16.8.13

Lima Menit Kemudian

Sambungan dari cerita Sepasang Sepatu Tua dan Tombol Pengingat
                                                       
                                                           ***
Orang yang berdiri menjulang di depanku adalah Niko. Betul! Niko. Ia memakai sepatu yang sama denganku, hampir sama, karena ternyata Niko melihat adanya perbedaan. Bulatan di ujung sepatu yang seperti tombol yang mengingatkan Niko pada sepatuku. Dengan adanya Niko di depanku saja aku sudah sangat terkejut. Apalagi ketika ia mengatakan kalau ia kangen padaku. Rindu yang seperti apa? Bagaimana bisa begitu? Aku memang rindu padanya. Namun, seperti yang sudah kukatakan, aku tidak terlalu berharap bertemu dengannya. Sekarang, ketika ia di depanku, kejadian ini sungguh merupakan berkah yang amat sangat. Lebih dari apa yang kuharapkan. 

Kami saling bertukar kabar seperti layaknya teman yang sudah lama tidak berjumpa. Ya, kami memang sudah lama berpisah, kan? Perasaan gembira dengan kejadian tak terduga ini masih sangat terasa sampai lima menit kemudian aku seperti tertimpa batu besar. Kekagetan gembira berganti dengan kaget yang menghantam dada. 

Lima menit kemudian setelah kami saling bertukar kabar dan melepas tawa, datang seorang anak kecil mendatangi kami. 

     "Pa, ayo pulang! Katanya mau main lego. Sekarang, yuk!"
     "Kevin, sabar, dong. Oh ya, kenalkan, ini teman Papa. Namanya Tante Iliana.Iliana, ini Kevin."

Senyumku hilang seketika. Aku mengutuk diriku sendiri kenapa aku begitu ekspresif dalam menanggapi sesuatu. Tidak bisakah aku bersikap poker face, pura-pura cool meskipun sangat mengejutkan? Niko pasti merasakan perubahan raut mukaku karena aku menangkap sekilas perubahan di wajahnya juga. Aku memang bukan ahli membaca raut wajah seperti dalam film 'Lie To Me', tapi aku cukup peka terhadap hal itu.

     "Rumahku dekat sini, Iliana. Tadi aku bilang pada Kevin kalau mau lari pagi ke sini. Yuk, main ke rumahku!" Ajak Niko.
     "Di mana rumahmu?" Aku berusaha menjawab dengan nada 'biasa-biasa saja.'
     "Tuh.. ke kanan, lima rumah dari rumah pertama. Rumahmu juga pasti dekat sini."
     "Ehmm.. memang. Itu rumahku berlawanan arah dengan rumahmu. Nomor 25."
     "Pa, ayo, dong!" Kevin, anak kecil yang memanggil Niko dengan sebutan 'papa' kembali mengajak papanya.
     "Kev, Papa belum lari-lari, lho." Kata Niko
     "Lho, lalu dari tadi Papa, ke mana?" Tanya Kevin
     "Papa di sini, tapi Papa mengobrol dengan Tante Iliana. Kami teman lama. Baru bertemu. Jadi Papa lupa kalau Papa mau lari."
     "Ajak aja Tantenya ke rumah. Yuk, Tan! Main ke rumah." Kevin mengajakku.
     "Ehm.. Tante ingin sih, main ke rumah Kevin, tapi Tante sekarang harus pulang. Tante ada janji. Lain kali saja, ya." Aku menolak ajakan Kevin dan Niko dengan halus.
     "Benar, ya, lain kali harus main, lho. Ternyata kita bertetangga." Kata Niko
     "Iya, Tante. Main-main, ya, ke rumah. Biar Papa nggak kerja melulu. Kevin kan nggak punya teman kalau Papa kerja terus." Kevin ikut menimpali.
    "Iya, kapan-kapan, Tante main ke sana."
     "Eh, tunggu! Nomor ponsel." Niko membatalkan langkahnya dan kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia memberikannya padaku dan memintaku mengetikkan nomor ponselku. Aku menuruti keinginannya, lalu memberikannnya pada Niko. Niko mengamati layar ponselnya. Ia menempelkan ponselnya ke telinganya. Terdengar nada dering ponselku.
     "Itu nomorku. Simpan, ya." Sesudah itu, ia pergi. Kevin melambaikan tangan padaku. Niko tersenyum. Aku membalasnya. 

