30.12.15

^Peduli Itu Keren^

     GagasCeria Special Week atau biasa disebut GSW adalah program rutin di Sekolah GagasCeria pada setiap akhir semester. Topik GSW semester 2 adalah Social Service. Kali ini, Social Service  mengusung judul ^Peduli Itu Keren^. 

     Program GSW Social Service diharapkan dapat mengasah kepekaan siswa-siswa terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, beberapa kegiatan dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada lingkungan baik fisik maupun sosial. Poin penting dari kegiatan ini adalah siswa-siswi dapat mengalami secara langsung dan dapat berkontribusi pada masyarakat. Poin yang disebutkan diakhir merupakan misi Sekolah GagasCeria.

     Hal yang dilakukan pertama kali oleh siswa adalah survey. Lokasi untuk survey sudah ditentukan. Ke sanalah mereka nanti akan melakukan social service.  




Setelah survey, mereka menentukan aksi. Apa yang akan dilakukan didiskusikan berdasarkan hasil survey. Ada beberapa kegiatan yang direncanakan misalnya, bermain bersama, tanding catur dengan opa serta pencarian bakat di panti jompo, melakukan gerakan pungut sampah, kerja bakti di masjid, mencuci mukena, dan lain sebagainya.

Persiapan

  



Gerakan Pungut Sampah


   



  
















