5.6.16

Hari -1 Puasa

Jalan Malabar (atas) dan Jalan Sunda (bawah)
Hari Minggu tanggal 5 Juni 2016. Pagi hari. Beberapa jalanan lengang. Jalan Malabar memang bukan jalan yang sangat ramai. Tapi tidak juga selengang hari ini. Mobil-mobil di depan sebuah gereja berjejer parkir. Jalan Sunda adalah salah satu jalan yang ramai dan biasa macet. Tapi kali ini tidak banyak mobil yang lewat bahkan antri berjalan. Entah karena orang-orang terpusat pada Car Free Day terakhir sebelum bulan puasa atau memang benar-benar sepi karena mau puasa. Yang saya rasakan, suasana puasa sudah sangat kental terlihat. 'Bau' puasa sudah kuat tercium.

Bicara tentang puasa, alhamdulillah diberi kesempatan bertemu lagi. Dapatkah saya menjalankan puasa lebih baik dari tahun lalu?
Dapatkah saya menjaga lisan saya dari bergunjing atau mengatakan hal-hal buruk?
Dapatkah saya menjaga hati saya agar ikhlas?
Dapatkah saya mengendalikan diri dari hawa nafsu?
Dapatkah saya belajar menjadi individu yang lebih peka terhadap orang lain? 
Sederet dapatkah muncul seiring hawa puasa yang semakin tebal. 

Saya akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik!

Hanya itu yang bisa saya jawab.
Selamat menjalankan ibadah puasa. 


#Ciremai Express, 10.07

1.6.16

Pendidikan yang Berhasil

Di antara sekian peristiwa menyebalkan berturut-turut pada hari ini, ada satu kejadian yang menyejukkan hati. Lokasinya di angkutan kota  (a.k.a angkot) jurusan Gedebage-Stasiun Hall. Siang itu, saya hendak pergi ke dokter gigi di Buah Batu. Tak berapa lama, dua siswa (mungkin murid-murid SMP), naik angkot yang saya tumpangi. Mereka berdua membawa minuman kotak. Setelah minuman habis, salah satu dari mereka menyimpan kotak kosong ke bawah kursi. Temannya mengingatkan untuk tidak menyimpan di situ. Mereka mencari tempat sampah di dalam angkot (di Bandung, mobil termasuk angkot wajib menyediakan tempat sampah). Ternyata, tidak ada tempat sampah di dalam angkot. Akhirnya, mereka berdua melipat kotak bekas sampai kecil dan memegangnya. 

Sampai di Jalan Reog, tiga orang menyetop angkot dan naik. Seorang nenek, ibu, dan anak usia SD. Sampai di Jalan Kliningan, mereka turun. Sang ibu turun lebih dulu. Sang anak dan neneknya berdiri. Sang anak berkata, " Enin* dulu." Sang nenek lalu keluar lebih dahulu. Sang anak (cucu nenek) berdiri dengan sabar menunggu neneknya turun sambil memegangi neneknya. Setelah neneknya keluar, barulah sang anak keluar dari angkot.

Melihat kejadian itu, kagum saya pada mereka. Masih anak-anak, tapi mereka punya tanggung jawab dan respek. Respek terhadap benda, lingkungan, keluarga, dan orang yang lebih tua. Saya jadi ingat cerita bapak saya. Beliau adalah seorang guru yang pernah bertanya pada seorang lulusan S2 tentang arti pendidikan. Tidak bisa jawab kata bapak saya. Atasan saya juga sering mengingatkan pada kami (saya dan teman-teman guru bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana. 


sumber foto: slideshare.net

Ya, seyogyanya, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana. Berbahagialah guru-guru dari anak-anak itu karena mereka telah berhasil menanamkan akhlak mulia pada anak-anak itu. Saya sungguh iri. Mudah-mudahan, murid-murid saya pun seperti anak-anak itu. Punya akhlak mulia sebagai hasil usaha sadar dan terencana yang saya tanamkan pada murid-murid saya. Semoga. Selamat malam.


*Enin adalah panggilan untuk nenek dalam bahasa Sunda. 