Aku menghembuskan napasku. Apa ini? Tuhan, Engkau memang Maha Pembolak-balik hati. Baru saja aku merasa sangat gembira dengan pertemuan tak terduga ini. Lima menit kemudian, kejadian tak terduga juga muncul. Sangat kontras. Anak. Ternyata Niko sudah punya anak. Tuhan, walaupun aku tidak begitu berharap bertemu dengannya, ternyata cukup menyakitkan juga bahwa ia memiliki seseorang yang disebut 'anak'. 

Aku menatap sepatu yang kupakai. Kuperhatikan tombol pengingat (menurut Niko) di ujung sepatuku. Apakah saatnya sepatu ini pensiun? Kutatap jam tanganku. Sudah waktunya pulang. Aku mau mengantar Ibu belanja. Aku berdiri dan berjalan pulang. 

Lima menit kemudian aku sampai di rumah. Kulepas sepatuku dengan setengah hati. Ibu yang baru keluar dari dalam rumah mengamatiku.
     
     "Tumben kamu nggak semangat begitu buka sepatunya." Ibu mengomentariku. Tiada hari tanpa komentar Ibu itu seperti sayur tanpa garam. Hambar. "Kamu nggak sedang sakit, kan, Iliana?"  Ibu terdengar khawatir. 
     "Tidak, Bu. Aku sehat wal afiat. Bu, sepatu ini kalau mau Ibu buang, buang saja. Aku sudah ikhlas sekarang." 
     "Iliana, yakin kamu tidak apa-apa?" Ibu mendekatiku dan meraba keningku. "Normal."
     "Ibu, kan tadi aku sudah bilang, aku ini sehat." Berdebat dengan Ibu seperti memasak dengan takaran garam yang pas. Enak. Tidak berdebat dengan Ibu rasanya ada yang kurang.
     "Alhamdulillah. Akhirnya kau lepaskan juga sepatu butut itu. Ibu sudah sebal melihatnya. Semoga jodohmu datang setelah sepatu itu pergi, Nak."

Begitulah Ibu. Beliau akan memanggilku 'Nak' jika kemauannya kupenuhi atau sedang merajuk. Aku tersenyum melihat tingkah Ibuku. 

     "Sudah, sekarang kamu mandi, makan, lalu kita pergi belanja. Dandan yang cantik supaya banyak lelaki melirikmu."

Duh.. Ibu, memangnya aku ini pajangan, aku bersungut-sungut. Kuperhatikan sepatuku. Mungkin ini saat terakhir aku melihatmu. Sudah saatnya aku berpisah. Aku ikhlas, gumamku dalam hati. Kubawa sepatuku ke dalam rumah dan kuletakkan di rak sepatu. Serasa ada yang hilang dari hatiku.

                                                               ***

Malam ini aku malas menemani Ibu menonton televisi. Tadi, Ibu sempat heran karena hari ini aku terlihat seperti orang yang kehilangan semangat. Betul. Memang hari ini semangatku hilang diambil oleh kenyataan. Aku berada di puncak kebahagiaan dan terhempas hanya dalam waktu lima menit kemudian. Ingin rasanya kuhilangkan ingatan pagi tadi, namun, semakin kucoba menghilangkannya, aku malah semakin jelas menggambarkan kejadian tadi dalam benakku.

Jadi, Niko sudah mempunyai anak. Anaknya sudah cukup besar. Paling tidak TK besar atau awal SD. Seperti apakah istrinya? Tuk! Keketuk kepalaku dengan tanganku. Katanya tidak mau berharap banyak, Iliana. Tapi kenapa kau begitu terpengaruh oleh kejadian tadi pagi? Aku memarahi diriku sendiri. Enyahlah kau, pikiran tak jelas! Aku mengusir pikiran itu dari kepalaku. Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Aku amati nama yang tertera di layar. Niko!

     "Halo!"
     "Halo, Iliana. Lagi apa?" Suara Niko yang empuk terdengar di seberang sana.
     "Lagi di rumah. Kenapa, Nik?"
     "Ehm.. Kalau kamu tidak ada kesibukan, main, yuk! Eh, tapi ini kan malam Minggu. Kamu tidak pergi ke mana-mana?"

Bagaimana, ini? Niko mengajak main. Apakah bersama istri dan anaknya juga? Aku pasti akan merasa tidak nyaman berada di antara mereka.

     "Halo! Iliana! Halo!"
     "Iya, aku masih di sini."
     "Bagaimana? Cuma aku dan Kevin saja, kok."

Lalu, apa istrinya tidak ikut?

     "Istrimu?"
     "Ha? Oh... tidak, tidak ada. Ayolah, Iliana. Aku kangen, nih. Atau kamu sedang menunggu pacarmu?"
     "Tidak."
     "Nah, kebetulan, kan? Aku sudah di depan rumahmu. Tak berpagar dan ada ayunan di depan rumah, kan? Ah.. kamu masih suka main ayunan rupanya. Sudah, ya."

