30.12.15

Deja Vu

Pukul 11.30 siang. Matahari siang memanggang bumi.
                Damn! Aku mengutuk kemacetan ini. Tak ada yang mendengar tentu saja. Aku sendirian di dalam mobil. Kalau saja Ana, adikku, tidak datang hari ini, aku takkan keluar dan menghadapi kemacetan. Aku benci macet. Tapi aku harus keluar menjemput Ana di bandara. Ia pulang hari ini. memang, tidak biasanya aku melewati jalan ini. Alih-alih menghindari kemacetan karena libur yang berderet, aku malah terjebak ke dalam kemacetan yang semula ingin kuhindari. 
                Kulayangkan pandang ke sekeliling. Mobil berderet diam di depanku. Di sebelah kanan dan kiri juga sama. Dari kaca spion kulihat di belakang juga begitu. Kuhembuskan napas. Kedua tangan kuletakkan di atas stir. Menunggu.
                Syukurlah. Antrian sudah mulai maju. Aku menjalankan mobilku sekitar 2 kilometer sebelum kemudian terjebak lagi dalam antrian yang panjang. Entah kapan akan berakhir.      
                Damn! Aku mengutuk lagi dalam hati. Ana sudah tiba di bandara. Kembali kulayangkan pandanganku ke sekeliling. Aku tertegun. Di mana aku pernah melihat keadaan seperti ini? Apakah ini ilusi? Fatamorgana? Kubelalakan mata. Keadaan yang kulihat tetap sama. Berarti bukan ilusi. Kupejamkan mata dan kubuka lagi. Sama! Kututup lagi mataku. Kuhitung sampai 10 sebelum kubuka mata. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti sebelum aku menutup mata. Ada selintas ingatan yang muncul di benakku. Toko  besi di sebelah kananku. Di sebelah kiri toko besi ada kantor desain. Tulisan 10+ terpampang besar-besar di jendela kacanya. Di sebelah kanan kantor desain ada bank. Di sebelah kiri toko besi ada tanah kosong dengan warung tenda berdiri di atasnya. Tak ada aktivitas di sana. Hanya meja dan bangku panjang yang ditumpuk di atas meja. Kulihat antrian di depanku masih belum bergerak. Kucoba memanggil ingatan yang muncul tadi. Nihil. Aku menengok lagi ke sebelah kanan. Tidak berubah. Rasanya familiar. Kupejamkan mata rapat-rapat sambil menghitung lagi.
                Tet....tet....!
                Hitunganku mencapai 23 ketika suara klakson mengagetkanku. Seketika membuat aku membuka mata. Mobil di depanku sudah berjalan sekitar  5 meter. Aku cepat-cepat menjalankan mobilku sambil melihat ke arah kanan. Deretan bangunan di sebelah kananku tidak berubah. Dan warung itu.... tetap ada di sana. Di mana aku pernah melihat hal yang sama? Toko bangunan, kantor desain, bank, dan ..... sebuah warung. Apakah aku sering  melewati jalan ini? Tidak! Baru kali ini aku lewat ke sini. Tapi rasanya aku pernah melewatinya. Sering malah. Tapi kapan? Di mana? Kapan aku pernah ke sini? Ataukah aku mengalami deja vu?
                                                                     ***
                “Kenapa? Dari tadi diam sambil mikir gitu.” Ana bertanya padaku dalam perjalanan pulang dari bandara.
                “Deja vu.”
                “Apa?” Suara Ana terdengar heran.
                “Deja vu. Aku mengalami deja vu,” aku berkata pelan.
                “Deja vu apa?”
                “Ah.. sudahlah. Kenapa tadi delay?” Aku mengalihkan pembicaraan.
                Deja vu. Ya. Deja vu.  Kata itu berkeliaran di dalam kepala. Aku masih terus memikirkan jalanan yang kulewati tadi. Pun di rumah sesudah menjemput Ana. Di mana aku pernah melihat hal yang sama seperti ‘pemandangan’ saat perjalanan ke bandara?
                Ingatan itu masih terpikirkan sampai aku tertidur. Warung itu muncul di dalam mimpiku. Alam bawah sadar sialan!
                                                                      ****