31.5.16

Passion

Beberapa tahun belakangan, saya sering bertanya pada diri sendiri, juga orang lain tentang passion. Apakah saya masih punya passion di dunia 'keguruan'? Dulu, saya memutuskan bahwa passion saya adalah menjadi guru. Impian saya adalah menjadi guru yang selalu diingat oleh murid saya hingga dewasa. Atau, paling nggak, ada sekelumit cerita tentang saya yang menginspirasi mereka. Saya tidak tahu apakah impian saya sudah terwujud atau belum. Mudah-mudahan suatu saat nanti. 

Bicara passion berarti bicara menerima, cinta, pengorbanan terhadap apa yang kita pilih. Itulah kenapa, saya merasa sebal dengan orang-orang yang memilih menjadi 'sesuatu' tapi tidak mau meneima segala resikonya. Contoh: memilih jadi guru TK berarti harus siap dong dengan keadaan terburuk misalnya murid (maaf) pup di celana. Kalau misuh-misuh karena jijik, untuk apa jadi guru TK. Keadaan itu pasti ada dalam suatu masa. Namanya juga anak-anak dengan toilet training yang belum semuanya jago. Kalau sudah begitu, apakah ada passion di sana? Entahlah. Saya nggak bisa jawab.

Lalu apa hubungannya dengan apa yang saya tuliskan? Saya mulai merasa kehilangan passion saya. Tapi apa yang terjadi hari ini kembali membentuk tanda tanya dalam diri. Dan, saya belum bisa menjawabnya. 

Hari ini saya menghadapi setumpuk file lembar assessment untuk dibaca. Ketika jenuh melanda, keluarlah saya. Ada dua murid kelas 1. Ternyata mereka sedang menunggu les. Hari ini anak-anak libur, jadi tidak banyak yang ada di sekolah. Sebelumnya ada latihan kabaret untuk assembly ektrakurikuler, tapi semua sudah dijemput. Tinggallah dua anak berkaos pink ini. Salah satu anak adalah anak yang tidak banyak bicara (saya baca di salah satu lembar assessment). Saat itu, kami bicara tentang banyak hal. Temasuk si pendiam itu. Mulai dari cerita kegiatan les yang akan mereka ikuti, area tempat mereka akan pergi, laut, bermain pasir, rumah pohon, gurita, dan banyak hal. Setengah jam lebih saya hanya duduk sambil mengobrol dengan mereka. Melupakan sejenak lembar assessment yang menunggu dikomentari saya. Dan anak yang pendiam itu banyak bicara! Lalu, apa yang saya rasakan? Saya suka berbincang dengan mereka. Mulai dari pembicaraan serupa konsep waktu (seperti berapa menit lagi lesnya dimulai? Kalau jam 1 jarum panjangnya di angka berapa? Dan sejenisnya, sampai cerita ngalor-ngidul lainnya). Ya, saya suka.

Kali kedua saya keluar lagi karena sudah menghabiskan bebeaoa tumpuk file dan memberikan komentar. Sekalian ke kamar mandi dan salat juga. Ketemulah saya dengan dua anak (lagi). Kelas 6. Mereka baru selesai acara semacam perpisahan karena akan masuk SMP. Salah satu anak senang sekali dengan hal-hal yang berkaitan dengan horor. Saya mendengarkan ceritanya tentang film 'Booth'. Dia bercerita tentang film itu dari awal hingga akhir. Dan yang saya rasakan? Saya suka berbincang dengan mereka!

Betul! Dua kejadian berbincang dengan anak-anak membuat saya senang. Apakah ini passion? Begitulah. Setiap kali saya selesai berbincang dengan anak atau mengajar, ada rasa senang di sana. Itukah passion saya? Masih adakah passion saya? Masih kuatkah passion saya? Pertanyaan-pertanyaan yang berlompatan di pikiran saya, dan saya belum dapat menjawabnya!


#selamat hari malam 

22.5.16

Hiduplah Saat Ini

Texgram by Insung

Saya membaca quote itu di sebuah studio foto. Tergantung di salah satu dinding bersama quotes lainnya. Tidak ada nama pengarang quote tersebut. Isinya yang menarik saya. Saya adalah orang yang selalu mengingat kenangan. Berharap keadaan menyenangkan akan terus berlangsung. Kalau bisa, mengulang saat-saat menyenangkan. Sampai suatu ketika, salah seorang sahabat saya 'menampar' (konotasi) saya. Cukup keras, sehingga menyadarkan saya untuk kembali ke dunia nyata. Menyadarkan saya bahwa saya hidup dalam kubangan kenangan. Menyadarkan bahwa semua keinginan tak selalu dapat terwujud. Menyadarkan saya bahwa hidup berubah. Menyadarkan bahwa saya tidak bisa menyamakan sudut pandang saya dengan orang lain. Menyadarkan bahwa hidup tidak pernah datar. Life is never flat. 

