26.6.13

Gantungan Kunci Jerapah

handicrafts.tokobagus.com
            Kia mencari-cari gantungan kunci jerapahnya. Di rumah sudah ia cari tapi tidak ketemu. Di kantor, ia juga mencarinya. Di mana gantungan itu? Gantungan kunci yang sudah mulai berkarat besinya. Jerapahnya terbuat dari kain flanel yang selalu Kia cuci kalau sudah kotor. Karena terlalu sering dicuci, warna kuningnya menjadi pudar.
            “Apa yang membuat gantungan itu penting sekali buatmu?” Tania, teman kerja Kia bertanya ketika mereka sedang makan.
            “Gantungan itu simbol penyelamatku, Tan. Waktu aku kecil, aku tersesat di pasar malam di Solo. Aku sangat ketakutan dan hampir menangis. Anak lelaki datang itu membantuku mencari Ayah dan Ibu. Ia memberiku gantungan kunci jerapah yang diambil dari tasnya. Katanya, kalau aku memegang gantungan itu, aku akan merasa tenang. Entah mengapa, akhirnya aku memang merasa tenang. Anak lelaki itu mengajakku ke pos petugas pasar malam dan menunggu sampai aku bertemu orangtuaku lagi. Aku menyesal karena belum sempat menanyakan nama dan alamatnya. Gantungan itu selalu kusimpan untuk mengenangnya. Aku berharap bisa bertemu dengannya suatu saat nanti dan mengucapkan terima kasih.” Kia mengakhiri ceritanya.
            “Mudah-mudahan kamu bertemu dengannya. Ngomong-ngomong, kapan kamu dan Candra menikah?” Pertanyaan Tania menghentikan gerakan Kia memotong daging. Kia menatap Tania heran.
            “Menikah? Sejak kapan aku pacaran dengan Candra?”
            “Ki, kamu boleh menyangkal ribuan kali kalau kamu tidak pacaran dengan Candra. Tapi aku merasa kalian pasangan yang cocok. Kalau kalian berdua tidak memiliki hubungan khusus, lalu mengapa kalian masing-masing tidak punya pasangan?”
Tania memang tahu banyak tentang dirinya dan Candra, kecuali cerita gantungan kunci itu.
            “Aku tidak tahu. Candra membuatku merasa aman dan nyaman. Namun, untuk menjalin hubungan dengan Candra, tidak pernah terlintas dalam pikiranku.”
            “Kamu masih teringat dengan anak lelaki gantungan kunci itu?”
            “Iya.” Kia meneruskan makan
                                                            ***
            Candra dan Kia duduk di taman kota. Kia bercerita tentang gantungan kunci jerapah yang hilang. Sejarah gantungan kunci jerapah itu, Candra sudah mengetahuinya sejak dulu.
            “Mengapa kamu selalu menunggu anak itu?” Candra bertanya pada Kia.
  “Aku juga tidak tahu. Kamu tahu? Saat aku tersesat, semua begitu menakutkan buatku. Waktu itu, aku merasa sangat aman saat ia menemaniku. Aku berharap, sebelum aku memutuskan untuk menikah, aku dipertemukan dengan anak itu. Walaupun hanya sebentar. Aku sering bertanya-tanya. Bagaimana kabarnya sekarang? Seperti apa tampangnya saat ini? Apakah kalau kami bertemu aku akan mengenalinya? Apakah ia masih mengingat kejadian itu dan mengingatku? Di mana ia tinggal? Sebenarnya mustahil, kan? Tapi entahlah, aku begitu yakin kalau kami akan bertemu lagi.”
            “Sampai kapan keyakinanmu, Ki?”
            “Aku tidak tahu. Mungkin sampai aku punya keyakinan untuk berhenti berharap.”
  “Berhentilah berharap. Sekarang ia sudah dewasa dan baik-baik saja. Kamu sudah tidak ingat lagi wajahnya. Buktinya, ketika kamu bertemu dengannya, kamu tidak mengenalinya. Anak itu juga tidak mengenali kamu. Tapi, ketika ia pertama kali mendengar cerita gantungan kunci jerapah, ia seperti pernah mengalami kejadian itu. Anak itu baru benar-benar ingat saat ia melihat foto lama di rumah Tantenya di Solo, dua hari lalu. Ia teringat lagi kejadian di pasar malam  saat ia masih SD kelas lima. Ia datang ke pasar malam untuk memotret karena hobinya memotret. Tak sengaja ia memotret seorang anak perempuan yang kebingungan dan menangis karena terpisah dari keluarganya. Sekarang ia menjadi lelaki tampan dan tinggal di Jakarta. Jadi, berhentilah berharap akan bertemu dengan anak itu karena kamu sudah bertemu dengannya. Berharaplah kamu dapat hidup selamanya dengannya. Anak lelaki penyelamatmu, sekarang sudah menjadi lelaki dewasa dan ada di sampingmu. Ia sedang berbicara denganmu dan ia berharap dapat hidup denganmu selamanya.”
  Candra mengulurkan selembar foto dan gantungan kunci jerapah yang sudah pudar. Kia ternganga.
            “Aku menemukan foto ini di rumah Tante sewaktu aku ke rumahnya. Ternyata, aku sempat mencetaknya dan meninggalkannya di rumah Tante. Gantungan ini kutemukan di lobi kantor sebelum aku cuti tapi aku lupa memberitahumu.” Dua hari lalu, Candra izin cuti kerja.
            “Jadi, anak itu kamu?” Candra mengangguk. Mata Kia berkaca-kaca.
            “Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Aku bahagia ternyata anak itu adalah kamu. Tapi, aku tidak menangis saat itu.” Kia menyusut air matanya dengan punggung tangan dan tersenyum.
             Candra tersenyum. Ia mengacak rambut Kia. Kia merasakan damai di hatinya, bersama gantungan kunci jerapah dan Candra di sampingnya.
***

11.5.13

Musim Semi di Hati Lyla

Ya, aku ada di depan jendela ini lagi. Kali ini aku pergi berempat dengan teman kerjaku. Setiap Jumat sore sepulang kerja, kami memang selalu hangout bersama dan kali ini giliran aku yang menentukan tempatnya.  Aku memilih cafe yang biasa kukunjungi dan seperti biasa aku langsung memilih tempat duduk kesukaanku. Sofa empuk yang menghadap jendela.   
     “Lyla, jangan bengong aja! Ayo makan!” Mirna menepuk pundakku dan membuyarkan lamunanku. Ia cukup jeli bisa membaca diriku. Saat ini memang ragaku sedang berada di sini, namun pikiranku? Pikiranku memang sedang tak di tempat ini. Pikiranku sibuk memikirkan kejadian kemarin sore. Sore itu aku dikagetkan oleh seorang Doni yang tiba-tiba datang melamarku. Aku tahu, seharusnya ini adalah kejadian yang membuat hatiku berbunga-bunga, namun ini? Hatiku bingung tak jelas dibuatnya. Oh iya, aku lupa kapan awal pertemuan kami. Tapi kira-kira, ia datang ke rumahku sebulan yang lalu. Awalnya aku sama sekali tak menanggapi kehadirannya karena toh ia datang untuk bertemu dengan ayahku bukan denganku. Doni adalah saudara dari tetanggaku.