 
Ke Panti Wreda, Panti Asuhan, Masjid, dan PAUD















Mencuci Mukena Masjid Sekitar Sekolah




Deja Vu

Pukul 11.30 siang. Matahari siang memanggang bumi.
                Damn! Aku mengutuk kemacetan ini. Tak ada yang mendengar tentu saja. Aku sendirian di dalam mobil. Kalau saja Ana, adikku, tidak datang hari ini, aku takkan keluar dan menghadapi kemacetan. Aku benci macet. Tapi aku harus keluar menjemput Ana di bandara. Ia pulang hari ini. memang, tidak biasanya aku melewati jalan ini. Alih-alih menghindari kemacetan karena libur yang berderet, aku malah terjebak ke dalam kemacetan yang semula ingin kuhindari. 
                Kulayangkan pandang ke sekeliling. Mobil berderet diam di depanku. Di sebelah kanan dan kiri juga sama. Dari kaca spion kulihat di belakang juga begitu. Kuhembuskan napas. Kedua tangan kuletakkan di atas stir. Menunggu.
                Syukurlah. Antrian sudah mulai maju. Aku menjalankan mobilku sekitar 2 kilometer sebelum kemudian terjebak lagi dalam antrian yang panjang. Entah kapan akan berakhir.      
                Damn! Aku mengutuk lagi dalam hati. Ana sudah tiba di bandara. Kembali kulayangkan pandanganku ke sekeliling. Aku tertegun. Di mana aku pernah melihat keadaan seperti ini? Apakah ini ilusi? Fatamorgana? Kubelalakan mata. Keadaan yang kulihat tetap sama. Berarti bukan ilusi. Kupejamkan mata dan kubuka lagi. Sama! Kututup lagi mataku. Kuhitung sampai 10 sebelum kubuka mata. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti sebelum aku menutup mata. Ada selintas ingatan yang muncul di benakku. Toko  besi di sebelah kananku. Di sebelah kiri toko besi ada kantor desain. Tulisan 10+ terpampang besar-besar di jendela kacanya. Di sebelah kanan kantor desain ada bank. Di sebelah kiri toko besi ada tanah kosong dengan warung tenda berdiri di atasnya. Tak ada aktivitas di sana. Hanya meja dan bangku panjang yang ditumpuk di atas meja. Kulihat antrian di depanku masih belum bergerak. Kucoba memanggil ingatan yang muncul tadi. Nihil. Aku menengok lagi ke sebelah kanan. Tidak berubah. Rasanya familiar. Kupejamkan mata rapat-rapat sambil menghitung lagi.
                Tet....tet....!
                Hitunganku mencapai 23 ketika suara klakson mengagetkanku. Seketika membuat aku membuka mata. Mobil di depanku sudah berjalan sekitar  5 meter. Aku cepat-cepat menjalankan mobilku sambil melihat ke arah kanan. Deretan bangunan di sebelah kananku tidak berubah. Dan warung itu.... tetap ada di sana. Di mana aku pernah melihat hal yang sama? Toko bangunan, kantor desain, bank, dan ..... sebuah warung. Apakah aku sering  melewati jalan ini? Tidak! Baru kali ini aku lewat ke sini. Tapi rasanya aku pernah melewatinya. Sering malah. Tapi kapan? Di mana? Kapan aku pernah ke sini? Ataukah aku mengalami deja vu?
                                                                     ***
                “Kenapa? Dari tadi diam sambil mikir gitu.” Ana bertanya padaku dalam perjalanan pulang dari bandara.
                “Deja vu.”
                “Apa?” Suara Ana terdengar heran.
                “Deja vu. Aku mengalami deja vu,” aku berkata pelan.
                “Deja vu apa?”
                “Ah.. sudahlah. Kenapa tadi delay?” Aku mengalihkan pembicaraan.
                Deja vu. Ya. Deja vu.  Kata itu berkeliaran di dalam kepala. Aku masih terus memikirkan jalanan yang kulewati tadi. Pun di rumah sesudah menjemput Ana. Di mana aku pernah melihat hal yang sama seperti ‘pemandangan’ saat perjalanan ke bandara?
                Ingatan itu masih terpikirkan sampai aku tertidur. Warung itu muncul di dalam mimpiku. Alam bawah sadar sialan!
                                                                      ****
                Hari ini aku kembali melewati jalanan sewaktu aku menjemput Ana di bandara. Penasaran. Bangunan dan urutannya tetap sama seperti seminggu lalu. Bedanya, bank yang seminggu lalu  tutup sekarang sudah buka. Aku tak juga bisa memanggil memori tentang urutan bangunan yang mengganggu pikiranku seminggu ini. Termasuk warung itu.
                Baiklah... aku menyerah. Kulewati deretan bangunan itu dengan satu tekad: lupakan saja! Kulayangkan warung tenda yang minggu lalu kosong. Sekarang ada kesibukan di sana. Lotek Ceu Edoh.  Lotek Ceu Edoh! Lotek Ceu Edoh tertulis di kain penutup warung. Tiba-tiba, ingatan yang enggan muncul beberapa hari ini bermunculan.  Seperti air yang keluar dari kran. Mengucur deras.
                Perih. Seiring dengan ingatan yang bermunculan, rasa perih itu muncul menyeruak mengganggu metabolisme mentalku. Sialan! Aku pun kembali menjadi pengumpat.
                                                                     ****
                “Selamat ulang tahun, Vira. Semoga, sehat, banyak rejeki, bahagia terus bersamaku,” Danis menyalamiku.