                Hari ini aku kembali melewati jalanan sewaktu aku menjemput Ana di bandara. Penasaran. Bangunan dan urutannya tetap sama seperti seminggu lalu. Bedanya, bank yang seminggu lalu  tutup sekarang sudah buka. Aku tak juga bisa memanggil memori tentang urutan bangunan yang mengganggu pikiranku seminggu ini. Termasuk warung itu.
                Baiklah... aku menyerah. Kulewati deretan bangunan itu dengan satu tekad: lupakan saja! Kulayangkan warung tenda yang minggu lalu kosong. Sekarang ada kesibukan di sana. Lotek Ceu Edoh.  Lotek Ceu Edoh! Lotek Ceu Edoh tertulis di kain penutup warung. Tiba-tiba, ingatan yang enggan muncul beberapa hari ini bermunculan.  Seperti air yang keluar dari kran. Mengucur deras.
                Perih. Seiring dengan ingatan yang bermunculan, rasa perih itu muncul menyeruak mengganggu metabolisme mentalku. Sialan! Aku pun kembali menjadi pengumpat.
                                                                     ****
                “Selamat ulang tahun, Vira. Semoga, sehat, banyak rejeki, bahagia terus bersamaku,” Danis menyalamiku.
                “Terima kasih,” aku menyambut uluran tangannya dengan bahagia. Tangan yang sudah bertahun-tahun menjadi penyambung hidupku. Tangan yang memegang harapanku agar ia bisa terus menjadi pendamping hidupku. Belum! Ia belum jadi suamiku. Tapi, tak bisa kupungkiri. Bersamanya, hidupku terasa lengkap. Akan lebih lengkap lagi jika aku bersanding dengannya di depan altar. Sudah sering pikiran itu terlintas tapi kami tak jua membicarakannya dengan serius. Biarlah. Aku tak ingin kehilangan saat-saat bahagiaku bersamanya.
                “Ke tempat biasa?” Danis bertanya padaku. Kuanggukkan kepala. 
                “Let’s go!”
                Kami pun masuk ke dalam mobil dan menuju ‘tempat biasa’. Jangan! Jangan berpikir macam-macam. Tempat biasa kami adalah sebuah warung makan di pinggir jalan di Lembang. Sebelah kanannya terdapat toko bangunan. Sebelah kanannya lagi ada satu kantor desain, dan kemudian bank. Nama kantor desainnnya berbeda, tapi nama bank-nya sama. Warung itu sebuah warung lotek. Rasa loteknya biasa. Tidak sangat enak sehingga kami rela menempuh jarak jauh hanya untuk merayakan ulang tahunku atau ulangtahunnya. Bukan candle light dinner romantis di restoran, ucapan selamat disertai setangkai bunga dan kartu, atau surprise tengah malam. Bukan makan mie seperti orang Cina atau makan sup rumput laut seperti orang Korea. Suatu ‘kebiasaan’ yang tidak biasa untuk merayakan ulang tahun. Ditraktir lotek. Yang menjadikan makan lotek pada ulang tahun kami sebagai sesuatu hal yang istimewa adalah kami berdua. Danis menyatakan cintanya di warung itu 5 tahun lalu. Saat kami sedang kelaparan dan menemukan warung itu dalam perjalanan menuju Gunung Tangkuban Perahu bersama teman-teman satu fakultas. Tidak romantis. Memang! Sangat tidak romantis. Tapi, aku adalah orang yang menurutku paling bahagia pada hari itu.
                Sejak saat itu, setiap kami berulang tahun (aku atau Danis) kami akan ke Lembang, makan di warung itu, dan mengingat kembali awal kami jadian.
                Hari ini genap 6 tahun hubunganku dengannya. Cukup lama. Tapi tetap saja, belum ada dari kami yang membicarakan pernikahan. Biarlah. Toh aku masih menikmati hubungan kami. Begitu pula Danis. Putus nyambung pernah terjadi. Tapi alasannya bukan karena topik ‘pernikahan’.  Lebih banyak karena kecemburuan. Suatu hal yang biasa, kan?
                “Vir, duduk di sini,” Mama memanggilku suatu malam.
                Mendengar nadanya saat ini, aku tahu, yang akan dibicarakan adalah masalah serius. Aku bisa membedakan nada suara mama jika akan membicarakan hal yang serius dan yang tidak. Aku duduk di depan Mama.