Aku pikir, Doni hanya mau bersilaturahmi dengan ayah. Sudah lama Doni tidak datang ke rumah. Setiap kali Doni datang ke rumah, ia selalu mengobrol atau bermain catur dengan ayah. Selama ini aku menganggap Doni sebagai sahabatku. Kami sering saling curhat. Aku tidak pernah menyangka bahwa yang dibicarakan Doni kepada ayah adalah memintaku menjadi istrinya. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Kuakui, Doni memang seorang sahabat yang sangat peduli padaku. Ia tidak pernah membiarkanku berlarut-larut dalam kesedihan. Ia pun cukup peka dengan apa yang kurasakan. Ketika aku sedang gundah, ia pasti akan merasakan kegundahanku. Selanjutnya, ia akan bertanya apa yang sedang kupikirkan. Mau tidak mau, aku akan bercerita tentang apa yang kurasakan. Aku hanya merasakan kenyamanan ketika bersamanya. Tapi, untuk menjadi istri, aku masih belum berpikir sejauh itu. Berpikiran pacaran dengannya saja aku tidak pernah. Apa lagi menjadi istri!
“Tuh, kan, bengong lagi. Apa sih yang kamu pikirkan?” Mirna kembali menepuk pundakku. “Cerita dong, kalau ada masalah. Barangkali saja aku bisa bantu, “ kata Mirna melanjutkan ucapannya.
         “Nanti saja Mir, aku akan cerita jika memang sudah saatnya. Udah ah, jangan bahas ini! Aku juga lagi nggak ingin memikirkan ini.” Duh, maaf Mir, mungkin aku sedikit berbohong. Aku memang sedang tak ingin memikirkan ini, tapi ternyata pikiranku susah untuk diajak berhenti memikirkan ini. Ok, saat ini aku akan coba untuk berakting kalau aku sedang tidak sedang memikirkan apa-apa malam ini. Ayo Lyla, tunjukkan kemampuan beraktingmu.
“Ya udah kalo gitu jangan bengong lagi, ya!” Kata Mirna yang percaya pada penjelasanku. “Ih, Lyla, Mirna, kalian ngomongin apa sih? Ngobrol kok berdua aja!” Tiba-tiba Arlin datang sambil membawa baki penuh makanan. Arlin memang terkenal suka makan di antara kami. Di bakinya tampak steak, spageti, lasagna, dan satu pitcher cola. “ Waaaaa, aku nanti nyobain lasagna-nya, ya. Tampak enak!” Kataku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. “La, Dina mana, sih? Lama banget ke toiletnya?” Tanya Arlin.      
“Aku susul Dina deh, aku juga mau ke toilet, nih!” Aku pun beranjak dari kursiku dan berjalan menuju toilet.

Tiba-tiba aku melihat sosok yang sangat kukenal di luar jendela. Arik, mengapa ia ada di sini? Bukannya kamu sedang ada di Yogya? Mengapa ia tak mengabariku jika ia ada di Bandung ? Ah, kutelepon dia nanti setelah aku dari toilet.

     “Eh, Lyla kamu ke toilet juga, ya?” Dina tampak sedang mencuci tangannya di wastafel toilet. “Iya nih aku kebelet juga.” Kataku sambil buru-buru masuk ke toilet.
Keluar dari toilet, kutengok kiri-kanan. Mana Dina? Mungkin dia sudah kembali ke tempat kami, pikirku. Aku keluar dari kamar mandi. Kucari-cari tisu di saku jeans-ku. Hampir saja aku menabrak seseorang karena aku menunduk mencari tisu.
            “Ups..maaf, “ aku menengadahkan kepalaku dan meminta maaf pada orang yang hampir kutabrak. Aku tertegun menatap orang itu. Dia juga tertegun menatapku.
            “Lyla!”
“Arik!” Dadaku tiba-tiba berdebar dengan keras. Oh Tuhan, kenapa rasa itu masih ada? Kenapa aku masih berdebar-debar ketika berhadapan dengannya? 
            “Eh, apa kabar, La?”
            “Baik. Kamu? Kapan kamu datang dari Yogya?”
            “Oh.. aku dipindahkan ke Bandung sejak sebulan lalu, “ kata Arik.
Deg! Arik sudah sebulan di sini dan selama itu dia tidak mengabari aku. Ada perasaan kesal menyelimuti hatiku. Apakah aku sudah tidak berarti lagi buatnya? Perasaan kecewa tiba-tiba menghinggapi aku.
            “Wah, asik dong, kembali lagi ke sini,” aku berkata dengan nada pura-pura riang. Hanya untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya.
            “Arik, udah cuci tangannya?” seorang perempuan mendatangi Arik. Siapa dia?
 Aku pun segera berlalu dan kembali berkumpul dengan teman-temanku. Ugh, mengapa ia bisa secepat itu melupakan hubungan kami? Tanpa banyak bicara aku pun menghabiskan makananku.

Arik, sosok yang masih kuharapkan selama ini. Mengapa ia bisa secepat itu mendapatkan penggantiku? Cukup lama kami menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Suatu sore, ia berkata bahwa ia tak dapat melanjutkan hubungan ini. Ia memintaku untuk tidak lagi menunggunya. Saat itu, aku tak paham sepenuhnya dengan apa yang ia bicarakan. Aku terlalu kaget dengan apa yang ia utarakan dan bingung sendiri dengan perasaanku. Yang kuingat, aku hanya diam dan tak bicara sepatah katapun untuk menanggapi perkataannya. Di kamar, aku hanya menangis dalam tak mengertianku. Aku sedih, kesal, marah, dan kemudian aku memutuskan untuk diam. Prinsipku, jika seorang lelaki mengutarakan hal seperti itu berarti memang ia bukan lelaki yang kelak memang ditakdirkan untukku.   
***
Doni, apakah aku harus menerima lamarannya? Aku belum lama mengenalnya. Aku memang cukup terbuka pada Doni, namun tidak untuk membicarakan mengenai hubunganku dengan Arik.

Kalau dipikir-pikir, apa sih yang kurang dari Doni? Ia supel, peka, seorang dosen, dan cukup tampan! Jelas-jelas ia mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Namun, masalah hati sukar untuk dipaksakan. Ya, aku tidak mencintainya. Aku belum mencintai Doni! Hubunganku dengan Arik memang sudah berakhir, namun hatiku masih tertambat padanya.

***
“Arik, kamu sudah minum  obatmu?”
“Sudah, Mah. Tadi pulang dari café, Arik sudah minum obat. Oh iya, Mah, ada salam tadi dari Dokter Rifa. Dia akan langsung kembali ke Yogya malam ini karena seminar di Bandungnya sudah selesai.” Teriak Arik dari kamarnya.

Di kamar Arik tak bisa berhenti memikirkan Lyla. Gadis yang ia tinggalkan sebulan lalu. Maafkan aku La, ini semua demi kebaikan kamu. Aku tak ingin merusak kebahagiaanmu. Aku tak tega melihatmu bersedih karenaku, katanya dalam hati.

“Arik, cepat tidur! Besok pagi-pagi kita harus ke rumah sakit lagi!” Teriak mama dari luar.
“Iya, Ma!” 

Semoga aku tidak bermimpi tentang Lyla, pikir Arik. Sudah  setengah jam Arik membaringkan badan di tempat tidur. Namun, bayangan Lyla terus berputar-putar di kepalanya. Akhirnya, Arik menyalakan lampu tidur. Ia kemudian mengambil salah satu buku dari rak. Mudah-mudahan dengan membaca buku, aku jadi mengantuk, pikir Arik.

***
Pagi hari, ketika aku bangun, hal pertama yang kuingat adalah Arik. Kugeleng-gelengkan kepalaku lagi. Enyah kau dari pikiranku! Aku bangkit dan menuju kamar mandi. Pagi ini aku akan langsung ke rumah sakit karena ada janji bertemu dengan Dokter Oswald. Sebagai medical representative, aku memang sering bertemu ke rumah sakit untuk bertemu dokter. Dokter Oswald adalah dokter ahli syaraf yang terkenal di Bandung. Setelah beberapa kali membuat janji, baru kali ini aku berhasil menetapkan tanggal pertemuan kami. Jadi, aku tidak boleh terlambat. Kesempatan emas tidak boleh lepas dari tanganku. Jam 9.00 aku sudah harus berada di rumah sakit.
***
Jam 8.45 aku sudah berada di ruang tunggu pasien di depan kamar periksa Dokter Oswald. Beliau praktek mulai jam 10.00 pagi. Rencananya sebelum beliau praktek, kami akan bertemu dahulu. Oh.. itu dia. Aku bergegas menyambutnya. Dokter Oswald tersenyum dan menjabat tanganku. Kami pun masuk ke ruangan Dokter Oswald.
***

            “Terima kasih, Dok. Sampai bertemu kembali, “ aku berpamitan pada Dokter Oswald dan keluar dari ruangannya. Aku pun berjalan menuju ruang informasi. Suster Linda mungkin sedang bertugas. Aku mau menyapanya dulu. Pagi ini rumah sakit sangat ramai. Entah apakah karena hari ini hari Jumat atau karena sebab lain.