                “Terima kasih,” aku menyambut uluran tangannya dengan bahagia. Tangan yang sudah bertahun-tahun menjadi penyambung hidupku. Tangan yang memegang harapanku agar ia bisa terus menjadi pendamping hidupku. Belum! Ia belum jadi suamiku. Tapi, tak bisa kupungkiri. Bersamanya, hidupku terasa lengkap. Akan lebih lengkap lagi jika aku bersanding dengannya di depan altar. Sudah sering pikiran itu terlintas tapi kami tak jua membicarakannya dengan serius. Biarlah. Aku tak ingin kehilangan saat-saat bahagiaku bersamanya.
                “Ke tempat biasa?” Danis bertanya padaku. Kuanggukkan kepala. 
                “Let’s go!”
                Kami pun masuk ke dalam mobil dan menuju ‘tempat biasa’. Jangan! Jangan berpikir macam-macam. Tempat biasa kami adalah sebuah warung makan di pinggir jalan di Lembang. Sebelah kanannya terdapat toko bangunan. Sebelah kanannya lagi ada satu kantor desain, dan kemudian bank. Nama kantor desainnnya berbeda, tapi nama bank-nya sama. Warung itu sebuah warung lotek. Rasa loteknya biasa. Tidak sangat enak sehingga kami rela menempuh jarak jauh hanya untuk merayakan ulang tahunku atau ulangtahunnya. Bukan candle light dinner romantis di restoran, ucapan selamat disertai setangkai bunga dan kartu, atau surprise tengah malam. Bukan makan mie seperti orang Cina atau makan sup rumput laut seperti orang Korea. Suatu ‘kebiasaan’ yang tidak biasa untuk merayakan ulang tahun. Ditraktir lotek. Yang menjadikan makan lotek pada ulang tahun kami sebagai sesuatu hal yang istimewa adalah kami berdua. Danis menyatakan cintanya di warung itu 5 tahun lalu. Saat kami sedang kelaparan dan menemukan warung itu dalam perjalanan menuju Gunung Tangkuban Perahu bersama teman-teman satu fakultas. Tidak romantis. Memang! Sangat tidak romantis. Tapi, aku adalah orang yang menurutku paling bahagia pada hari itu.
                Sejak saat itu, setiap kami berulang tahun (aku atau Danis) kami akan ke Lembang, makan di warung itu, dan mengingat kembali awal kami jadian.
                Hari ini genap 6 tahun hubunganku dengannya. Cukup lama. Tapi tetap saja, belum ada dari kami yang membicarakan pernikahan. Biarlah. Toh aku masih menikmati hubungan kami. Begitu pula Danis. Putus nyambung pernah terjadi. Tapi alasannya bukan karena topik ‘pernikahan’.  Lebih banyak karena kecemburuan. Suatu hal yang biasa, kan?
                “Vir, duduk di sini,” Mama memanggilku suatu malam.
                Mendengar nadanya saat ini, aku tahu, yang akan dibicarakan adalah masalah serius. Aku bisa membedakan nada suara mama jika akan membicarakan hal yang serius dan yang tidak. Aku duduk di depan Mama.
                “Apa rencanamu dengan Danis?” Straight to the point. Tanpa basa-basi, Mama bertanya padaku. Aku tidak tahu apa yang akan Danis katakan kalau Mama menanyakannya langsung padanya. Ini saja sudah cukup membuatku gelagapan walaupun sudah mengira sebelumnya.
                “Ee....ee... Belum tahu, Ma.” 
                “Sudah cukup lama kan, kalian pacaran?”
                “Iya.”
                “Untuk apa kalian pacaran kalau tidak untuk menikah?”
                “Kami belum membicarakan tentang itu.”
                “Lalu kapan? Kalian tidak akan menikah?”
                “.......” Aku diam. Belum tahu mau menjawab apa.
                “Vir?”
                “Siapa sih yang nggak ingin menikah, Ma?”
                “Lalu, kapan?”
                “Ma....”
                “Besok, minta Danis datang ke sini. Mama mau bicara.”
                “Bicara apa, Ma?”
                “Mama mau tanya padanya. Serius nggak dia sama kamu.”
                “Seriuslah, Ma.”
                “Kalau serius, kenapa sampai sekarang dia tidak melamar kamu?”
                Aku diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
                “Besok, atau tidak sama sekali.”
                “Ma!”
                Mama pergi meninggalkan aku yang masih terdiam di sofa.
                                                                     ****
                “Hai! Belum tidur?” Suara Danis di ujung sana
                “Belum ngantuk. Ehmmm... Dan.....”
                “Kenapa?”
                “Ehmmm... Mama meminta kamu datang besok.”
                “Ada apa?”
                “Ehmmm....” Aku masih menimbang-nimbang. Bicara jujur atau pura-pura tidak tahu.
                “Vir?”
                “Tadi Mama nanya kalau kita serius nggak.”
                “Ya..seriuslah.”
                “Syukurlah kalau begitu.”
                “Kenapa?”
                “Mama tanya, kapan kita nikah,” akhirnya aku katakan juga apa yang Mama tanyakan.
                “......”  Tidak ada suara di ujung sana.
                “Dan!”
                “Ya.”
                “Kamu besok ke sini jam berapa?”
                “Ehm... besok aku ada meeting. Belum tahu sampai jam berapa. Lihat besok saja.”
                Deg! Kenapa Danis menjawab seperti itu? Apakah memang dia tidak punya niat sedikit pun untuk datang menemui Mama? Selama ini, Danis memang jarang ke rumah. Kalau Mama atau Papa mengajak berbincang-bincang, Danis seperti gelisah. Lalu, dia akan mengajakku pergi dari rumah. Aku pernah bertanya padanya tentang hal itu. Segan. Itu jawabnya. Toh kemudian aku tidak pernah mempermasalahkannya. Lebih sering aku yang mengunjungi mamanya daripada Danis mengunjungi keluargaku. Aku kenal dekat mamanya. Bahkan sering beliau memintaku menemaninya belanja.