                “Apa rencanamu dengan Danis?” Straight to the point. Tanpa basa-basi, Mama bertanya padaku. Aku tidak tahu apa yang akan Danis katakan kalau Mama menanyakannya langsung padanya. Ini saja sudah cukup membuatku gelagapan walaupun sudah mengira sebelumnya.
                “Ee....ee... Belum tahu, Ma.” 
                “Sudah cukup lama kan, kalian pacaran?”
                “Iya.”
                “Untuk apa kalian pacaran kalau tidak untuk menikah?”
                “Kami belum membicarakan tentang itu.”
                “Lalu kapan? Kalian tidak akan menikah?”
                “.......” Aku diam. Belum tahu mau menjawab apa.
                “Vir?”
                “Siapa sih yang nggak ingin menikah, Ma?”
                “Lalu, kapan?”
                “Ma....”
                “Besok, minta Danis datang ke sini. Mama mau bicara.”
                “Bicara apa, Ma?”
                “Mama mau tanya padanya. Serius nggak dia sama kamu.”
                “Seriuslah, Ma.”
                “Kalau serius, kenapa sampai sekarang dia tidak melamar kamu?”
                Aku diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
                “Besok, atau tidak sama sekali.”
                “Ma!”
                Mama pergi meninggalkan aku yang masih terdiam di sofa.
                                                                     ****
                “Hai! Belum tidur?” Suara Danis di ujung sana
                “Belum ngantuk. Ehmmm... Dan.....”
                “Kenapa?”
                “Ehmmm... Mama meminta kamu datang besok.”
                “Ada apa?”
                “Ehmmm....” Aku masih menimbang-nimbang. Bicara jujur atau pura-pura tidak tahu.
                “Vir?”
                “Tadi Mama nanya kalau kita serius nggak.”
                “Ya..seriuslah.”
                “Syukurlah kalau begitu.”
                “Kenapa?”
                “Mama tanya, kapan kita nikah,” akhirnya aku katakan juga apa yang Mama tanyakan.
                “......”  Tidak ada suara di ujung sana.
                “Dan!”
                “Ya.”
                “Kamu besok ke sini jam berapa?”
                “Ehm... besok aku ada meeting. Belum tahu sampai jam berapa. Lihat besok saja.”
                Deg! Kenapa Danis menjawab seperti itu? Apakah memang dia tidak punya niat sedikit pun untuk datang menemui Mama? Selama ini, Danis memang jarang ke rumah. Kalau Mama atau Papa mengajak berbincang-bincang, Danis seperti gelisah. Lalu, dia akan mengajakku pergi dari rumah. Aku pernah bertanya padanya tentang hal itu. Segan. Itu jawabnya. Toh kemudian aku tidak pernah mempermasalahkannya. Lebih sering aku yang mengunjungi mamanya daripada Danis mengunjungi keluargaku. Aku kenal dekat mamanya. Bahkan sering beliau memintaku menemaninya belanja.
                “Vir!” Suara di seberang menyadarkanku dari lamunan tentang kami.
                “Ya.”
                “Sudah malam. Tidur!”
                “Oke. Selamat tidur.”
               Kuletakkan ponselku di kasur. Aku masih memikirkan jawaban Danis. Malam itu aku bermimpi. Kami menikah dan.... Danis meninggalkanku di altar.
                “Mimpi sialan!” Aku mengumpat. Kulempar selimut dan pergi ke kamar mandi. Hari ternyata sudah siang.
                                                                     ****
                “Jam berapa Danis ke sini?” Mama bertanya sesampai aku di rumah sepulang kerja.
                “Dia ada meeting, Ma. Belum tahu bisa ke sini atau tidak,” jawabku.
                “Mama akan tunggu sampai dia datang. Tak peduli jam berapa.”
                “Ma!”
                “Kalau dia tidak ke sini hari ini berarti stop.”
                “Apa itu artinya?”
                “Kamu dan dia, end!”
                “Ma!”
                “Berarti dia tidak serius. Tidak usah saja.”
                “Ma!”