Ketika aku melewati bagian pendaftaran, aku seperti melihat sosok yang kukenal. Kupertajam pandanganku. Benar, itu Arik bersama mamanya. Siapa yang sakit? Ingin aku mendekatinya tapi aku ragu-ragu. Akhirnya, aku hanya mengamatinya saja. Tidak berapa lama, aku melihat Arik dan mamanya berjalan ke arah ruang periksa. Mereka berhenti di depan ruangan Dokter Oswald. Aku bertanya-tanya dalam hatiku siapakah yang sakit? Perawat di ruang Dokter Oswald keluar.
            “Arik Fathan!” Perawat mulai memanggil. Ia hendak memanggil untuk kedua kalinya ketika melihat Arik dan mamanya berdiri. Aku terkesiap. Arik sakit? Sakit apa? Aku baru saja hendak menuju ruang tunggu pasien ketika teleponku berdering.
            “Hallo.”
            “Lyla, ada yang mau saya bicarakan. Ditunggu segera di kantor, ya. Kamu di mana sekarang?” suara supervisor-ku.
            “Saya di Rumah Sakit Damai Sentosa, Pak. Saya segera ke sana.” Aku menjawab

Telepon itu mengurungkanku pergi ke ruang tunggu. Aku segera pergi menuju kantor dengan pertanyaan berkecamuk di benakku.

***
Arik, kamu sakit apa? Pertanyaan itu yang tadi ingin kuutarakan langsung padamu. Sebenarnya bisa saja aku menelepon atau menanyakan hal ini padamu lewat SMS. Tapi itu urung kulakukan. Ah, sudahlah. Semoga kamu baik-baik saja. Siang itu aku sulit berkonsentrasi di kantor. Rangkaian peristiwa akan dirimu seakan diputar ulang dalam kepalaku. Ingatanku yang paling baru adalah perjumpaan kita di café Jumat lalu. Pada saat itu, aku terlalu fokus pada perempuan cantik yang bersamamu. Sampai-sampai aku tak melihat betapa kini berat badanmu tampaknya turun dengan sangat drastis. Hal ini sangat jelas terlihat tadi di rumah sakit. Arik yang mengenakan sweater abu-abu sangat terlihat kurus dibandingkan dengan Arik  yang dulu. Ah, aku tak bisa mengatur pikiranku untuk tidak terus memikirkannya. Ariiiiiiik, pergi kau dari pikiranku! Ughhh, semakin berusaha aku untuk tidak memikirkannya, semakin kuat ingatanku padanya.
                                                                        ***
“Lyla, tadi Tante Mili bertanya pada Ibu, apakah kamu mau menerima lamaran Doni?” Tanya ibu padaku ketika makan malam. Tante Mili adalah tetanggaku. Ia adalah tantenya Doni. “Jika kamu setuju, nanti orangtua Doni akan dikabari agar segera ke Bandung untuk melamarmu secara resmi.” Kata Ibu dengan tenang. Beruntungnya aku memiliki orangtua yang sangat sabar dan demokratis. Walaupun usiaku sudah hampir menginjak kepala tiga, namun orangtuaku tidak mendesakku untuk segera menikah. Berbeda dengan temanku yang memang bernasib sama. Rata-rata mereka memang sering dibombardir dengan pertanyaan klise, “Kapan menikah?” Atau dengan kalimat sindiran, “Sudahlah sudah usia segini nggak usah pilih-pilih.”
“Ibu, menikah kan sekali dalam seumur hidup, Lyla, sih, inginnya bisa benar-benar kenal dulu dengan siapa Lyla akan menghabiskan hidup nantinya. Lyla belum ingin buru-buru. Lagi pula, Lyla masih belum ada rasa sama Doni Bu. “ Kataku sambil berlalu ke kamar.
“Lyla capek Bu, Lyla mau tidur aja ya.” Ibu tampaknya paham dan tidak memperpanjang obrolan tersebut.
                                                                        ***

Di kamar, aku terus memikirkannya. Aku memikirkan Arik, bukan Doni. Aku jadi teringat peristiwa enam bulan lalu saat kami masih menjalin hubungan jarak jauh. Saat itu, ia sering sekali membatalkan janji sehingga kami pun makin jarang bertemu. Ada saja alasannya. Padahal biasanya, ia tak pernah absen mengunjungiku seminggu sekali. Ketika kami bertemu pun, ia sering terlihat kurang sehat. Aku pernah bertanya padanya, tapi ia hanya berkata bahwa ia kecapaian bekerja. Aku pernah ingin mengantarnya ke dokter. Pada saat itu kamu tiba-tiba mimisan tapi kamu pun menolaknya.
“Tenang La, aku udah bawa obat kok, kemarin aku baru dari dokter. “

Pernah juga pada suatu Sabtu ketika aku susah menghubungi ponselmu, aku menelepon rumahmu dan adikmu mengatakan kalau kamu sedang pergi ke rumah sakit. Aduh, apakah aku sangat tidak peka, ya? Ugh, tampaknya aku harus meneleponmu sekarang. Baiklah, mungkin selama ini aku terlalu egois dengan hanya memikirkan diri sendiri. Segera kuambil ponselku dan memencet nomor ponselmu. Duh, kok, susah dihubungi, sih? Aku mencobanya berkali-kali namun tetap ponselmu tak bisa kuhubungi juga. Akhirnya aku mencoba untuk menelepon rumahmu.

“Hallo, bisa bicara dengan Arik?”
“Oh, maaf ini dengan siapa, ya? “ Terdengar suara Mbok Ijah yang tak asing.
“Mbok, ini Lyla, masih ingat dengan saya?”
“Mbak Lyla kemana saja? Mbak, baru saja Mas Arik masuk rumah sakit, Mas Arik pingsan Mbak!”
Aku langsung lemas mendengar kabar itu.

“Arik sakit apa, Mbok?”
“Ehmm... Mbok tidak bisa jawab, Mbak. Sebaiknya Mbak tanya Ibu Lena saja.”
Aku semakin curiga dengan sakitnya Arik. Kenapa Mbok Ijah tidak mau mengatakannya padaku?
“Baiklah, Mbok. Nanti saya tanya Tante Lena saja. Dirawat di mana Arik?”
“Di Rumah Sakit Damai Sentosa, Mbak.”
“Oke, terima kasih, ya, Mbok.”

Aku ingin secepatnya pergi ke sana. Namun, tiba-tiba aku teringat perempuan cantik di cafe tempat kami pertama kali bertemu lagi. Apakah tidak berlebihan kalau aku langsung ke sana? Pikirku dalam hati. Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku melihat nama yang tertera di layar. “Doni”. Aduh! Kalau Doni menanyakan jawaban atas lamarannya, aku belum dapat menjawabnya. Mau tidak kujawab, rasanya tidak enak. Akhirnya aku menjawabnya.
“Hai, Don!”
“Hai, La. Lagi ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Pergi, yuk! Mumpung aku lagi ada di rumah Tante Mili. Aku bosan di sini. Gerry lagi pergi.” Gerry adalah sepupu Doni. Aku menimbang-nimbang sebentar.
“Oke. Aku siap-siap dulu, ya.” Aku mengiyakan ajakan Doni. Daripada aku teringat terus Arik, lebih baik aku keluar dengan Doni.
“Oke. Nanti kujemput lima belas menit lagi. Cukup?”
“Cukup.” Sepuluh menit juga cukup, kataku dalam hati.