Oleh karenanya, saya bertekad untuk menjalani hidup yang saya saat ini. Satu waktu yang merupakan titik balik kehidupan saya. Saya ucapkan 'Selamat menempuh hidup baru' pada diri saya sendiri. Orang lain mengartikannya sebagai status palsu atau mengundang tanya apakah saya menikah. Saya memang menjalani hidup baru, bertekad untuk hidup pada saat ini. Annyeong!

Do and Don't Drama Korea

Kalau anda bertanya kenapa saya mengangkat drama Korea dalam tulisan kali ini, pilihan jawabannya ada 2.
1. Karena saya suka drama Korea, atau...
2. Karena saya benci drama Korea. 

....dan.... saya temasuk kategori yang pertama. 

Saya suka drama Korea. Satu dari banyak hal tentang Korea yang saya suka adalah dramanya. Musik beberapa genre atau penyanyi saya suka. K-Will lagu-lagunya cukup nge-pop. Aman buat telinga saya. Kebanyakan sih suka lagunya gara-gara saya mendengarnya di satu drama. Banyak lagu soundtrack yang sangat keren sehingga saya wajib menyetelnya sebagai moodbooster. K-pop? Hmmmm.... beberapa suka karena jenisnya, bukan grupnya. Gara-gara serangan Beast dari seorang teman yang termasuk Beauty, saya terperangkap dengan pesona lagu (lagunya lho, yaa...) Beast atau Yong Junhyung seperti Caffein, Bi Ga O Neun Na Ren, dan beberapa lagu lainnya. Wulan menggempur saya dengan berbagai lagu yang diaransir oleh Yong Beast. Jadilah saya memasang beberapa lagu di playlist saya. Kau berhasil, Lan. 

Balik lagi ke drama Korea. Teman saya yang lain mengatakan kalau Korean Wave yang menimpa dunia saat ini adalah 'penjajahan' dalam bentuk lain. Iya juga sih. Sekarang, topik Korea ramai di mana-mana. Buku, jadi jarang disentuh (tapi saya berusaha menyeimbangkan lagi, kok. #defencemechanism). Ok, saya bisa ambil yang baiknya dan tinggalkan yang buruknya. Saya sebutnya 'Do and Don't Drama Korea'. Mari!

Do:
1. Ini adalah alasan utama yang membuat saya suka drama Korea: sopan santun. Lihat kan? Betapa orang tua, atau orang yang lebih tua begitu dihormati dari sikap dan bahasa. Sikap hormat. Bahasa sopan. Hal tersebut sangat ditekankan. Seseorang yang lebih tua bisa marah kalau lawan bicara yang lebih muda bicara dengan banmal. Jadi pengen belajar bahasa Korea.

2. Soundtrack yang keren membuat saya harus mencari-cari lagunya di internet dan memasukkannya sebagai lagu wajib dengar. Contohnya soundtrack drama I Hear Your Voice yang sampai sekarang masih menghuni hati. Sederet lagu lainnya masih belum dihapus dari playlist laptop atau gadget saya. Drama Korea tidak tanggung-tanggung dalam membuat soundtrack. Tidak cuma satu yang kemudian diulang terus-menerus tapi bisa sealbum bahkan lebih lagu yang diciptakan untuk dijadikan soundtrack. Biasanya disesuaikan. Maksudnya, kalau pemeran utama pria lagunya yang ini, kalau pemeran utama wanita yang itu. 

3. Budaya. Kebanggaan atas budaya begitu telihat jelas. Dalam setiap drama, pasti ada bagian di mana makanan Korea disebut-sebut. Misalnya kimchi, ttokpokki, ah... saya lupa nama-namanya. Pasti ada adegan di mana pemeran dalam film itu makan makanan Korea. 

4. Lokasi. Saya pikir, sutradara dalam drama Korea ini benar-benar mempertimbangkan lokasi syuting dramanya. Sudut yang diambil juga keren. Pemandangan alam yang bagus. Akhirnya, jadilah sebuah film yang pemandangan di dalam filmnya asik untuk dilihat.