                Tiba-tiba aku merasa pusing. Selama hubunganku dengan Danis, tidak pernah aku merasa sepusing ini.
                                                                      ****
                “Dan, jam berapa kamu ke sini?” Aku menelpon Danis.
                “Ini masih meeting, Vir. Bakalan panjang dan masih lama. Tidak bisa ke sana.”
                “Dan, Mama bilang kalau kamu nggak ke sini, kita end.”
                Hening. Tak ada sahutan di seberang sana.
                “Dan!” Aku panggil namanya.
                Masih hening.
                Aku mulai ragu. Seberapa besar cintanya padaku. Aku tidak pernah bertanya.
                “Baiklah.” Akhirnya Danis menyahut.
                “Baiklah apa?”
                “Baiklah kalau itu mau mamamu.”
                “APA?? Apa maksudmu.” Aku kaget mendengar jawabannya.
                “Mamamu ingin kita putus? Ok!”
                “Dan, kenapa pikiranmu sedangkal itu? Mama meminta kamu datang, hanya itu.”
                “Iya. Hanya meminta datang, kemudian menanyakan kapan aku akan melamarmu. Begitu,kan?”
                “Kenapa kamu begitu terganggu dengan pertanyaan itu? Wajar, kan? Sudah lama kita pacaran.”
                Aku mulai meragukan Danis.
                “Aku belum siap. Selama ini kamu tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya?”
                Tiba-tiba aku merasa asing dengan orang yang menjadi lawan bicaraku. Siapa dia?
                “Jadi, kamu tidak akan datang ke sini?”
                Tidak ada jawaban.
                “Aku harus masuk lagi. Rapat sudah mulai.”
                Dan... keheningan melingkupi sekelilingku.
                Mama akhirnya masuk kamar. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku hanya menangkap ekspresi mukanya. Aku periksa ponselku. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tak ada pesan.           Jam berdentang dua belas kali. Hari sudah berganti. 23 Desember. Kulihat ponselku. Idle. Tak ada notifikasi pesan dari media sosial manapun. Danis pun sama sekali tidak menghubungi Mama untuk meminta maaf atau sekedar basa-basi karena kemarin tidak datang. Pukul 23.58. Dua menit lagi hari akan berganti. Selamat ulang tahun, Vira. Aku menyelamati diri sendiri. Hari ini hari ulang tahunku. 23 Desember. Jam di ruang tengah berdentang. Tepat jam 00.00. Hari berganti. Beralih menjadi 24 Desember. Danis tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Dia belum menghubungiku sejak aku menelponnya kemarin sore. Aku juga tidak menghubungi dirinya.
                Aku teringat pertanyaanku pada Danis sewaktu aku menelponnya. “Jadi, kamu tidak akan datang ke sini?” Sebenarnya, aku sudah tahu jawabannya sejak kemarin malam Mama masuk ke kamar pada jam 23.30.
                                                                     ****
                Ingatan 2 tahun lalu itu muncul seperti kaleidoskop akhir tahun. Selama 6 tahun aku berpacaran dengan Danis, baru kali itu aku merasa tidak berharga. Ada rasa perih di dadaku. Dan tidak ada lotek pada hari ulang tahunku. Hari ini aku kembali menyusuri jalan itu. Sepertinya sudah otomatis ketika melewati Warung Lotek Ceu Edoh, aku memalingkan wajah ke arahnya. Aku teringat deja vu yang dulu aku kira. Bukan, ternyata bukan deja vu. Hanya pengalaman yang sudah berakar dalam ingatanku kemudian muncul pada keadaan yang mirip dengan pengalaman itu.
                “Vir, Mama mau beli lotek. Kamu mau?” Mama mengagetkanku yang sedang terhanyut oleh kenangan masa lalu.
                “Jangan tawari aku lotek, Mama. Aku benci lotek.”
                Ya. Aku benci lotek. Sejak kapan? Sejak Danis memutuskan untuk tidak datang memenuhi undangan Mama sehari sebelum hari ulang tahunku!