Akhirnya aku menghabiskan malam itu bersama Doni. Untunglah Doni tidak menanyakan perihal lamarannya. Untungnya lagi, selama dengan Doni, pikiranku bisa teralihkan dari Arik. Sesekali ingatan tentang Arik datang. Entah mengapa, bersama Doni aku cepat sekali ‘lupa’ dengan Arik.
Thanks, ya, Don, untuk hari ini.” Aku berterima kasih pada Doni sebelum kami berpisah.
“Untuk apa? Tumben kamu bilang ‘thanks’, “ kata Doni.
Aku tersenyum. Thanks, karena kamu sudah mengalihkan pikiranku dari Arik, kataku dalam hati.

***
Esok hari, aku ke rumah sakit karena ada janji dengan Dokter Oswald lagi. Mumpung di rumah sakit, aku mau menjenguk Arik juga. Aku menuju ruang informasi untuk mencari tahu kamar Arik. Setelah mendapatkan informasi kamar Arik, aku berjalan menuju ke sana. Sampai di depan kamar Arik, aku melihat perempuan yang bersama Arik waktu di cafe sedang menangis. Aku masuk ke kamar Arik. Papa dan mama Arik sedang termenung menatap Arik yang terbujur kaku di hadapan mereka. Aku ingin teriak tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Tenggorokanku seakan tercekat. Untuk menelan ludah saja terasa sulit. Tiba-tiba, aku merasakan ponselku bergetar. “Doni” tertera di layar.
            “Halo, Don.” Suaraku terbata-bata.
            “La, apa yang terjadi? Kamu nggak apa-apa?” Doni tampak khawatir mendengar suaraku.
            “Don, Arik, Don. Arik meninggal.” Entah kenapa, begitu mendengar suara Doni, tangisku langsung pecah.
            “La, kamu di mana? Tunggu aku di situ. “
Aku menyebutkan nama rumah sakit tempat aku berada saat ini.
***

Di perjalanan, Doni pun tak henti-hentinya bertanya pada diri sendiri. Siapa Arik? Mengapa Lyla menangisi Arik? Ah, sudahlah. Aku harus segera menuju ke rumah sakit itu. Lyla sedang membutuhkan orang untuk berada di sisinya saat ini, pikir Doni.

Sesampainya di rumah sakit, Doni melihat Lyla sedang duduk bersama seorang wanita paruh baya. Doni tidak langsung mendekat.
“Mbok, sejak kapan Arik sakit? Kok, Mbok nggak kabari saya?”
Maafin Mbok, ya! Mas Arik berpesan agar Mbak Lyla memang tidak diberi tahu mengenai sakitnya. Maaf ya, Mbak.” Kata Mbok Ijah sambil tak henti-hentinya mengusap air mata.

Beberapa saat kemuadian keluarlah sepasang suami istri, mereka kemudian memberikan sesuatu pada Lyla.  Siapa mereka ya? Apakah mereka orangtua Arik? Doni masih mengamati dari kejauhan. Doni kemudian datang menemui Lyla.
“La, kamu nggak apa-apa?” Tanya Doni. Lyla langsung memeluk Doni dan menangis kembali sejadi-jadinya.
                                                                         ***
 Enam bulan kemudian.
Aku kembali lagi ke sini, duduk di sofa empuk yang menghadap jendela di café ini. Café dengan sejuta kenangan. Aku sangat menyukai café ini, café yang begitu tenang. Tak terlalu banyak orang memilih duduk di sofa ini. Sofa ini memang spot favoritku karena cukup tersembunyi dan kurang strategis bagi pengunjung yang ingin menyaksikan siaran TV kabel. Seperti biasa, aku memesan milktea dan juga seporsi lasagna.  Kali ini aku sengaja pergi ke café ini sendiri, tidak bersama teman-temanku dan tentunya tidak bersama Arik. Café ini selalu kukunjungi bersama Arik jika ia datang ke Bandung.

Arik, nama ini terucap kembali. Arik, kamu adalah kenanganku, kenangan yang akan mengisi hari-hariku. Kamu menyadarkanku kalau memang cinta itu tak boleh egois. Cinta itu bukan berarti kebahagiaan sepihak. Cinta bisa lebih bermakna jika kita dapat memikirkan kebahagiaan semua orang.
                                                            ***
Pada hari itu, di rumah sakit, ayah ibumu memberiku surat. Surat darimu. Surat yang kau tulis dengan penuh cinta untukku. Di situ kau menjelaskan semuanya, semua tanda tanya yang ada dalam pikirku akan dirimu termasuk perempuan di cafe itu. Ternyata ia adalah dokter yang merawatmu saat kamu berada di Yogya.  Lamunanku terhenti ketika kurasakan getar ponsel dari saku jaket pink-ku. Ternyata itu SMS dari Doni.

Hi, La! Aku sedang di taman tulip, nih. Indah banget. Nanti aku kirim fotonya, ya, La. Eh, kamu sudah makan, kan? Cepet maka! Jangan kebanyakan bengong, ya, La!

Doni, ia adalah sosok pria yang baik, sama seperti dirimu, Rik. Namun aku tak mau egois. Aku ingin dapat sepertimu, Rik. Sebulan setelah kejadian di rumah sakit itu, akhirnya aku bisa menceritakan semua hal tentang Arik padanya. Aku pun menjelaskan juga tentang perasaanku pada Doni. Saat ini, aku menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih. Aku tak ingin ‘mengikatnya’ dengan terus meminta berada di sisiku. Aku ingin dia mendapatkan perempuan yang mencintainya. Dua bulan yang lalu Doni pergi ke Belanda untuk mengambil program master. Kuharap ia bisa menemukan perempuan yang cocok. Aku pun di sini akan belajar untuk membuka hati bagi lelaki lain.

                                                                        ***

Doni terus memandangi layar ponselnya. Berharap Lyla segera membalas SMS-nya. Taman tulip yang indah ternyata tak dapat mengobati kerinduannya pada Lyla. Doni pun paham bahwa ia tak boleh egois. Lyla, tahukah kau, aku pun ingin melihatmu bahagia. Aku akan bahagia jika kau sudah menemukan kebahagiaanmu, bahagia yang kau tunggu-tunggu selama ini.
                                                                       
***
Hari ini, genap enam bulan Doni pergi ke Belanda. Beberapa kali aku melihat layar ponselku. Tidak ada SMS atau miscall dari Doni. Sudah sebulan ini Doni mulai jarang menghubungiku. Biasanya, minimal satu SMS dia kirim setiap harinya. Tapi kenapa akhir-akhir ini seminggu sekali pun tidak? Kenapa aku merasa kehilangan? Mungkinkah Doni sudah bertemu seseorang di sana. Kenapa aku sedih ketika memikirkan itu? Akhirnya, aku mengetik SMS untuk Doni.

“Don, lagi ngapain kamu? Don, kalau kamu sudah menemukan seseorang di sana, kabari aku, ya. “

Aku membaca pesan itu sekali lagi. Sent. Delivered. Aku menatap layar ponsel, menunggu balasan dari Doni. Satu menit, dua menit, setengah jam, satu jam. Tidak ada balasan. Aku tinggalkan ponselku di kamar. Perasaanku campur aduk. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri.

Esok hari, baru aku dapatkan balasan dari Doni. “Oke.” Hanya itu balasannya. Hanya itu.

                                                                        ***
Doni memandang hamparan salju di hadapannya. Cuaca dingin menusuk tulang membuatnya mengencangkan coat panjang dan tebal yang dipakainya. Ia tersenyum setelah kata ‘delivered’ tertera di layar ponselnya. Doni membaca lagi SMS dari Lyla yang diterima beberapa jam lalu.

“Don, lagi ngapain kamu? Don, kalau kamu sudah menemukan seseorang di sana, kabari aku, ya. “ Ia sengaja tidak langsung membalas SMS.