Apa? Lalu hubungan terputus. Aku buru-buru menuju ke pintu depan. Pintu depan terbuka. Aku melongok ke teras. Niko, Kevin, dan Ayah sedang berbicara. Mereka sedang tertawa-tawa. Dan aku? Aku kebingungan. 

Iin
#cerpen 24jam, hari ke-3
     

Tombol Pengingat

Aku berniat untuk lari pagi di taman ini. Taman yang hanya kulewati di pagi dan malam hari jika ke kantor dan sebaliknya.  Kesibukan di kantor memaksaku pergi pagi pulang malam. Banyak yang harus kuurus karena kepindahanku ke kota ini baru seminggu yang lalu. Jadi, baru kali ini aku datangi taman ini. Taman yang rindang dan cukup banyak orang berlalu lalang atau berolah raga.

Aku masuk ke dalam taman itu. Sejuknya udara membuat banyak orang yang menikmati duduk-duduk di bangku taman. Aku belum mulai berlari. Rasanya ingin kunikmati sejuknya udara pagi ini dengan berjalan kaki. Mungkin juga karena sekarang hari Sabtu sehingga orang lebih banyak yang datang ke taman ini. 

Setengah taman sudah kulewati. Tiba-tiba aku melihat seorang perempuan sedang duduk di bangku sebelah kolam. Aku amati perempuan itu. Aneh, apakah perempuan itu gila? Mengapa ia senyum-senyum sendiri? Oh..mungkin ia sedang berbicara di telepon, pikirku. Tapi, tidak ada earphone yang menggantung di telinganya.Perempuan itu tidak pernah sekali pun menghilangkan senyum di wajahnya. Tunggu, rasanya wajah perempuan itu tidak asing buatku. Kalau dia gila, sayang sekali. Wajahnya manis, senyumnya indah, matanya berbinar-binar. Ah.. tapi itu kan hanya dugaanku saja.  Aku semakin penasaran dengan perempuan itu. Apa sih yang menyebabkan dia tersenyum seperti itu?

Kulayangkan pandanganku mengikuti pandangannya. Sepatu! Ia mengamati sepasang sepatu. Mata berbinar-binar itu begitu cerita menatap sepatu yang dipakainya. Apakah itu sepatu baru? Rasanya bukan. Sepatu itu sudah jelek. Banyak sobek di sana-sini. Warnanya sudah luntur. Tunggu! Sepatu itu....

Kuarahkan pandangan dari kaki perempuan itu ke kakiku. Aku tertegun. Sepatu yang dipakainya sama dengan sepatu yang kupakai. Sepatu yang kubeli sewaktu aku menjadi murid baru di kota Garut. Aku memaksa Iliana, teman sebangku yang kemudian menjadi sahabatku untuk memilih sepatu yang sama. Walaupun ia bersikeras menolak ajakanku, aku terus memaksa dan akhirnya ia menyerah. Sepatu itu, sepatu yang sama dengan yang kupakai. Sama jeleknya sekarang. Mungkin ia juga sering memakainya sama sepertiku.

Kulangkahkan kakiku mendekati perempuan itu. Aku berdiri di depannya. Ketika aku sampai di depan perempuan itu, senyumnya perlahan memudar. Pandangannya berpindah-pindah dari sepatunya, sepatuku, dan terakhir adalah wajahku. Ia kaget melihatku. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tersenyum padanya.

     "Iliana, kan?" Aku menyebut namanya
     "Niko?"
     "Hai, apa kabar?" 
     "Kamu kemana aja, menghilang di telan bumi."

Aku ikut duduk di sampingnya. Kekagetannya sudah mulai berkurang. Senyumnya sekarang berkembang. Kami saling tersenyum, bertanya kabar, cerita ke sana-kemari.

     "Kenapa kamu begitu yakin kalau aku Iliana? Mungkin saja, kan, aku hanya mirip Iliana." Iliana bertanya padaku.
     "Sepatu kita sama. Sama warnanya, hanya ukuran yang berbeda. Tidak bisa dibilang sama persis sebenarnya, karena ada satu perbedaan yang membuat aku yakin kalau kamu adalah Iliana."

Iliana mengernyitkan dahinya. Mungkin ia bingung dengan apa yang kukatakan.

     "Apa itu? Model sepatu kita sama. Apa yang berbeda?" Iliana berbicara dengan nada penasaran.
     "Kamu lihat bagian depan sepatumu? Itu bedanya."