5. Fashion. Lihat model baju-bajunya? Bagus-bagus. Cocok-cocok aja sih dipakai sama pemeran-pemerannya. Mau pake warna tabrak-tabrak juga bagus aja dilihatnya. Apalagi coat-nya. Suka. Tapi, yang bagus dipakai mereka, belum tentu bagus kalau dipaka sama saya atau orang Indonesia lainnya. Betul?

Sekarang kita bergeser ke Don't.
1. Mabuk. Dalam kebanyakan film yang saya yonton, hampir semuanya ada adegan mabuknya. Entah itu di warung tenda, bar, hotel, rumah dan sebagainya. Sesuka-sukanya kita sama Korea, jangan sampai deh ikut-ikutan minum kayak di dramanya.

2. Bully. Ini yang saya nggak suka. Nggak usah ikut-ikutan deh. Jelek. Bukan budaya kita juga. Nge-fans bukan berarti mencontoh semuanya. Malah jadi jelek. Sekarang, anak usia sekolah dasar pun pada nonton Korea. Perlu didampingi tuh sama ortu. Jadinya nggak keren kalau perilaku bully dari film dipakai di kehidupan sehari-hari kita.  Buat adik-adik SMP, SMU, anak kuliahan juga. Langsung ga respek deh kalau kalian jadi pembully walaupun cantiknya kayak bidadari atau gantengnya kayak bidadara.

3. Memukul kepala. Di sana mungkin biasa. Orangtua memukul kepala anaknya, memukul kepala teman. Tapi, di sini Indonesia. Jangan coba-coba deh. Bukan budaya kita. Di sini, memukul kepala itu tidak sopan. 

4. Baju minim. Perempuan Korea rata-rata berbadan langsung. Kurus. Semampai. Kaki jenjang. Rasanya, enak-enak aja memandang mereka dengan rok mini. Terus perempuan Indonesia menirunya. Ada yang cocok, ada yang nggak enak dipandang. Selulitnya kelihatan, lemaknya kelihatan, peniti buat roknya kelihatan. Ah... nggak selamanya yang disukai perlu ditiru.

5. Operasi plastik. Korea sangat terkenal dengan operasi plastiknya. Terjangkau (mungkin), mudah ditemui di mana-mana. Tapi saya percaya, Tuhan sudah merancang manusia sedemikian rupa sehingga menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna. Kita tidak pernah tahu mengapa Allah menciptakan hidungnya nggak mancung, muka lebar, mulut tebal. Tapi saya yakin, kalau saya mengubahnya dengan operasi plastik, belum tentulah cocok dengan bentuk saya. Wong Allah sudah merancangnya sedemikian rupa, kok. Bersyukurlah dengan apa yang kita punya. 

Sudah. 
Semoga bermanfaat.
Have a nice weekend. 

10.5.16

Waktu

Waktu nggak pernah berhenti.
Waktu nggak pernah terulang.
De ja vu bukan mengulang waktu. 
Hanya serupa suatu waktu.
Banyak yang terjadi dalam suatu kurun waktu.
Senang, sedih, bahagia, marah, kecewa, gembira.
Kadang bercampur baur.
Kadang silih berganti.
Kadang berharap ada mesin waktu.
Untuk mengulang saat-saat menyenangkan.
Mengulang sang waktu yang sudah berlalu. 

7.5.16

Curcol (3)

Lanjutan dari curcol (2)

Hari ini, akhirnya saya menamatkan buku kedua yang saya beli di Palasari. Pengarangnya orang Indonesia. Lokasi cerita di Korea dan Jepang. Bahasa Koreanya nyaris tidak ada. Hanya ada panggilan saja seperti ssi yang artinya Ms, Mr, Miss. Wajarlah. Jadi saya nggak ngomel-ngomel tentang tata bahasa Korea. Ada sedikit bahasa Jepang. Tapi, menurut saya, penggunaannya masih oke karena setahu saya bahasa Jepang tidak menganut undak usuk basa seperti bahasa Korea. Saya justru lebih menghargai pada pengarang yang seperti ini. Tidak berusaha menyelipkan bahasa asing (tapi salah). Jadi, saya masih bisa menikmati baca novel yang merupakan sekuel kedua. 

Yang sedikit mengganjal adalah beberapa kata yang salah penulisan. Mungkin luput saat diedit. 😊😊😊