“Ya, aku sudah menemukan seseorang, La. “ jawab Doni sambil tetap tersenyum. Ah... such a beautiful winter, ucap Doni dalam hati.

***
Jawabannya Cuma, “Oke.” Tak ada SMS lagi sesudah itu. Kemana sih, anak itu? Aku jadi semakin sering bertanya-tanya mengenai Doni. Sekarang, aku yang sering mengiriminya SMS. Tapi, tidak setiap pesanku dia balas. Mungkin dia sibuk di sana.

Tok! Tok! Tok!
Suara pintu diketuk. Ke mana Ibu?
Tok! Tok! Tok!
Kemana orang-orang?
“La, tolong bukakan pintu! Ibu sedang tanggung, nih, lagi maskeran.”
“Iya, Bu.”
Aku bangkit dari tempat tidur dan menuju pintu. Kubuka pintu. Aku ternganga.
“ Hai, La. Kamu kangen aku, nggak?”

Doni! Aku mengucek mataku. Apakah aku bermimpi? Sosok itu tersenyum. Senyum yang selama ini diam-diam kurindukan. Aku meraba tanganku dan kucubit kulitku. Sakit. Aku meringis. Sosok di depanku semakin lebar senyumnya dan mulai tertawa. Ia kemudian mengacak-acak rambutku. Benar, ini kenyataan, bukan mimpi. Aku tersenyum. Tiba-tiba, aku merasakan musim semi di hatiku.
***

Kolaborasi Iin Indriyati & Dhika Mustika
Bandung, Mei 2013

5.5.13

Pesawat

Aku berada di pesawat dari Denpasar menuju Jakarta. Setelah mendengar berita kecelakaan Lion Air kemarin sore, aku sedikit was-was untuk naik pesawat. Ditambah lagi dengan hujan lebat yang mengguyur kota ini disertai angin dan guntur yang menggelegar sejak subuh.Untunglah, sampai di bandara Ngurah Rai hujan reda. Mendung masih menggantung. Mudah-mudahan perjalanan lancar sampai tujuan, gumamku dalam hati. Tak ada delay untuk penerbanganku. Syukurlah. Kalau delay, rencanaku bubar semua.

Pilot sudah memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat take off. Jadi para penumpang diminta untuk mengencangkan sabuk pengaman dan mematikan ponsel. Penumpang di sebelahku mulai berdoa. Ah..buat apa berdoa, pikirku. Kuambil majalah dan mulai membaca. Pesawat mulai terbang dan melayang di udara. Cuaca masih mendung. Pesawat agak berguncang-guncang. Orang di sebelahku semakin khusyu berdoa. Untuk apa berdoa seperti itu? Pastilah selamat. Sekarang kan sudah canggih, kataku dalam hati. 

Orang di sebelahku sudah melepaskan seat belt-nya. Lho.. tandanya kan masih menyala. Aku ingin memberitahukannya tapi lidahku kelu. Tidak ada satu pun kata keluar dari mulut ini. Lima belas menit sejak take off, tanda seat belt masih menyala. Aku melirik bangku depan dan sebelah kanan gang kursi penumpang. Kenapa tanda seat belt mereka sudah mati? Orang yang berada di sebelah kananku sudah membaca buku. Bahkan orang yang berada di sebelahnya lagi sudah berdiri dan berjalan menuju toilet. Awak pesawat sudah membawa-bawa troli makanan.

Kenapa tanda seat belt di depanku masih menyala? Kenapa hanya punyaku? Kurasakan guncangan pesawat. Di luar langit masih mendung. Aku melihat keadaan di dalam pesawat. Semua berjalan seperti tidak ada apa-apa. Tapi mengapa aku merasakan guncangan begitu keras? Akhirnya aku memutuskan untuk berdoa, kegiatan yang tadi kucemooh. Tapi tak satu pun doa kuingat. Sudah lama aku tidak berdoa. Aku mulai cemas. Aku membayangkan jika pesawat ini jatuh, sudah pastilah aku hancur. Aku mengumpulkan ingatanku. Ingatan tentang doa-doa dan ayat-ayat suci yang pernah aku baca dan hafalkan. Dulu, dulu sekali ketika aku kecil. Ya Allah, tidak ada yang kuingat sedikitpun. Aku pejamkan mataku. Konsentrasi Renata, konsentrasi. Kamu pasti bisa, kumotivasi diri sendiri. Keringat mulai bercucuran. Kecemasan semakin meningkat. Guncangan tak sekalipun mereda. Bahkan semakin keras. Aku tidak berhasil memanggil kembali ingatanku tentang doa-doa dan ayat-ayat suci. Aku pasrah. Kusebut-sebut nama Tuhanku. Ya, hanya nama Tuhanku yang aku ingat. Aku mulai menangis. Ada ketakutan yang amat sangat. Kusebut-sebut nama Tuhan, pencipta diriku dan alam semesta. Aku menangis karena terbayang dosa-dosaku. Betapa aku selama ini melupakan diri-Nya. 

Pasrah. Sekarang aku pasrah. Apa pun yang terjadi, kuserahkan hidupku pada-Nya. Ketenangan mulai kurasakan. Kulihat sekeliling. Tidak ada keanehan, kepanikan, kecemasan. Semua tenang. Kenapa hanya aku saja yang merasakan? Kupejamkan mataku. Kusebut nama Allah. Guncangan kurasakan mulai berkurang. Pesawat tenang kembali. Kubuka mataku. Matahari mulai muncul di balik awan. Aku mengucap syukur tak henti-hentinya. Kuusap air mataku. Ya Allah, apa yang terjadi denganku? Kuedarkan pandangan. Semua berjalan seperti biasa. Tenang. Orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. Awak pesawat masih berkeliling menawarkan makanan dan mengantarkan pesanan. Apa yang terjadi padaku? Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, aku mengerti bahwa aku tidak bisa melawan Tuhan.