Iliana mengamati sepatunya. Ia lalu mengamati sepatuku.

     "Bulatan-bulatan itu, ya?" Iliana bertanya dengan nada ragu.
     "Ya, bulatan-bulatan seperti tombol itu. Bulatan itulah yang mengingatkanku bahwa itu pasti sepatumu."
     "Aku bahkan tidak tahu." Kata Iliana.

Aku tersenyum. 

     "Ya, ternyata bulatan itu adalah tombol pengingat kalau kamu adalah Iliana. Ngomong-ngomong, kenapa kamu masih memakai sepatu itu? Sudah jelek."
     "Lho, kamu juga. Kenapa kamu masih memakai sepatu itu? Sama jeleknya."
     "Aku kangen dengan pemilik sepatu kembaran sepatu ini." Jawabku sambil tersenyum.

Iliana tampak kaget mendengar jawabanku. Aku mengatakan yang sejujurnya. Aku memang kangen dengan Iliana. Apakah ia sekarang sudah memiliki pasangan sehingga ia kaget mendengar perkataanku? Entahlah, aku tidak tahu. Pembicaraan kami belum sampai pada hal-hal pribadi kami berdua.

Aku menunggu Iliana berkata sesuatu, namun tampaknya ia tidak berniat untuk berbicara. Iliana masih diam setelah mendengar ucapanku. Tiba-tiba, seorang anak kira-kira berumur 6 tahun datang menghampiriku dan menarik-narik tanganku.

     "Pa, ayo pulang! Katanya mau main lego. Sekarang, yuk!"
     "Kevin, sabar, dong. Oh ya, kenalkan, ini teman Papa. Namanya Tante Iliana.Iliana, ini Kevin."

Aku mengenalkan Kevin pada Iliana. Kevin dan Iliana bersalaman. Kuperhatikan wajah Iliana. Aku tidak menyadari ternyata senyum Iliana sudah hilang. Ekspresi kaget tergambar jelas di wajahnya. 

#cerita 24jam hari ke-2

15.8.13

Sepasang Sepatu Tua

               “Iliana, sepatumu itu sudah jelek. Kenapa masih kau pakai juga.” Ibu mengomentari sepatu kets yang sedang kupakai pagi itu.
                “Iya, Bu. Sudah tidak layak pakai, kan?” Aku menimpali komentar ibu sambil terus mengikat tali sepatu. Tali ini sudah berkali-kali kuganti. Hanya talinya saja yang kuganti. Sepatunya tidak. Sobekan di sana-sini semakin banyak menghiasi permukaan sepatu lamaku ini.
                “Tuh, kamu sendiri sudah tahu. Kenapa masih dipakai juga?”

                “Ibu, sepatu ini semakin tua semakin enak dipakai. Lentur. Iliana sudah beberapa kali membeli yang baru, tidak ada yang senyaman ini kalau dipakai. Iliana pergi dulu, ya, Bu.” Aku pamit pada Ibu untuk jogging di taman kompleks.

Ibu memang cerewet sekali tentang penampilan. Setiap kali melihatku memakai sepatu ini, bersih-bersih, atau hanya sekedar melewati rak sepatu, beliau akan berkomentar. Setiap kali itu pula aku mengabaikan komentar Ibu. Sebenarnya tidak hanya karena nyaman dipakai, nilai historisnya yang membuatku enggan untuk 'melepas' ke tempat sampah atau tukang loak. Jangankan dibuang, ada yang meminjam saja tidak kuizinkan. 

                                                               ***
                “Lari pagi lagi, Na?” Ibu bertanya padaku saat aku mengambil sepatu tuaku.
                “Iya, Bu. Mumpung libur dan masih pagi.” Aku duduk untuk memakai sepatu itu.
                “Na...” Ibu mengatakan sesuatu tapi aku langsung memotongnya.
                “Ibu mau berkomentar tentang sepatu ini, kan?”
     “Bukan. Ibu cuma mau bilang, kalau kamu memakai sepatu itu terus, mana ada lelaki yang tertarik padamu.”
      “Ah.. tetap tentang sepatu walaupun Ibu menyangkalnya. Kalau jodoh nggak akan ke mana, Bu. Bukan karena sepatu yang Iliana pakai. Dah, Ibu!”  Aku tersenyum dan mencium pipi Ibu. Ibu hanya menggelengkan kepala melihat tingkahku. 

