah merah yang menjadi lumpur kalau hujan tiba, semua bisa dilalui. Kau benar-benar wanita tangguh.

Peri, tampaknya, kau sudah bisa menikmati hidupmu di sana. Jangan khawatir. Kulihat para tetanggamu adalah orang-orang baik. Mereka bersedia menolongmu. Mereka menghormatimu. Walaupun aku senang jika kita berdekatan, tapi itu hidupmu. Kau yang berhak menentukan. Bukan aku. Aku hanya berharap kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada. Jaga kesehatan supaya kita bisa bertemu lagi suatu saat. Mudah-mudahan, aku bisa mengunjungimu lagi. Jika aku ke sana lagi, tolong katakan pada kelabang untuk hibernasi. Jangan keluar kalau ada aku. Bilang pada genset agar tidak rewel. Sebarkan berita pada walang sangit agar berkunjung ke rumah lain. Kirim pesan pada semut agar menjauhimu. Biarkan speedy-mu tetap ada. Aku membutuhkannya untuk menyebar berita pada dunia. Aku membutuhkannya untuk bertegur sapa dengan dorama.x264 atau gooddrama. Aku membutuhkannya untuk mengumumkan, bahwa negerimu juga dekat dengan dunia maya.

Sampai ketemu lagi, temanku. 

4.2.14

Dear Bety

Dear Bety.

Aku nggak tahu siapa aja yang termasuk selebtwit. Yang jelas, bagiku kau adalah salah satunya, hehehe... 

Bety, kita satu kota tapi jarang ketemu. Jadwal free time kita nggak pernah cocok. Semoga 'kerjaannya' cepat kelar. Feel free to ask me if you need a hand. Selama aku masih di sana, Insya Allah bakal dibantu. Maaf-maaf kalau whatsApp-nya lama dibalas, hehehe.... Biasa, tugasku kan kayak pedagang keliling. Muter-muter. Kapan-kapan kita jalan bareng lagi. Dikau masih berutang traktir nonton. :-) Kalau ada film bagus, kita datangi Braga, BIP, atau Ciwalk. Dan jangan lagi salah masuk ke toko roti yang bersebelahan dan punya nama yang mirip. Ok? :-D Oh ya, ada satu lembar kuesioner lagi yang baru dikumpulin. Mau diambil? 

Bye. Sampai ketemu lagi.
Iin

3.2.14

Kita Belum Pernah Bertemu

Hai, Penyuka Eru! 

Bagaimana kabarmu di sana? Aku selalu berharap kau dalam keadaan yang sehat dan bahagia. Kalau kau tanya kapan kita pertama kali kenalan, entahlah. Aku lupa. Tapi kalau kau tanya bagaimana kita kenalan, mungkin aku bisa menjawabnya. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin juga (maafkan :-)). 

Satu kegiatan menulis bersama awalnya. Kita jadi tahu satu sama lain. Ternyata kita punya kesukaan yang sama. Itu yang membuat bonding di antara kita menguat. Kau suka Eru, aku punya videonya. Terang-terangan kau memintanya, dan tentu saja, dengan senang hati kukirimkan. Sejak itu, kita sering bertegur sapa. Seperti tak mau kalah dengan matahari, kau selalu menyapaku setiap pagi. Berceloteh tentang apa saja, curhat, sampai omelan panjang lebar tak segan kita lontarkan. Satu sama lain.

Maafkan aku. Desember lalu, aku terlalu hectic dengan kerjaanku. Sapaanmu setiap pagi kadang tak sempat kubalas. Aku balas pesanmu di sore atau malam hari. Mungkin kau kesal. Sedikit demi sedikit kita mulai jarang bertegur sapa. Tapi ketahuilah. Aku tetap siapkan telinga untuk mendengarmu. Kubuka mata untuk baca pesanmu. Kuberharap sakit kepala enyah dari hidupmu. Kuberdoa agar Sabtu menjadi hari yang menyenangkan buatmu. Aku meminta galau pergi dari hadapanmu. Kurangkai doa supaya kau dikelilingi teman-teman yang tulus, bukan karena punya pamrih.