                “Vir!” Suara di seberang menyadarkanku dari lamunan tentang kami.
                “Ya.”
                “Sudah malam. Tidur!”
                “Oke. Selamat tidur.”
               Kuletakkan ponselku di kasur. Aku masih memikirkan jawaban Danis. Malam itu aku bermimpi. Kami menikah dan.... Danis meninggalkanku di altar.
                “Mimpi sialan!” Aku mengumpat. Kulempar selimut dan pergi ke kamar mandi. Hari ternyata sudah siang.
                                                                     ****
                “Jam berapa Danis ke sini?” Mama bertanya sesampai aku di rumah sepulang kerja.
                “Dia ada meeting, Ma. Belum tahu bisa ke sini atau tidak,” jawabku.
                “Mama akan tunggu sampai dia datang. Tak peduli jam berapa.”
                “Ma!”
                “Kalau dia tidak ke sini hari ini berarti stop.”
                “Apa itu artinya?”
                “Kamu dan dia, end!”
                “Ma!”
                “Berarti dia tidak serius. Tidak usah saja.”
                “Ma!”
                Tiba-tiba aku merasa pusing. Selama hubunganku dengan Danis, tidak pernah aku merasa sepusing ini.
                                                                      ****
                “Dan, jam berapa kamu ke sini?” Aku menelpon Danis.
                “Ini masih meeting, Vir. Bakalan panjang dan masih lama. Tidak bisa ke sana.”
                “Dan, Mama bilang kalau kamu nggak ke sini, kita end.”
                Hening. Tak ada sahutan di seberang sana.
                “Dan!” Aku panggil namanya.
                Masih hening.
                Aku mulai ragu. Seberapa besar cintanya padaku. Aku tidak pernah bertanya.
                “Baiklah.” Akhirnya Danis menyahut.
                “Baiklah apa?”
                “Baiklah kalau itu mau mamamu.”
                “APA?? Apa maksudmu.” Aku kaget mendengar jawabannya.
                “Mamamu ingin kita putus? Ok!”
                “Dan, kenapa pikiranmu sedangkal itu? Mama meminta kamu datang, hanya itu.”
                “Iya. Hanya meminta datang, kemudian menanyakan kapan aku akan melamarmu. Begitu,kan?”
                “Kenapa kamu begitu terganggu dengan pertanyaan itu? Wajar, kan? Sudah lama kita pacaran.”
                Aku mulai meragukan Danis.
                “Aku belum siap. Selama ini kamu tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya?”
                Tiba-tiba aku merasa asing dengan orang yang menjadi lawan bicaraku. Siapa dia?
                “Jadi, kamu tidak akan datang ke sini?”
                Tidak ada jawaban.
                “Aku harus masuk lagi. Rapat sudah mulai.”
                Dan... keheningan melingkupi sekelilingku.
                Mama akhirnya masuk kamar. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku hanya menangkap ekspresi mukanya. Aku periksa ponselku. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tak ada pesan.           Jam berdentang dua belas kali. Hari sudah berganti. 23 Desember. Kulihat ponselku. Idle. Tak ada notifikasi pesan dari media sosial manapun. Danis pun sama sekali tidak menghubungi Mama untuk meminta maaf atau sekedar basa-basi karena kemarin tidak datang. Pukul 23.58. Dua menit lagi hari akan berganti. Selamat ulang tahun, Vira. Aku menyelamati diri sendiri. Hari ini hari ulang tahunku. 23 Desember. Jam di ruang tengah berdentang. Tepat jam 00.00. Hari berganti. Beralih menjadi 24 Desember. Danis tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Dia belum menghubungiku sejak aku menelponnya kemarin sore. Aku juga tidak menghubungi dirinya.
                Aku teringat pertanyaanku pada Danis sewaktu aku menelponnya. “Jadi, kamu tidak akan datang ke sini?” Sebenarnya, aku sudah tahu jawabannya sejak kemarin malam Mama masuk ke kamar pada jam 23.30.
                                                                     ****
                Ingatan 2 tahun lalu itu muncul seperti kaleidoskop akhir tahun. Selama 6 tahun aku berpacaran dengan Danis, baru kali itu aku merasa tidak berharga. Ada rasa perih di dadaku. Dan tidak ada lotek pada hari ulang tahunku. Hari ini aku kembali menyusuri jalan itu. Sepertinya sudah otomatis ketika melewati Warung Lotek Ceu Edoh, aku memalingkan wajah ke arahnya. Aku teringat deja vu yang dulu aku kira. Bukan, ternyata bukan deja vu. Hanya pengalaman yang sudah berakar dalam ingatanku kemudian muncul pada keadaan yang mirip dengan pengalaman itu.
                “Vir, Mama mau beli lotek. Kamu mau?” Mama mengagetkanku yang sedang terhanyut oleh kenangan masa lalu.
                “Jangan tawari aku lotek, Mama. Aku benci lotek.”
                Ya. Aku benci lotek. Sejak kapan? Sejak Danis memutuskan untuk tidak datang memenuhi undangan Mama sehari sebelum hari ulang tahunku!