                                                     ***
Aku berhenti di bangku taman setelah berkeliling dua putaran. Entah kenapa, hari ini aku merasa mudah sekali lelah. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sepatuku. Sepasang sepatu tua yang selalu 'kubela' kalau ada orang yang berusaha memisahkannya dariku. Ya, aku  masih belum rela untuk berpisah dengannya. Sepatu ini memberiku harapan. Hidupku jadi berwarna-warni. Semangat timbul jika kumengingat sepatu ini. Ingatanku melayang pada suatu waktu, awal kepemilikan sepatu ini. 

Adalah masa remaja dengan seragam abu-abu yang menorehkan sejarah pada sepatu ini. Dua belas tahun lalu. Saat itu, kelasku kedatangan anak baru dari Sulawesi. Seorang anak lelaki bernama Niko. Karena aku duduk sendiri, anak baru itu duduk di sebelahku. Sebagai teman sebangku, aku berusaha menjadi 'tuan rumah' yang baik. Kami berteman baik. Sampai suatu ketika, ia ingin membeli sepatu baru. Aku pun menemaninya. 

                "Na, lihat deh, beli satu gratis satu. Aku mau beli yang ini, kamu pilih buat kamu, ya. Jadi kita punya sepatu kembar," kata Niko saat itu. 
                "Enggak, ah. Buat kamu saja dua-duanya. Heran deh, biasanya cewek yang tergoda sale, kenapa kamu juga?"
                "Eh.. ya, nggak apa-apa, dong. Ayo, cepat pilih satu." 

Niko terus memaksaku memilih. Akhirnya aku pilih sepatu yang sama dengan Niko. Hanya beda ukuran. Niko sering memaksaku untuk memakai sepatu ini pada hari yang sama. Aku mengikutinya dengan terpaksa. Sebenarnya, aku tidak begitu suka dengan sepatu ini. Tapi, waktu itu, aku bosan dengan paksaan Niko agar aku memilih sepatu. Teman-teman di sekolah mulai ribut melihat kami berdua. Gosip kalau kami pacaran muncul. Tapi, aku dan Niko tenang-tenang saja. Kami merasa bahwa kami hanya bersahabat.

Orangtua Niko sering berpindah-pindah tempat kerja. Anehnya, sejak kami berpisah, aku jadi terus teringat padanya. Padahal, sebelum ia pindah, perasaan ini tidak pernah kualami. Kadang, perasaan ingin bertemu begitu membuncah sehingga aku meneleponnya. Kami berbicara panjang lebar seperti waktu kami masih sekolah. Niko pasti memberitahuku di mana alamat barunya. Sampai suatu, ketika ayahku pindah tugas dan aku menelponnya untuk mengabarinya, hanya nada sambung yang terdengar. Pernah ada yang mengangkat teleponku tapi ia tidak kenal dengan Niko yang kumaksudkan. Jadi, hubunganku dengan Niko hanya sampai di situ. Sepatu yang kami beli bersama-sama sering kupakai untuk memenuhi rasa rinduku. Apakah Niko juga rindu padaku? Pertanyaan itu sering muncul di kepalaku. Ketika kutanyakan pada teman-teman, mereka malah balik bertanya.

                 "Kamu, kan, yang paling dekat dengannya. Kenapa bertanya padaku?" 

Sudahlah. Toh aku tidak pernah berharap akan bertemu dia lagi. Aneh, kan? Aku rindu padanya tapi tak pernah berharap bertemu lagi. Kenapa? Karena kalau harapanku tidak tercapai, aku bisa kecewa. Jadi, aku sudah puas dengan memakai sepatu ini dan memandanginya. 'Orang aneh' begitu adikku mengataiku. Aku tak peduli. 

Suara ban meletus di jalan raya menyadarkanku dari ingatan terhadap Niko. Kupandangi lagi sepatuku. Aku tersenyum. Oke, sepatu. Ayo, kita pergi! Aku bersiap-siap akan bangkit dari bangku ketika sesosok tubuh menjulang di depanku. Pandanganku berpindah dari sepatuku ke sepatu di depanku. Sepatu yang sama denganku. Hanya ukurannya yang beda. Sepatu itu sama bututnya dengan sepatuku. Sobekan juga terlihat di sana-sini. Senyumku lenyap. Aku terkesiap. Pandanganku beralih dari sepatunya, sepatuku, dan perlahan-lahan kutatap wajahnya. Dia, orang yang kurindukan, orang yang membelikan sepatu ini, sekarang ada di depanku. Aku ternganga. Niko ada di depanku!

-Iin-  
#cerita24jam hari ke-1

7.8.13

Kelahiran Kembali, Kemenangan Bagi Diri

Kamu ingat hari ulang tahunmu? Tentunya, banyak orang yang ingat. Aku pikir, hanya sedikit orang yang tidak ingat dengan hari ulang tahunnya. Apalagi, pada era teknologi yang semakin maju dan media sosial yang sedang mewabah, kita lupa pun akan diingatkan. 