28.4.13

Di Kafe, Suatu Sore

           “Kamu berubah.”
Suara hening dan suasana temaram di kafe ini dipecahkan oleh suara Thania. Bau rokok dari luar berhembus ke tempat kami berbicara.
            “Kamu juga, “ jawabku.
Jangan, jangan bayangkan kami, dua perempuan yang sedang beradu mulut dengan suara tinggi. Apalagi saling menjambak. Kami duduk berhadapan, dengan taraf suara normal. Kami tidak sedang bertengkar. Bukan juga dua kawan yang sudah lama tidak bertemu. Kami berdua setiap hari bertemu karena bekerja di tempat yang sama. Hanya sekarang-sekarang ini kami memang mulai jarang saling bercerita.
            “Berubah apanya?” aku bertanya pada Thania.
            “Dulu, kalau aku bercerita, kamu akan memberikan komentar dengan tenang. Akhir-akhir ini, waktu aku cerita padamu, tanggapanmu berbeda. Agak keras, “ Thania menjelaskan padaku. Aku termenung, mencoba mengingat-ingat apa saja topik yang belakangan aku bicarakan dengan Thania. Aha..dua topik terakhir yang kami bicarakan adalah tentang ketidakhadiran Thania pada suatu acara dan masalah dalam divisi Thania. Ya, kami memang berbeda divisi.
           “Oh, yang itu, ya.” Aku tidak menjelaskan tentang yang ‘itu’ tapi Thania mengiyakan. Sepertinya kami memikirkan hal yang sama. “Hal itulah yang membuatku mengatakan kamu berubah, Thania,” aku melanjutkan. Thania terdiam, seakan menunggu melanjutkan berbicara. Aku pun melanjutkan.
           “Thania yang aku tahu adalah Thania yang bertanggung jawab. Ketika aku tahu kamu bolos pada saat acara itu padahal kamu penanggung jawabnya, aku merasa kamu bukan Thania yang aku kenal, “ aku mulai berbicara lagi. Thania tercenung. Entah apa yang dipikirkannya. Apakah ia setuju atau tidak dengan pendapatku, aku tidak tahu.
 “ Saat itu, aku merasa bahwa masalah yang sedang menimpamu benar-benar berat dan mungkin kamu sudah tidak mampu menahannya sehingga akhirnya kamu memutuskan untuk tidak datang pada acara itu,” aku berhenti. Thania masih termenung. Ia memotong steak-nya dan menusukkan garpu pada potongan steak itu. Di luar, hari sudah semakin gelap. Aku menunggu Thania berbicara. Tapi, ia tak kunjung bersuara. Jadi, aku bersuara lagi.
“Maafkan aku yang sudah berkata ‘pedas’. Aku ingat aku mengatakan bahwa setiap orang penah melakukan kebodohan. Mungkin kata-kata itu juga yang membuatmu kaget, Thania. Mungkin kamu berbeda pendapat. Sungguh, aku tidak pernah punya maksud untuk menyakitimu. Aku hanya merasa peduli padamu. Jika kamu lupa, aku berusaha menyadarkanmu. Sebagai temanmu, aku berusaha untuk membantumu keluar dari masalah yang menekanmu. Jangan kau pendam sendiri masalahmu. Kamu butuh melepaskan segala unek-unek yang kau rasakan. Sepertinya kamu benar-benar mengalami masa-masa sulit. “ Thania masih diam. Apakah ia marah? Ataukah ia sedang merenungkan ucapanku? Aku sama sekali tidak tahu.
“Ya, mungkin keputusanku salah waktu itu, “ akhirnya aku mendengar suara Thania. Syukurlah, dalam hati aku bersyukur mendengar suaranya.
“Satu lagi, masalah yang kita bicarakan di lab. Aku tidak bermaksud untuk berkata keras padamu. Mungkin kekesalan mendorongku bernada agak keras. Melihat permasalahan itu, aku hanya melihat adanya kesalahpahaman. Itulah yang membuat aku kesal. Maafkan aku, “ aku memandang Thania yang sekarang sedang meminum jus-nya. Aku mengambil ice cappucino dan meminumnya. Kuambil pisau dan mulai memotong steak. Kami berdua sama-sama diam. Bau rokok kembali menyebar di ruangan ini.
 “Than, jangan kau pendam sendiri masalahmu. Kamu butuh keluar dari rutinitas. Itu yang menekanmu,” untuk kesekian kalinya aku mengajaknya untuk ‘keluar’ dari kungkungan tembok-tembok rutinitas. Ia masih tetap terdiam. Ada apa dengan Thania? Kenapa ia jadi pendiam sekali.
“Kei, kamu berubah, tapi kamu tetap temanku, “ suara Thania memecah keheningan kami.

Aku tersenyum. Kuhabiskan steak. Hari semakin malam. Aku dan Thania keluar. Senang atau tidak, setiap manusia mungkin akan mengalami perubahan. Life is not flat. Thania, aku peduli padamu, bisikku saat kami berpisah. Aku ingin bertemu Thania yang dulu. Bagilah masalahmu. Jangan kau pendam sendiri. Apakah kamu ingin bertemu Keisha yang dulu juga? Aku mulai melangkah pergi, meninggalkan kafe yang sering kami datangi.

Bandung, 
Minggu pagi.

26.4.13

Taman di Atas Bukit

Taman itu terletak di atas bukit. Kujadikan sebagai tempat melepas kepenatan. Fisik dan psikis. Alam sekitar yang kupandangi dari taman di atas bukit ini menenangkan jiwaku. Baca buku, mendengarkan musik, atau hanya sekedar memandangi anak-anak bermain ayunan. Aku ‘menemukan’ taman itu setahun lalu. Suatu peristiwa tiga bulan lalu membuatku lebih sering lagi datang ke sana. Keluarga dan sahabatku sampai heran dengan ‘ketagihanku’ pada taman itu. Setiap Jumat sore, selepas aku mengajar, aku berdiam diri di taman itu. Dugaan-dugaan rasa ingin tahu teman-temanku kemudian berkembang menjadi gosip tak bertanggung jawab. Kebanyakan mereka menduga aku ke sana karena bertemu pacarku.

Rakha, adikku, pernah bertanya, “Mbak, kamu ke sana ketemu siapa, sih? Sepulang dari sana, wajahmu selalu berseri-seri. Cowok, ya? Kenalin dong, Mbak?”

Aku heran. Setiap kali aku merasa senang, orang-orang di sekitarku sering menyangka pasti berhubungan dengan seseorang.  Padahal, sampai sekarang, aku masih single fighter. Setiap kali kutantang mereka untuk ikut denganku, mereka menjawab, “Takut ganggu.” Ya, sudah. Toh aku tidak terlalu memusingkan hal itu. Seperti juga hari ini. Untuk kesekian kalinya aku mendaki bukit ini dan duduk di sana.

Betul, aku memang bertemu dengan seorang lelaki setiap kali aku ke sana. Sekali lagi kutegaskan, lelaki itu bukan pacarku. Aku menganggap beliau sebagai guruku. Aku, seorang guru yang berguru pada maha guru. Mengapa? Tiga bulan lalu, pertemuan tidak sengaja telah terjadi. Aku yang sedang berada di tengah kegalauan datang ke taman ini. Perasaan tidak mampu sedang menyelimutiku saat itu. Aku baru sembilan tahun menjadi guru. Saat itu, aku merasa aku tidak sanggup membuat murid-muridku menjadi anak yang senang belajar. Aku merasa gagal. Tugas-tugas rutin mengajar dan administrasi kurasakan sebagai beban. Sampai aku bertemu lelaki itu. 

Lelaki tua itu melihat kegalauan di mataku. Beliau duduk di sebelahku. Ia mulai mengajakku bicara tentang hal-hal ringan seperti cuaca, kemacetan, udara panas, dan sebagainya. Juga berkomentar tentang suara riuh rendah anak-anak yang bermain di taman itu. Beberapa diktat dan buku yang kubawa serta dengan mudah menunjukkan profesiku.
                “Opa juga dulu seorang guru, “ beliau ‘buka kartu’ dan menyebut dirinya ‘Opa’.
                “Wah.. Opa, sama dong dengan saya, ” aku ikut-ikutan memanggil ‘Opa’.
                “Sudah berapa tahun menjadi guru?”
                “Baru jalan sembilan tahun, Opa, “ jawabku.
                “Sudah lama.”
                “Ah.. Opa, baru sebentar, kok.”
Mulailah kami membicarakan profesi kami. Kecermatan yang dimiliki Opa dalam menebak apa yang sedang kualami membuatku tak bisa menutupi apa yang sedang terjadi. Aneh. Aku dengan mudahnya bercerita tentang apa yang kurasakan. Padahal, aku bukan orang yang mudah berbicara tentang perasaan. Apalagi pada orang baru. Kecuali pada papa. Opa adalah orang kedua yang bisa membuatku terbuka setelah papa.

Sejak itu, kami sering bertemu. Aku berguru pada Opa bagaimana menjadi guru. Opa mengajariku tentang apa itu guru dan bagaimana menjadi guru.

Suatu ketika, aku merasa sangat malu. Saat itu, aku dan Opa bertemu lagi. Aku bertanya pada Opa sudah berapa lama ia menjadi guru. Opa menjawab kalau Opa ‘baru’ 40 tahun menjadi seorang guru. Sejak pertama bekerja, Opa sudah memutuskan untuk menjadi guru.
                “Apa yang membuat Opa begitu betah menjadi guru selama 40 tahun?” waktu itu aku bertanya pada Opa. Saat itu, Opa menjawab sambil tersenyum.
                “Ketika Opa memutuskan bahwa Opa menjadi guru, saat itu pulalah Opa melakukan kontrak tidak tertulis dengan diri Opa. Opa harus komit terhadap apa yang sudah Opa putuskan. Itu bentuk tanggung jawab terhadap keputusan yang Opa buat. Termasuk resiko yang harus Opa tanggung.”