                                                                     ****

#Selamat ulang tahun, Ika.#

14.12.15

Selamat Hari Ibu, Bu.

Aku Indria. Umurku 5 tahun. Hari ini hujan turun lebat sekali. Aku menangis dengan suara keras. Mungkin aku ingin mengalahkan suara hujan dan petir yang bersahutan. Ibu berdiri di sebelahku. Mbak Zeta, kakakku, datang menghampiri kami. Rambutnya basah.      
     “Ini baru, In,” Mbak Zeta memperlihatkan padaku sepasang sandal jepit kecil. Sepertinya pas di kakiku. Rambutnya basah. 
     “Bohong,” teriakku di sela-sela tangisan. 
     “Itu baru, In,” Ibu ikut bicara. 
     “Iya,In. Sandal ini baru,” Mbak Zeta memberikan sepasang sandal itu kepadaku. Tubuhnya menggigil. 
     “Aku nggak mau yang itu. Aku mau sandal baru.” Ibu dan Mbak Zeta terus membujukku. Aku tidak terbujuk. Aku terus menangis. Tangisan yang sia-sia karena Ibu tetap tidak membelikanku sandal baru. 
                                           
                                            **** 
     Umurku bertambah. Sekarang aku 6 tahun. Aku sedang sakit panas. Penyakit yang biasa di kalangan anak-anak sebenarnya. Tapi aku terbaring seakan aku mengidap penyakit serius. Aku merengek pada Ibu. 
     “Ibu, aku mau sekolah,” kataku. 
     “Iya, nanti didaftarkan, “ kata Ibu sambil menyiapkan susu untukku. Aku sangat suka susu. Ibu selalu membuatkan secangkir setiap pagi. 
     “Kapan?” Tanyaku. 
     “Kalau kamu sembuh,” Ujar Ibu lagi. 
     ”Aku mau SD,” pintaku.
     “TK saja, ya. Kamu masih kecil.” kata Ibu. 
     “Nggak mau. Aku mau SD. SD Negeri 2 ya, Bu,” aku merengek. Ibu diam saja.

     Sesudah aku sembuh, aku sudah terdaftar menjadi murid Sekolah Dasar Negeri 2 kelas 1. Aku bahagia. Aku bangun pagi-pagi pada hari pertama masuk sekolah dengan riang gembira. 