Pada hari ulang tahun kita, minimal orang lain akan mengatakan: "Selamat ulang tahun." Plus tambahan doa standar, "Wish you all the best." atau doa-doa lainnya yang tidak bisa kuingat satu persatu. Senang mendengar orang lain mendoakan kita dan meng-amin-i, berharap doa mereka terkabul. 

Apakah kamu percaya kalau kamu memang dilahirkan pada tanggal tersebut? Entahlah, aku sendiri tidak pernah ingat kapan aku dilahirkan. Katanya aku lahir tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Sesungguhnya aku tidak pernah tahu kapan aku dilahirkan. Maklum, aku masih kecil waktu itu, masih bayi. Aku mengetahui kapan aku lahir dari orangtua. Jadi, KATANYA aku lahir tanggal segitu. KATANYA. Dengan berbekal KATANYA, tanggal tersebut kemudian dilegalkan dalam bentuk selembar akte kelahiran, dan dipakailah tanggal tersebut sebagai tanggal lahir. 

Sesungguhnya, selain tanggal lahir dari bekal KATANYA, ada tanggal lahir lain yang kuanggap sebagai hari ulang tahunku. Nah, ini benar-benar kuanggap sebagai hari ulang tahun. Aku merasakan dengan sadar kelahiranku. Aku tidak ingat tanggal dalam kalender Masehi, tapi yang kuingat adalah kalender Hijriyah. 1 Syawal. 

1 Syawal tahun lalu, aku lahir. Tidak bisa dipungkiri, orang lain memegang andil yang besar dalam keputusan kelahiranku. Dukungan dari orang-orang terdekat jelas dibutuhkan ketika keputusan untuk 'lahir' diambil. Rencana yang sudah lama, godaan dari sana-sini, hanya melahirkan kegalauan yang timbul tenggelam. Suatu saat merasa sudah kuat, tapi tekad kuat sirna seketika oleh selintas pikiran hedonis dan pembelaan diri. Berulang kali aku memohon ampun karena ingkar janji, rasa 'tidak enak' setiap kali melihat orang 'terlahir kembali' dan menimbulkan keinginan untuk ikut 'lahir' juga. Tapi hal-hal tersebut tidak jua mendatangkan kebulatan tekad untuk membuat keputusan. Sampai akhirnya, permintaan seorang ayah akhirnya terlontar. Kapan lagi aku bisa membahagiakan beliau di usia senjanya? Pertanda lain kudapatkan ketika temanku memberi kado ulang tahun. Aku tersenyum ketika mengetahui isi kadonya. 

     "Ya, mungkin sudah saatnya aku 'lahir kembali'."

Jadi, tanggal 1 Syawal kuputuskan untuk 'lahir kembali'. Keputusan yang kubuat dengan sangat sadar. Tidak seperti keputusan lahir yang tergolong kategori KATANYA. Aku benar-benar sadar saat membuat keputusan, dan sadar dengan resikonya. Teman-teman kaget ketika melihat aku 'terlahir kembali' tapi mereka juga senang. Aku? Aku lega, karena pada akhirnya aku mampu memenuhi janjiku yang kuucapkan dulu sekali. Aku bahagia karena aku dapat memenuhi permintaan ayahku. Aku senang karena banyak orang mendukung 'kelahiran kembali' ini. Sahabat-sahabatku berdoa:
 
     "Semoga istiqamah, ya."

Amin. Aku jawab doa mereka. Sesungguhnya, aku tidak mengetahui arti kata 'istiqamah' yang didoakan oleh mereka. Lambat laun, aku akhirnya mengerti apa artinya, dan apa maksudnya. Ya, insya Allah. Doakan agar aku selalu istiqamah dengan keputusanku. Keputusan yang dibuat bukan atas dasar paksaan. Aku adalah pemimpin untuk diri sendiri. I'm the boss of my-self. Ada pengaruh dari orang lain, tapi aku yang membuat keputusan untuk diriku sendiri. Di atas semua itu, hidayah dari-Nya merupakan kontribusi terbesar atas keputusan 'lahir kembali' ini. 

Selamat ulang tahun yang pertama, Iin. Kelahiranmu merupakan kemenangan bagi dirimu. Kemenangan bagi diri atas godaan dan nafsu yang mendera diri bertahun-tahun lalu.  

Selamat ulang tahun. Insya Allah istiqamah. Selamat Idul Fitri. Selamat hari kemenangan.