                                                                     ****

#Selamat ulang tahun, Ika.#

14.12.15

Selamat Hari Ibu, Bu.

Aku Indria. Umurku 5 tahun. Hari ini hujan turun lebat sekali. Aku menangis dengan suara keras. Mungkin aku ingin mengalahkan suara hujan dan petir yang bersahutan. Ibu berdiri di sebelahku. Mbak Zeta, kakakku, datang menghampiri kami. Rambutnya basah.      
     “Ini baru, In,” Mbak Zeta memperlihatkan padaku sepasang sandal jepit kecil. Sepertinya pas di kakiku. Rambutnya basah. 
     “Bohong,” teriakku di sela-sela tangisan. 
     “Itu baru, In,” Ibu ikut bicara. 
     “Iya,In. Sandal ini baru,” Mbak Zeta memberikan sepasang sandal itu kepadaku. Tubuhnya menggigil. 
     “Aku nggak mau yang itu. Aku mau sandal baru.” Ibu dan Mbak Zeta terus membujukku. Aku tidak terbujuk. Aku terus menangis. Tangisan yang sia-sia karena Ibu tetap tidak membelikanku sandal baru. 
                                           
                                            **** 
     Umurku bertambah. Sekarang aku 6 tahun. Aku sedang sakit panas. Penyakit yang biasa di kalangan anak-anak sebenarnya. Tapi aku terbaring seakan aku mengidap penyakit serius. Aku merengek pada Ibu. 
     “Ibu, aku mau sekolah,” kataku. 
     “Iya, nanti didaftarkan, “ kata Ibu sambil menyiapkan susu untukku. Aku sangat suka susu. Ibu selalu membuatkan secangkir setiap pagi. 
     “Kapan?” Tanyaku. 
     “Kalau kamu sembuh,” Ujar Ibu lagi. 
     ”Aku mau SD,” pintaku.
     “TK saja, ya. Kamu masih kecil.” kata Ibu. 
     “Nggak mau. Aku mau SD. SD Negeri 2 ya, Bu,” aku merengek. Ibu diam saja.

     Sesudah aku sembuh, aku sudah terdaftar menjadi murid Sekolah Dasar Negeri 2 kelas 1. Aku bahagia. Aku bangun pagi-pagi pada hari pertama masuk sekolah dengan riang gembira. 

                                          ****
     Aku sekarang sudah duduk di kelas 3. Sekolahku bukan sekolah besar. Ruang kelasnya terbatas. Karena itu, murid-murid bergiliran masuk pagi dan siang hari. Sekolahku sekompleks dengan Sekolah Dasar Negeri 1 dan Sekolah Dasar Negeri 3. Teman-teman mainku di rumah lebih banyak yang masuk ke Sekolah Dasar Negeri 1. Hanya aku yang sekolah di Sekolah Dasar Negeri 2. Itu karena permintaanku dulu. Hari ini aku berangkat siang. Begitu juga teman-teman mainku. Tiba-tiba saja, aku ingin pulang bersama teman-temanku di Sekolah Dasar Negeri 1. Padahal, aku pulang lebih dahulu. Aku melangkah ke salah satu kelas di Sekolah Dasar Negeri 1. Kubuka pintu kelas dan aku berdiri di samping pintu di dalam kelas. Gurunya sedang duduk di meja guru. Beliau membiarkanku masuk. Kulihat Reta, teman mainku, sedang mengerjakan tugas di bangkunya. Aku berdiri dengan sabar sampai lonceng sekolah Reta tanda pulang berbunyi. Murid-murid seketika menjadi gaduh. Mereka membereskan buku-buku yang berserakan di meja, berdoa, dan keluar. Aku menunggu sampai Reta berada di hadapanku dan kami pulang bersama. Saat aku berjalan dengan Reta, tetangga-tetangga melihat padaku. Aku heran tapi tidak bertanya. “Itu Indria. Ia tidak diculik,” teriaknya. Diculik? Aku diculik? Aku melihat pada tetanggaku dengan tatapan tak mengerti. Aku berjalan mendekati rumah. Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku merasa bersalah. Aku takut Ibu marah. Benar saja. Aku melihat Ibuku. Wajahnya sangar. Beliau marah.

     “Kenapa kamu tidak langsung pulang?” Beliau bertanya dengan galak padaku 
     “Ibu, maaf.” Suaraku pelan. Kutundukkan wajahku. 
     “Ibu pikir kamu diculik, Indria.” Suaranya tegas. 
     “Maaf, Bu. Aku salah,” 
     “Kamu dihukum.” 

     Ya, aku dihukum. Pulang sekolah harus langsung pulang dan harus minta izin jika bepergian. Itu adalah aturan. Dan Ibu, adalah sosok yang sangat ketat terhadap aturan. Aku dihukum karena melanggar aturan itu. Ibuku termasuk orang yang galak. 

                                            **** 
     Aku sekarang sudah kelas 6. Suatu hari, Ibu sakit. Semakin lama, semakin parah. Ibu dirawat di rumah sakit sampai suatu ketika, keadaan Ibu berangsur-angsur membaik. Walaupun belum sembuh benar, Ibu bisa berjalan lagi. Beliau bisa duduk di kursi ruang tamu untuk merasakan kehangatan sinar mentari. Aku senang sekali. Namun, setelah itu, Ibu kembali ambruk. Kondisinya semakin lemah. Di rumahpun, botol infus selalu berada di sebelah tempat tidur. Setiap bangun tidur, aku pergi ke kamarnya. Kuperhatikan dadanya. Ketika kulihat dadanya kembang kempis, aku lega. Ibu masih hidup. Sesudah itu, aku akan pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap ke sekolah. 