Aku tidak bermaksud menggurui. Tapi sungguh aku ingin mengatakannya. Menangislah kalau kau merasa dadamu sesak. Marahlah kalau kau memang kesal. Jangan kau pendam untukmu sendiri. Kamu orang baik. Sungguh! Kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Sekali lagi maafkan jika ada perkataanku yang menyinggungmu. Percayalah, tidak ada maksud berbuat seperti itu. Semoga mimpi-mimpi indah selalu menyambangimu. 

By the way, ingatkah kau? Kita belum pernah bertemu. Ketahuilah, kedekatan kita tidak ditentukan oleh seberapa sering kita bertemu. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa bertatap muka. 

Sampai jumpa, Teman.
Aku, penyuka JIS.

12.1.14

Palangka Raya: Dari Nyaru Menteng Sampai Jalan Batam

Palangka Raya. Sebagai ibu kota propinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya memiliki fasilitas cukup lengkap. Tanpa kemacetan pastinya. Taksinya ada dua jenis. Angkot yang juga disebut taksi dan taksi yang benar-benar taksi. Lucunya, angkot di Palangka Raya bebas trayek ke mana saja jika sudah jam 17.00. Jurusan angkot dibedakan dengan huruf. A, B, atau C. Paman taksi a.k.a sopir angkot menyimpan tanda di bagian atas mobil. Setelah jam 17.00, mereka akan menurunkan tanda tersebut sehingga angkot bebas melewati jalan apa pun tanpa mengikuti trayek sesuai jurusannya. Coba bayangkan kalau kejadian seperti itu di Bandung. Demo sudah pasti terjadi. Mari kita eksplorasi Palangka Raya. Yuk!
Kalimantan tak bisa dipisahkan dari sungai dan perahu.
Rumah betang, rumah adat Kalimantan
Masjid Raya Palangka Raya


Borneo Orangutan Survival Nyaru Menteng





Nyaru Menteng, di mana Borneo Orangutan Survival atau disingkat BOS berada, berjarak sekitar 28 km dari Palangka Raya. BOS adalah tempat rehabilitasi orangutan sebelum dilepasliarkan di hutan. Tujuannya adalah mempersiapkan orangutan agar memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di dalam hutan seperti kemampuan untuk memanjat (ada batasannya berapa meter ketinggian yang harus bisa dicapai), membuat sarang sendiri, dan kemampuan lainnya. Habitat alami orangutan adalah hutan liar. Oleh karena itu, BOS Nyaru Menteng berusaha mengembalikan orangutan pada habitat alaminya. Banyaknya orangutan yang dipelihara oleh manusia berarti memisahkan anak orangutan dari induknya. Induk orangutan tidak akan melepas anaknya sampai usia 7 tahun. Selama kurun waktu tersebut, induk orangutan memberikan keterampilan-keterampilan hidup agar nanti anaknya dapat bertahan hidup di hutan. Nah, kalau ada manusia yang tidak memberikan keterampilan hidup untuk anaknya, malu dong sama orangutan. :-) Untuk memisahkan anak dari induknya, maka induk orangutan harus dibunuh. Hal inilah yang membuat jumlah orangutan semakin berkurang. Orangutan yang ada di BOS Nyaru Menteng ini sebagian besar diperoleh dari penduduk sekitar. Bahkan, jahatnya, ada orangutan yang dijadikan sebagai pekerja seks komersial. Astaghfirullah. Pelanggannya bestially, kali, ya. Bestially merupakan penyimpangan seksual karena melakukan hubungan seksual dengan binatang.

Orangutan yang sudah dipelihara oleh manusia memiliki ketergantungan terhadap manusia. Mereka kehilangan keterampilan bertahan hidup yang seharusnya diberikan oleh induknya. Oleh karena itu perlu dilatih lagi keterampilan bertahan hidup sebelum dilepaskan kembali ke hutan. Ada beberapa tahapan yang harus diikuti termasuk bersekolah di sana. Sebelum dilepasliarkan, orangutan ini di lepas di hutan percobaan. Jika lulus percobaan, barulah orangutan akan dilepas di hutan liar. Saat ini, hutan-hutan untuk melepas orangutan juga masih ditentukan.