#Ngabubuwrite, kemenangan
Suatu sore saat menyambut Idul Fitri.

3.8.13

Perempuan Karismatik

Perempuan itu tersenyum sementara aku menunggu jawabannya. Ya, itulah alasan aku sekarang berada di hadapannya. Panitia perjalanan liburan kantor memintaku untuk bertanya mengapa ia tidak ikut dalam acara itu. Kami, satu kantor berencana pergi ke pulau yang katanya indah, banyak didatangi wisatawan baik domestik maupun asing, pulau yang lebih dikenal di luar negeri daripada negaranya sendiri. Kamu bisa menebak kan, pulau apakah itu? Seluruh karyawan dari lini bawah sampai atas semua ikut, kecuali perempuan yang ada di hadapanku ini. 

Mbak Saka, perempuan empat puluhan, dengan rambut yang mulai memutih. Ia bukanlah perempuan yang sangat cantik. Tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa setiap orang yang berada di depannya menjadi 'bertekuk lutut'. Karisma yang ditebarkannya mungkin yang membuat orang-orang menjadi seperti itu. Perempuan ini menjadi 'tempat sampah' orang-orang di kantor termasuk aku. Semua merasa begitu mudah untuk membeberkan masalah yang sedang dihadapinya pada perempuan ini. Salah seorang temanku mengatakan kalau ia seperti telanjang ketika berhadapan dengan Mbak Saka. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari dirinya. Tapi yang membuatku heran, mengapa tidak ada yang berani menanyakan padanya tentang alasan ketidak-ikut-sertaannya dalam perjalanan liburan kali ini? Mengapa kemudian aku yang diserahi tugas ini? Apakah karena aku terlihat lebih 'dekat' dengannya? Entahlah.

Aku masih sabar menanti jawaban Mbak Saka sampai akhirnya ia berbicara. 

     "Perjalanan. Hmmm... perjalanan liburan. Lan, setiap hari, aku sudah melakukan perjalanan. Setiap detik, aku menempuh perjalanan hidupku. Aku begitu kaya dengan perjalanan yang aku arungi. Di usiaku yang sudah kepala empat ini, tidak terhitung banyaknya perjalanan yang sudah aku lalui. Sewaktu aku masih di dalam perut ibuku, melihat dunia untuk pertama kali, lima tahun pertama, anak-anak, remaja, dewasa, dan sekarang, ketika umurku sudah semakin meningkat dan umurku di dunia semakin berkurang. Bahkan, aku tidak mengingat semua perjalanan yang sudah aku alami. Perjalanan-perjalanan itu yang membuat aku mengalami banyak hal. Kebahagiaan, kesedihan, penderitaan, penghinaan, kesenangan, kemarahan, caci maki, dan sebagainya."

Aku masih mendengarkan Mbak Saka berbicara.

     "Saat remaja, aku tidak pernah menyangka kehidupan akan seperti ini. Ternyata, jauh dari apa yang dibayangkan waktu itu. Sekarang, setiap kali aku bertemu dengan teman lama, ada saja cerita yang membuatku ingat bahwa dulu, aku sama sekali tidak pernah membayangkan kejadian ini. Si ini bercerailah, menikah untuk yang ketiga kalinyalah, korban KDRT-lah, suaminya meninggal, tidak punya anak, belum menikah, selingkuh, dan lainnya. Itu buah perjalanan kita, Lana. Suatu perjalanan hidup, perjalanan yang mau tidak mau harus dijalani meskipun kita tidak mau. Lan, ada perjalanan yang bisa kita tolak, ada perjalanan yang tidak bisa kita tolak, dan aku memutuskan untuk menolak ikut dalam perjalanan kantor ini."

Aku termenung mendengar perkataan Mbak Saka. Benar, Mbak, perjalanan hidup kita adalah perjalanan paling kaya yang pernah kita lalui. Aku tidak bertanya-tanya lagi padanya. Segala bujukan untuk membuatnya ikut dalam perjalanan liburan menguap. Sekarang aku bingung, apa yang mesti kujelaskan pada panitia acara ini. Sebenarnya apa alasannya Mbak Saka tidak ikut? Aku belum mendapat jawabannya. Kamu bingung? Sama, aku juga. Atau ceritamu tentang perjalanan adalah taktik agar aku tidak bertanya lebih lanjut, Mbak? Kalau iya, kamu berhasil, Mbak. Aku terkesima oleh ceritamu tentang perjalanan hidup.


Cirebon menjelang Maghrib
#Ngabubuwrite, perjalanan.
Mbak, where are you? 