                                          ****
     Aku sekarang sudah duduk di kelas 3. Sekolahku bukan sekolah besar. Ruang kelasnya terbatas. Karena itu, murid-murid bergiliran masuk pagi dan siang hari. Sekolahku sekompleks dengan Sekolah Dasar Negeri 1 dan Sekolah Dasar Negeri 3. Teman-teman mainku di rumah lebih banyak yang masuk ke Sekolah Dasar Negeri 1. Hanya aku yang sekolah di Sekolah Dasar Negeri 2. Itu karena permintaanku dulu. Hari ini aku berangkat siang. Begitu juga teman-teman mainku. Tiba-tiba saja, aku ingin pulang bersama teman-temanku di Sekolah Dasar Negeri 1. Padahal, aku pulang lebih dahulu. Aku melangkah ke salah satu kelas di Sekolah Dasar Negeri 1. Kubuka pintu kelas dan aku berdiri di samping pintu di dalam kelas. Gurunya sedang duduk di meja guru. Beliau membiarkanku masuk. Kulihat Reta, teman mainku, sedang mengerjakan tugas di bangkunya. Aku berdiri dengan sabar sampai lonceng sekolah Reta tanda pulang berbunyi. Murid-murid seketika menjadi gaduh. Mereka membereskan buku-buku yang berserakan di meja, berdoa, dan keluar. Aku menunggu sampai Reta berada di hadapanku dan kami pulang bersama. Saat aku berjalan dengan Reta, tetangga-tetangga melihat padaku. Aku heran tapi tidak bertanya. “Itu Indria. Ia tidak diculik,” teriaknya. Diculik? Aku diculik? Aku melihat pada tetanggaku dengan tatapan tak mengerti. Aku berjalan mendekati rumah. Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku merasa bersalah. Aku takut Ibu marah. Benar saja. Aku melihat Ibuku. Wajahnya sangar. Beliau marah.

     “Kenapa kamu tidak langsung pulang?” Beliau bertanya dengan galak padaku 
     “Ibu, maaf.” Suaraku pelan. Kutundukkan wajahku. 
     “Ibu pikir kamu diculik, Indria.” Suaranya tegas. 
     “Maaf, Bu. Aku salah,” 
     “Kamu dihukum.” 

     Ya, aku dihukum. Pulang sekolah harus langsung pulang dan harus minta izin jika bepergian. Itu adalah aturan. Dan Ibu, adalah sosok yang sangat ketat terhadap aturan. Aku dihukum karena melanggar aturan itu. Ibuku termasuk orang yang galak. 

                                            **** 
     Aku sekarang sudah kelas 6. Suatu hari, Ibu sakit. Semakin lama, semakin parah. Ibu dirawat di rumah sakit sampai suatu ketika, keadaan Ibu berangsur-angsur membaik. Walaupun belum sembuh benar, Ibu bisa berjalan lagi. Beliau bisa duduk di kursi ruang tamu untuk merasakan kehangatan sinar mentari. Aku senang sekali. Namun, setelah itu, Ibu kembali ambruk. Kondisinya semakin lemah. Di rumahpun, botol infus selalu berada di sebelah tempat tidur. Setiap bangun tidur, aku pergi ke kamarnya. Kuperhatikan dadanya. Ketika kulihat dadanya kembang kempis, aku lega. Ibu masih hidup. Sesudah itu, aku akan pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap ke sekolah. 

                                                 **** 
      Kupandangi foto Ibu. Wajahnya tersenyum. Beliau cantik sekali. Foto itu adalah foto kesayanganku. Kuambil dari album foto keluarga. Aku menyelipkannya di dompetku. Ketika rasa kangen muncul, kukeluarkan foto itu. Kupandangi wajahnya. Kubalas senyumnya. Kemudian, memori-memori itu bermunculan. Urutan yang sama: meminta sandal jepit baru, minta sekolah, disangka diculik dan dihukum, dan mobil ambulans. Aahh... yang terakhir belum aku ceritakan. Tentang mobil ambulans. 

                                                  ****

     Aku lega ketika melihat Ibu terbaring dengan mata tertutup namun tetap bernapas. Suatu hari, masa kelas enamku akan segera berakhir. Aku ujian akhir di sekolah lain. Aku pergi ujian naik sepeda. Pada hari kedua ujian, aku pulang bersama teman-temanku. Ketika aku hampir sampai rumah, sebuah mobil ambulans menuju ke arahku. Tiba-tiba saja aku merasa cemas. Kutanya temanku dari mana mobil itu datang. Temanku menggeleng. Hatiku semakin berdebar-debar ketika rumahku semakin dekat. Kulihat banyak orang berdiri di pinggir jalan. Aku berhenti di depan rumahku. Aku mendengar ada yang berbicara,
     
     ” Indria datang.” 

Kulihat tanteku berjalan menghampiriku. Tangisku pecah. Aku tahu apa yang terjadi. Tanteku datang dan memelukku. “Ibu pergi,” bisiknya. Tangisku semakin keras. 