Aku terdiam. Serasa tertusuk-tusuk hatiku mendengar penjelasan Opa. Usia profesiku baru seumur jagung bila dibandingkan dengan usia pengabdian Opa. Namun, aku sudah begitu banyak mengeluh. Aku malu.
***
Untuk kesekian kali kami bertemu lagi. Sekarang sudah menjadi semacam rutinitas di Jumat sore. Teman-temanku semakin curiga. Keluargaku juga. Apa kata mereka jika tahu aku pergi menemui seorang kakek-kakek tua dengan rambut putih di seluruh kepalanya? Akankah mereka menggosipkan aku seperti dulu? Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan bahwa jiwaku merasa tenang setiap kali aku bertukar pikiran dengan Opa. Aku bercerita pada Opa tentang rekanku yang sedang terkena masalah. Ia sudah lama tidak datang bekerja.
                “Tenang saja. Ia akan kembali. Ke mana lagi seorang guru akan pergi kalau bukan ke sekolah?”

Kembali jantungku seakan tertusuk oleh perkataan Opa. Teringat olehku bahwa aku kadang merasa sangat malas untuk pergi ke sekolah.
              “Opa, apakah kalau aku malas ke sekolah berarti aku bukan guru?” aku bertanya pada Opa.
                “Sera, menjadi guru adalah panggilan jiwa. Kamu akan bisa merasakannya apakah jiwamu terpanggil untuk menjadi guru, atau hanya merasa ‘terpaksa’ menjadi guru.

Aku semakin malu pada diriku dan pada Opa. Juga pada Papa, jika beliau masih hidup. Papa juga seorang guru yang terus mengabdi sampai akhir hayat. Apalah artinya aku ini. Banyak mengeluh, pemalas, sering merasa sebagai guru tersibuk di seluruh dunia. Opa membuka mataku.
***
Tiga bulan sudah berlalu sejak awal pertemuanku dengan Opa. Selama itu pula, aku tidak pernah menanyakan siapa namanya. Aku sudah merasa cukup dengan memanggilnya Opa. Rumor yang berkembang antara aku dan Opa semakin menggila. Ada yang bilang katanya aku pacaran dengan Opa. Pikiran gila, aku bergumam. Keluargaku pun mulai mengkhawatirkan aku. Kuminta mereka membuktikan dugaan mereka dengan pergi denganku, tapi mereka tak mau.  Pengecut! Beraninya hanya di belakang dan mengumbar gosip tak jelas. Namun, aku tetap tak peduli. Hingga sekarang aku masih tetap setia berkunjung ke taman di atas bukit ini. Seperti hari ini.

Hari sudah mulai sore. Opa tidak datang. Minggu lalu, Opa berjanji akan memberikan buku yang katanya bagus untuk kubaca. Mungkin kali ini Opa berhalangan hadir. Aku pun pulang ketika hari mulai menjelang malam.
***
Jumat minggu depannya, aku mendaki lagi ke taman itu. Hingga matahari terbenam, Opa tidak datang. Aku mulai bertanya-tanya mengapa Opa tidak datang. Apakah beliau sakit? Atau pergi ke luar kota? Selama ini, aku tidak pernah menanyakan alamatnya dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Akhirnya aku pulang dengan berbagai pertanyaan dalam hati.
***
Sudah empat minggu aku tidak bertemu dengan Opa. Aku merindukan petuah-petuahnya. Aku kehilangan kata-kata yang membangkitkan semangatku. Ketenangannya seakan menular padaku. Opa seperti pengganti papaku. Aku masih tetap menunggunya datang setiap Jumat sore. Namun, seperti Jumat-Jumat sebelumnya, beliau kali ini pun tidak datang.
***
Jumat minggu kelima sejak terakhir aku bertemu Opa. Aku mendaki bukit ke taman. Duduk di bangku depan ayunan. Anak-anak berlarian. Suara teriakan terdengar di mana-mana. Aku menunggu. Menunggu janji Opa untuk membawakanku buku. Hari menjelang senja ketika aku melihat Opa tertatih-tatih mendaki bukit. Wajahnya pucat namun senyumnya tersungging di wajahnya.
                “Opa, apa kabar? Wajah Opa pucat. Opa sakit?”
                “......”
                “Opa, kenapa Opa diam saja?”
Opa tetap diam. Namun, senyum masih tersungging di wajahnya. Perlahan-lahan, Opa berdiri dan pergi. Masih dengan wajah tersenyum, ia membalikkan badan dan meninggalkanku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku memandang punggungnya. Opa, ada apa denganmu? Aku tak mengerti.
***
Jumat sore.
Aku kembali lagi ke taman ini. Satu harapanku. Aku bertemu Opa dan mendapatkan penjelasan mengenai tingkah anehnya minggu lalu. Lima belas menit, setengah jam, satu jam, Opa tidak juga datang. Taman mulai sepi. Seorang lelaki baru saja datang ke taman ini. Ia mengamatiku. Rasa khawatir mulai merayapiku. Kenapa ia mengamatiku? Aku melihat sekeliling, mencari akal kalau-kalau ia berniat tidak baik. Wajahnya seperti kukenal. Tapi di mana? Siapa dia?

Lelaki itu mendatangiku.
                “Sera?” Lelaki itu bertanya padaku. Aku mengangguk tak mengerti. “Aku Dean, cucu Opa Shandy.” Aku baru tahu kalau nama Opa adalah Shandy.
                “Oh. Mana Opa? Kenapa Opa jarang ke sini lagi? Opa datang ke sini Jumat lalu, tapi Opa tidak berkata apa-apa. Apakah Opa baik-baik saja?” Aku langsung memberondong Dean dengan pertanyaan-pertanyaanku.
                “Opa datang ke sini Jumat lalu?” Dean bertanya dengan nada heran.
                “Iya. Waktu itu aku tanya padanya tapi Opa tidak menjawab sepatah kata pun.”
Dean terdiam. Ia seperti tercenung. Dean kemudian membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah buku. Kubaca judulnya.
                “Buku itu...,” Aku tidak melanjutkan kata-kataku.
                “Opa memberikannya padaku seminggu yang lalu. Beliau berpesan padaku bahwa aku harus memberikannya padamu karena beliau telah berjanji untuk memberikan buku ini.” Dean mengangsurkan buku itu padaku. Aku menerimanya, masih dengan ketidakmengertianku.
                “Kenapa Opa tidak ke sini?” Aku bertanya pada Dean.
                “Opa punya harapan. Opa ingin ada anaknya atau cucunya yang meneruskan jejaknya menjadi guru. Tapi, tidak satu pun di antara kami menjadi guru. Opa merasa sedih. Ketika Opa bertemu denganmu, Opa merasa harapannya terpenuhi. Opa sudah menganggapmu seperti cucunya sendiri. Kami semua sempat iri padamu. Kenapa Opa begitu menyayangimu? Bahkan, kami sempat berpikir buruk tentangmu.” Pikiranku sudah mulai mengembara ke mana-mana. Menebak-nebak ke arah mana pembicaraan ini.
                “La..lalu mana Opa?” Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
                “Sera, Opa meninggalkan kita semua Jumat lalu.”
                “......” Aku tidak dapat berkata apa-apa. “Tidak. Opa datang ke sini Jumat lalu.” Aku bersikeras membantah kenyataan.
                “Opa ‘pergi’ Jumat lalu. Sebelum ‘pergi’, Opa ingin agar aku memberikan buku itu padamu. Aku tahu beliau sering pergi ke taman ini setiap Jumat sore. Karena itu, aku juga datang pada waktu yang sama dengan kedatangan Opa.”
Mataku mulai memanas. Aku membuka halaman depan buku. Ada tulisan Opa di sana.

Sera, terima kasih karena Sera berniat menjadi penerus Opa. Opa senang karena Sera adalah satu-satunya cucu Opa yang bersedia meneruskan jejak Opa. Teruslah menjadi guru, Sera. Penuhi panggilan jiwamu.