2.8.13

Tunggu Saja Undangannya

Temanku, 
aku tahu, engkau khawatir padaku.
Meskipun tidak kau utarakan dengan pertanyaan to the point"Kapan menikah?"
Atau pertanyaan menyebalkan seperti: "Mau cari yang seperti apa?"
Atau pertanyaan sok tahu seperti: "Standarnya jangan tinggi-tinggi."

Temanku, 
aku bersyukur memiliki teman seperti kamu. 
Bukan teman kita yang khawatir karena kesukaanku terhadap film-film drama, 
ia yang mengharapkan aku 'hidup' di dunia nyata,
ia yang mengharapkan aku 'melihat' lelaki nyata di sekelilingku, bukan lelaki dalam film.
Tenang temanku!
Aku masih bisa membedakan antara imajinasi dan realita.
Aku masih menjejakkan kaki di bumi.
Aku tidak mengharapkan aktor dalam drama yang aku tonton menjadi pasanganku (walaupun kadang aku memimpikannya).
Aku tidak cemburu ketika aktor favoritku memiliki chemistry dengan lawan mainnya.
Aku tidak menangis dan mengomel ala remaja karena cemburu pada lawan main tokoh dalam film. 
Temanku, egoku masih sehat.
Egoku masih berfungsi mengendali pikiranku, mengendali mimpi dan khayalanku.

Temanku, tetaplah berdoa untukku. 
Jika suatu saat engkau bertanya kapan aku menikah, aku sudah menyiapkan jawabannya.
              
       "Segera!" 

Itu yang akan kukatakan padamu.
Atau jawaban konyol seperti ini:

      "Tunggu saja undangannya, kalau ada undangan dariku, berarti sebentar lagi. Kalau belum ada, tunggu saja."

Temanku, 
Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan.
Aku yakin, ada seseorang di luar sana untuk menjadi pasanganku.
Jangan khawatir, aku masih tetap berusaha.

Temanku, 
aku yakin, semua akan indah pada waktunya. 
Terima kasih sudah menemaniku. 
Aku tidak pernah kesepian, karena ada dirimu.

#ngabubuwrite, kesendirian

24.7.13

Malaikat di Dalam Angkot

Aku mencari-cari dompet di dalam tasku. Tidak ada! Kucari lagi setiap tempat di sudut-sudut tas yang kupakai. Resleting di sana-sini kubuka satu persatu. Tidak ada! Keringat dingin mulai bermunculan. Bagaimana ini? Aku dilanda kebingungan untuk mengatasi hal ini. Dompetku tidak ada. Kecopetan? Aku tidak tahu. Kuingat-ingat kejadian sebelum aku pergi meninggalkan rumah. 

Aku mengganti tasku sebelum pergi. Kuletakkan dompet di kasur. Mungkin dompet itu tersamarkan oleh selimut sehingga aku tidak melihatnya dengan jelas. Itulah aku. Aku mengutuk diri sendiri. Jika tidak di depan mata, alhasil, aku akan lupa membawa barang.

Kuputar otak bagaimana caranya membayar angkot. Tidak ada sepeserpun uang terselip di dalam tas. Kukorek saku jeans. Tidak ada. Aku pun meninggalkan receh di meja. Sial! Aku benar-benar sial. Apakah aku telepon temanku dan memintanya untuk menungguku di pinggir jalan sambil membawa uang untuk ongkos? Ah, terlalu riskan. Bagaimana kalau ia sedang dalam diskusi yang tidak bisa ditinggalkan?

Angkot yang kutumpangi berhenti di lampu merah. Masih ada waktu berpikir di lampu merah. Aku belum menemukan bagaimana caranya membayar angkot tanpa sepeserpun uang kubawa. Sampailah angkot di depan Carrefour. Aku memutuskan untuk turun. Dengan perasaan yang agak tidak enak hati, kuminta nomor telepon sopir angkot. Kukatakan bahwa aku tidak membawa dompet tapi aku akan menghubungi Pak Sopir untuk membayar ongkos angkot. Terdengar mustahil, ya. Tapi sudahlah, namanya juga usaha. Pak Sopir tampak kebingungan dengan permintaanku. Ia menyebutkan sederet angka.

Ketika aku sedang mencatat nomor telepon sopir angkot, tiba-tiba seorang ibu yang tadi duduk di sebelahku mengatakan kalau ia akan membayar ongkos angkotku. Oh Tuhan, baiknya ibu itu. Kuucapkan terima kasih padanya. Aku berdoa, semoga Allah membalas kebaikannya dan menggantinya dengan rezeki yang lebih banyak. Malaikat memang ada di mana-mana.

#14DaysofInspiration, kebaikan.