                                                   ****
     Ingatan tentang ambulans masih kuat di kepalaku. Kupandangi foto Ibu. Sudah mulai lusuh karena begitu seringnya foto itu kukeluarkan dari dompet. Ibu, pertemuan kita tidaklah lama. Hanya dua belas tahun. Tapi aku belajar banyak tentangmu. Kau galak dalam benak masa kecilku. Tapi aku tahu kau menyayangiku. Ketika aku meminta sandal baru, saat itu, kau tidak punya uang. Tapi karena sayangmu padaku, kau meminta Mbak Zeta mencuci sandal agar terlihat baru. Gara-gara mencuci sandal, Mbak Zeta kehujanan dan menggigil kedinginan. Ibu, sayangmu membuat aku bisa masuk ke sekolah dasar padahal kau menginginkan aku masuk TK. Rasa sayangmu membuatmu marah ketika aku tidak meminta izinmu pulang terlambat. Ya, kau takut aku diculik, Ibu. Ibu, aku hanya bisa mendoakanmu agar kau tenang di alam sana. Aku minta maaf karena pernah membuatmu marah. 

                                                  **** 
     Sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku menengadah. Kutatap wajah Rio. Ia tersenyum. Kubalas senyumnya. Kuusap tangannya yang masih berada di pundakku. Kubuka dompet dan kupandang foto Ibu sambil berkata dalam hati, “Ibu, sudah ada penggantimu yang akan menjagaku. Jangan khawatir, Bu.” Kumasukkan foto Ibu ke dalam dompet. Aku sayang padamu, Bu. Selamat Hari Ibu. ****


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

19.7.15

Selamat Ulang Tahun, Alter Ego.

Selamat ulang tahun, Dear.

Setiap Idul Fitri adalah ulang tahunmu.
Kamu masih ingat kenapa?
Karena pada saat itu, beberapa tahun lalu, kamu memutuskan untuk mengubah dirimu.
Berubah untuk menjadi diri yang lebih baik.
Semoga Allah meridhoinya dan kamu benar-benar menjadi orang yang lebih baik.

Dear,
Idul Fitri erat kaitannya dengan saling memaafkan (walaupun katanya saling memaafkan adalah kata yang tidak tepat untuk Idul Fitri).
Biarkanlah.
Aku masih ingin menggunakannya.

Dear, marilah kita bicara tentang maaf memaafkan.
Sudahkah kau memaafkan seseorang yang pernah menertawakanmu itu?
Aku tahu, ketika kau bayangkan kejadian itu, kesalmu muncul.
Mereka tertawa-tawa di atas kemampuanmu yang belum tahu segala.
Sakit? Sepertinya kau merasakannya.

Dear,
Sudahkah kau memaafkannya?
Seseorang yang membicarakan kekesalannya terhadapmu, pada orang lain?
Aku tahu, saat ini, setiap kali teringat (karena ulah spontaneous memory), kesalmu timbul.
Tapi, spontaneous memory sungguh tak bisa dicegah.


Dear,
Apakah mereka membuatmu terluka?
Di hari ulang tahunmu ini,
apakah kau sudah memaafkan mereka?
Apakah kau akan memaafkan mereka?
Apakah kau sudah memaafkan mereka?
Atau, kau butuh bantuan sang waktu, untuk menyembuhkannya.
Aku tak tahu.
Hanya kau yang bisa menjawabnya.

Dear, 
Angkat kepalamu, tegakkan badanmu.
Yakinlah, kau mampu mengatasinya.
Selamat Idul Fitri.




Salam,
Aku, 
Alter egomu

3.4.15

SLC - Student Led Conference, Attachment, dan Reaksi Emosi

Karena agenda libur panjang ini berantakan, maka saya putuskan untuk menulis saja tentang pengalaman minggu ini. Mari!

Minggu ini, di Sekolah GagasCeria dijadwalkan sebagai minggu SLC – Student Led Conference. SLC adalah kegiatan yang mana siswa harus menjelaskan apa yang sudah dilakukannya selama kurun waktu tertentu di sekolah kepada orangtua berdasarkan catatan yang disebut Notebook Leadership. Jadi, orangtua dan siswa akan duduk berdampingan. Siswa menjelaskan, orangtua mendengarkan (dan diharapkan terjadi tanya jawab).