Di BOS Nyaru Menteng ini, pengunjung tidak diperkenankan masuk ke dalam kandang. Hal ini untuk menjaga agar orangutan tidak mudah terkena penyakit-penyakit yang dibawa manusia. Orangutan rentan terhadap penyakit. Alasan lainnya adalah supaya tidak muncul lagi ketergantungan terhadap manusia. Jadi, pengunjung melihat dari suatu ruangan di mana orangutan tidak bisa melihat pengunjung tapi pengunjung bisa melihat pada orangutan.





Untuk menjaga kelestarian orangutan, orangutan dari suatu daerah tidak bisa dicampur dengan orangutan dari daerah lain. Misalnya orangutan Kalimantan Tengah tidak bisa dicampur dengan Kalimantan Selatan atau Sumatera. Ayo, kita jaga kelestarian orangutan!

Bandara Tjilik Riwut
Bandaranya lebih besar daripada bandara H. Asan Sampit. Lengang suasana di dalamnya. Beberapa toko di dalam Bandara menjual souvenir atau makanan khas Kalimantan.
       





Taman Pemuda

Taman ini terletak di tengah kota Palangka Raya. Banyak warga yang beraktivitas di dalam taman. Sekelompok anak muda sedang bermain skateboard. Sekelompok lainnya berfoto-foto, duduk-duduk, dan mengobrol di antara mereka. Keluarga-keluarga menghabiskan waktu bersama. Mereka berjalan berkeliling dan juga berfoto. Yang menarik, banyak lampu di taman itu dan terlihat indah pada malam hari. Asalkan jangan datang pada malam di kala turun hujan, kemungkinan besar lampu tidak akan dinyalakan. :-)




Taman Pemuda terletak di Jalan George Obos. Dari salah satu sudut taman, kita bisa melihat bunderan yang terdapat di tengah-tengah perempatan. Jika dicermati, setiap perempatan di Palangka Raya, di tengahnya selalu terdapat bunderan. 
Salah satu sudut taman menghadap ke bunderan perempatan.
Air Mancur dengan lampu di atasnya.

Tugu Soekarno
Tugu Soekarno merupakan tugu peringatan sebagai lambang peresmian Kota Palangka Raya. Di belakang tugu, terdapat saung-saung untuk duduk-duduk. Dari sana, kita dapat melayangkan pandangan ke arah Jembatan Kahayan, yaitu jembatan yang membelah Sungai Kahayan. Jembatan Kahayan ini merupakan salah satu ciri khas kota Palangka Raya.
Jembatan Kahayan, malam hari


Jembatan Kahayan, siang hari.



Tugu Soekarno
Jalan Batam
Mau cari oleh-oleh, Jalan Batam bisa jadi satu alternatif pilihan. Jika suka dengan batu-batuan seperti giok, kecubung, merah delima, dan lain-lain, di sini tersedia berbagai jenis dan ukuran. Kain batik Kalimantan, sarung khas, kaos juga ada. Aksesoris, tas, dompet bisa ditemukan dengan mudah. Tak ketinggalan pula makanan asli Kalimantan seperti amplang, ikan saluang, lempo, kripik kalakai. Di sini, harga bisa ditawar dan pembeli harus bisa menawar jika ingin mendapatkan harga murah. Pedagang bisa menawarkan 100% dari harga jualnya. Ada toko yang lebih murah ketika menjual makanan, ada yang lebih murah untuk kaos, ada juga yang lebih murah untuk harga aksesoris. Silakan survey dulu kalau mau mencari harga-harga murah, :-D

Dipilih..dipilih..dipilih!
Nah, begitulah cerita jalan-jalan ke Palangka Raya. Oh ya, terima kasih untuk Ririn yang sudah jadi guide dan fotografer selama di Palangka Raya. Pak Wit, terima kasih sudah diantar-antar ke mana-mana selama di Palangka Raya. Meli, foto-fotonya bermanfaat untuk dokumentasi. Terima kasih, ya. Yanti, kalau bapak humasnya nggak dikejar-kejar, mungkin kita nggak akan bisa masuk, hehehe... Thanks. Uci, sudah membuat penginapan kita menjadi lebih layak, hahaha... Sampai ketemu lagi di lain waktu. 

Iin