Aku terisak. Semakin lama semakin keras. Dean membiarkanku menumpahkan perasaanku. Bahuku terguncang-guncang. Setelah beberapa saat, aku mulai tenang. Aku membuka lembar demi lembar buku yang diberikan Opa. Sampai halaman terakhir, ada tulisan Opa lagi.

Sera, maafkan Opa. Opa tidak bisa lagi datang menemuimu, Cucuku. Opa harap, Dean bisa menggantikan Opa menemanimu setiap kamu datang ke taman itu. Dean adalah cucu laki-laki kesayangan Opa, sama seperti kamu.

                “Kamu membaca tulisan Opa di halaman terakhir, Dean?” Aku bertanya pada Dean.
                “Ya.” Dean menjawab sambil tersenyum. “Setiap kali bertemu denganmu, Opa pasti memanggilku dan bercerita tentangmu. Aku jadi ingin tahu seperti apa Sera yang selalu Opa ceritakan. Aku tidak punya saudara perempuan. Kamu sudah Opa anggap sebagai cucu. Cucu perempuan kesayangan Opa.”

Air mata kembali menetes di pipiku. Kuusap air mataku dengan punggung tanganku.
                “Dean, aku ingin bertemu Opa. Temani aku ke sana, Dean.”
                “Ya, besok kita pergi. Sekarang hari sudah mulai malam. Ayo, aku antar kau pulang.”
Aku bangkit dari tempat dudukku. Serasa ada yang hilang dari hatiku.
***
Sabtu siang, aku bersama Dean mendatangi Opa. Tanah merah itu masih basah. Aku membawakan bunga mawar merah kesukaan Opa. Opa pernah bilang padaku bahwa ia menyukai mawar merah. Aku berdoa semoga Opa tenang di alam sana dan berada di tempat yang layak di sisi-Nya. Tidak lama aku berdiri di depan pusara Opa. Setelah berdoa, kami pulang.
                “Terima kasih, Sera. Kau sudah membuat Opa bahagia di akhir hidupnya. Saat Opa pergi, senyum damai tersungging di wajahnya. “ Dean berkata padaku saat kami berada di dalam mobil di pelataran parkir pemakaman.
Aku tercekat. Air mengalir dari mataku. Dean mengulurkan tisu. Aku menerimanya.
                “Mudah-mudahan kau setuju dengan Opa.”
                “Setuju? Setuju untuk apa?”
                “Setuju kalau aku akan menemanimu di taman bukit itu.”

Aku tertawa dengan air mata yang masih mengalir. Aku mengangguk. Dean tersenyum. Ia mengacak rambutku. Kutatap Dean. Ah... aku tahu kenapa aku seperti pernah melihat Dean. Opa Shandy. Dean mirip sekali dengan Opa Shandy. Hanya saja, rambutnya masih hitam dan kulitnya masih kencang. Kami meninggalkan komplek pemakaman di mana Opa tinggal untuk selamanya. ***

14.4.13

'Dilayukan' Sebelum Berkembang

Usia 16 tahun lebih sekian bulan. 
Aku benci sekali ketika bangun di pagi hari ini. Minggu ospek masih berlangsung. Jam masuk sekolah tiba-tiba menjadi sangat pagi. Pukul 5.30 harus sudah di sekolah, tidak  boleh diantar, harus begini, begitu, dan begitulah. Capek! Belum lagi kalau sudah ada perintah dari panitia bahwa para murid baru harus ke aula. Ketahuilah, hai, Kawan! Akulah si murid baru beserta sekian ratus murid baru lainnya. Buatku, kata 'aula' yang sering disebutkan saat itu selalu berasosiasi dengan hal yang buruk. Sungguh buruk. Penuh dengan kecemasan. Ya! Kecemasanku. Aku benci ketika harus ke aula dan tingkat kecemasanku meningkat. Bagaimana tidak, di sana kami semua dibentak-bentak, dimarahi, ah.. pokoknya penyiksaan. Panitia jelas-jelas egois dengan peraturannya yang cuma ada dua pasal itu. Pasal 1 : Panitia tidak pernah salah. Pasal 2: Jika panitia salah, lihat pasal 1. Betul, kan, egois dan otoriter. Menyebalkan! 

Oh.. ternyata oh ternyata, tidak semua panitia yang notabene anak kelas tiga itu semuanya menyebalkan. Satu orang panitia menarik perhatianku. Bukan lelaki dengan tubuh tinggi yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler favorit di sekolah, tapi lelaki agak pendek (lebih tinggi dari aku) bertubuh gempal dengan kulit sawo matang. Entahlah apa yang membuatku menaruh perhatian padanya. Rasa suka kadang-kadang muncul tanpa diminta dan tanpa alasan. Betul? Termasuk rasa sukaku pada Mas Radya. Di sekolahku, adik kelas memanggil kakak kelasnya Mas dan Mbak. Maklum, daerah tempat tinggalku adalah daerah campuran antara Jawa dan Sunda tapi lebih kental Jawa-nya daripada Sunda-nya.

Dua bulan dari saat itu.
Rasa itu semakin kuat. Rasanya senang hanya melihatnya meskipun dari jauh. Serasa melayang ketika ia tersenyum padaku. Terkagum-kagum ketika ia bicara dengan matanya yang berbinar-binar. Menunggu saat-saat ia lewat di depan kelasku. Yang paling membuatku semakin kuat rasa sukanya adalah ketika dalam salah satu acara sekolah ia tampil. Bermain gitar dengan bagusnya. Oh, Tuhan, benar-benar lelaki impianku. Aku selalu memuja siapapun yang bermain gitar dengan apik. Kecuali pengamen jalanan yang menyanyi seadanya hanya karena target utamanya adalah mengumpulkan uang, bukan menghibur penumpang kendaraan umum. Tuhan, baru kali ini aku punya rasa yang kuat terhadap seorang lelaki di masa remajaku.

Tiga bulan setelah itu.
Aku melihat Mas Radya melewati lapangan basket. Jantungku berdebar-debar, mataku terasa (sepertinya) berbinar-binar. Ia tidak berjalan sendiri. Seorang perempuan bertubuh tinggi (melebih Mas Radya) kurus berjalan di sebelahnya. 

     "Itu Mbak Anne, pacarnya Mas Radya." Suara Litha tiba-tiba memecah kesunyian.
     " Oh, itu pacarnya." Aku sepertinya bisa mendapat piala citra. Kenapa? Karena aku menimpali dengan suara tenang sementara genderang bertalu-talu di dadaku. Hebat, kan?
     
     "Iya, katanya, sih, mereka pacaran dari kelas dua. " Litha berkata lagi. Aku belum pernah bercerita pada siapa pun (termasuk Litha) tentang perasaanku. Entahlah apa yang membuatnya menceritakan tentang Mas Radya dan Mbak Anne. Mungkin karena melihat aku memperhatikan mereka. 
     "Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulutku.
     "Mbak Anne itu kakaknya Laydia." 
     "Oh.." Kembali aku mengucapkan 'oh'. Laydia adalah teman kami tapi beda kelas. Sama-sama siswa baru di sekolah ini.

Kringg!!! Suara bel masuk membuat kami berbalik badan dan menuju kelas. Saved by the bell.

Aku terus mengagumi. Hanya berani memendam rasa suka karena tahu ia sudah punya pacar. Selama setahun kami satu sekolah, aku beberapa kali melihat ia tampil bermain gitar, sering melihatnya di sekolah, di kegiatan ekstrakulikuler, dan semuanya tertata rapi di hatiku. Ya, hanya di dalam hatiku. Waktu terus berjalan. Rasa sukaku sudah kutiup jah-jauh sejak aku tahu ia sudah punya pacar. Sepuluh tahun kemudian, ketika aku bertemu dengan teman-temanku, aku tahu bahwa Mas Radya sudah menikah dengan Mbak Anne. Tapi, saat itu, rasa sukaku sudah hilang tak berbekas.