Sedikit cerita dari kegiatan SLC.
Seorang anak melihat teman-temannya duduk bersama orangtua sementara di sampingnya kursi masih kosong. Anak itu melihat ke belakang. Teman di belakangnya pun masih sendiri. Ia meletakkan kepalanya ke meja.  Anak itu menunduk kepalanya dan melingkarkan lengan di sekitar kepala. Tidak! Ia tidak mengatakan kalau ia sedih karena orangtuanya belum datang. Ketika ditanya, ia mengatakan sedang tidak enak badan. Suaranya pelan ketika berkata kalau ia sedang tidak enak badan. Matanya, mulai berkaca-kaca. Ia lap air matanya. Kemudian ia menengok ke belakang karena mendengar seseorang datang. Ternyata, seseorang itu duduk di belakangnya. Oh.. ternyata mama temannya. Akhirnya, mamanya datang. Raut mukanya berubah menjadi cerah melihat mamanya datang dan kemudian duduk di sampingnya.

Di lain hari.
Seorang anak duduk sendirian. Orangtuanya belum datang. Teman-temannya sudah mulai menjelaskan Notebook Leadership pada orangtuanya. Ada yang diapit mama papanya. Ada yang bercerita pada mamanya saja, atau papanya saja. Ia melihat ke arah kanan. Orangtua salah satu temannya pun belum datang, ama seperti dirinya. Mungkin anak itu merasa lega karena punya teman yang senasib dengannya. Anak itu akhirnya mau bercerita pada orang lain yang menggantikan orangtuanya. Saat ia bercerita, suaranya pelan. Hampir tidak terdengar. Meskipun ia diminta untuk mengeraskan suaranya, suaranya tetap pelan. Beberapa kali ia menoleh ke arah temannya yang tadi masih sendiri. Oh... ternyata orangtuanya sudah datang dan sudah duduk di samping temannya. Temannya terlihat senang. Ia pun meneruskan ceritanya tapi suaranya semakin mengecil. Matanya mulai memerah dan ada genangan air di sudut matanya. Dan ketika orangtuanya datang, ia menangis.

Sebelum acara dimulai, biasanya saya bertanya pada anak-anak. “Siapa yang deg-degan?” Hampir semua anak akan mengangkat tangan. Ketika saya berkata, “Sudah banyak lho, orangtua yang datang,” mereka kemudian bertanya dengan wajah polos dan rasa ingin tahu, “Mama aku udah ada? Papa aku udah ada?”  Saya senang melihat wajah-wajah sumringah mereka ketika tahu orangtuanya datang. Atau, mereka akan memberitahu temannya: “Ayah kamu udah ada, mama kamu udah datang.”

Sesudah acara, saya akan bertanya lagi. “Apa rasanya tadi?” Dengan berebut bicara, mereka menjawab “senang” atau “deg-degan”, “tegang” dan lain sebagainya. “Kenapa?” Tanya saya. Alasan mereka:
-          “Karena orangtuanya datang.”
-          “Karena orangtuanya bertanya.”
-          “Karena aku ditanya.”
-          “Aku lebih senang kalau orangtuanya banyak nanya.”

Masih ingat beberapa waktu lalu beredar di media sosial satu catatan tentang bagaimana orangtua berhutang banyak pada anak? Orangtua berhutang banyak cinta, kebahagiaan, dan waktu pada anak-anaknya. Bagaimana pun juga, bagi seorang anak, orangtua tetaplah figur penting yang sangat diharapkan kehadirannya.


Pada momen ini, saya melihat bahwa SLC kental dengan kedekatan orangtua-anak. Saya bisa melihat bagaimana orangtua berkomunikasi dengan anak. Orangtua bisa melihat bagaimana kemampuan anak dalam menjelaskan. Yang paling penting adalah bagaimana attachment terbangun saat proses SLC berlangsung. Reaksi emosi pada anak bisa terlihat dengan jelas tergambar. Senang, sedih, kecewa, gembira.  Yang paling membahagiakan bagi saya adalah saya melihat begitu banyak ekspresi gembira terpancar di wajah anak-anak ketika orangtuanya ada dan mendengarkan mereka bercerita.

Happy long weekend!