                                                 **** 
      Kupandangi foto Ibu. Wajahnya tersenyum. Beliau cantik sekali. Foto itu adalah foto kesayanganku. Kuambil dari album foto keluarga. Aku menyelipkannya di dompetku. Ketika rasa kangen muncul, kukeluarkan foto itu. Kupandangi wajahnya. Kubalas senyumnya. Kemudian, memori-memori itu bermunculan. Urutan yang sama: meminta sandal jepit baru, minta sekolah, disangka diculik dan dihukum, dan mobil ambulans. Aahh... yang terakhir belum aku ceritakan. Tentang mobil ambulans. 

                                                  ****

     Aku lega ketika melihat Ibu terbaring dengan mata tertutup namun tetap bernapas. Suatu hari, masa kelas enamku akan segera berakhir. Aku ujian akhir di sekolah lain. Aku pergi ujian naik sepeda. Pada hari kedua ujian, aku pulang bersama teman-temanku. Ketika aku hampir sampai rumah, sebuah mobil ambulans menuju ke arahku. Tiba-tiba saja aku merasa cemas. Kutanya temanku dari mana mobil itu datang. Temanku menggeleng. Hatiku semakin berdebar-debar ketika rumahku semakin dekat. Kulihat banyak orang berdiri di pinggir jalan. Aku berhenti di depan rumahku. Aku mendengar ada yang berbicara,
     
     ” Indria datang.” 

Kulihat tanteku berjalan menghampiriku. Tangisku pecah. Aku tahu apa yang terjadi. Tanteku datang dan memelukku. “Ibu pergi,” bisiknya. Tangisku semakin keras. 

                                                   ****
     Ingatan tentang ambulans masih kuat di kepalaku. Kupandangi foto Ibu. Sudah mulai lusuh karena begitu seringnya foto itu kukeluarkan dari dompet. Ibu, pertemuan kita tidaklah lama. Hanya dua belas tahun. Tapi aku belajar banyak tentangmu. Kau galak dalam benak masa kecilku. Tapi aku tahu kau menyayangiku. Ketika aku meminta sandal baru, saat itu, kau tidak punya uang. Tapi karena sayangmu padaku, kau meminta Mbak Zeta mencuci sandal agar terlihat baru. Gara-gara mencuci sandal, Mbak Zeta kehujanan dan menggigil kedinginan. Ibu, sayangmu membuat aku bisa masuk ke sekolah dasar padahal kau menginginkan aku masuk TK. Rasa sayangmu membuatmu marah ketika aku tidak meminta izinmu pulang terlambat. Ya, kau takut aku diculik, Ibu. Ibu, aku hanya bisa mendoakanmu agar kau tenang di alam sana. Aku minta maaf karena pernah membuatmu marah. 

                                                  **** 
     Sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku menengadah. Kutatap wajah Rio. Ia tersenyum. Kubalas senyumnya. Kuusap tangannya yang masih berada di pundakku. Kubuka dompet dan kupandang foto Ibu sambil berkata dalam hati, “Ibu, sudah ada penggantimu yang akan menjagaku. Jangan khawatir, Bu.” Kumasukkan foto Ibu ke dalam dompet. Aku sayang padamu, Bu. Selamat Hari Ibu. ****


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

19.7.15

Selamat Ulang Tahun, Alter Ego.

Selamat ulang tahun, Dear.

Setiap Idul Fitri adalah ulang tahunmu.
Kamu masih ingat kenapa?
Karena pada saat itu, beberapa tahun lalu, kamu memutuskan untuk mengubah dirimu.
Berubah untuk menjadi diri yang lebih baik.
Semoga Allah meridhoinya dan kamu benar-benar menjadi orang yang lebih baik.

Dear,
Idul Fitri erat kaitannya dengan saling memaafkan (walaupun katanya saling memaafkan adalah kata yang tidak tepat untuk Idul Fitri).
Biarkanlah.
Aku masih ingin menggunakannya.

Dear, marilah kita bicara tentang maaf memaafkan.
Sudahkah kau memaafkan seseorang yang pernah menertawakanmu itu?
Aku tahu, ketika kau bayangkan kejadian itu, kesalmu muncul.
Mereka tertawa-tawa di atas kemampuanmu yang belum tahu segala.
Sakit? Sepertinya kau merasakannya.

Dear,
Sudahkah kau memaafkannya?
Seseorang yang membicarakan kekesalannya terhadapmu, pada orang lain?
Aku tahu, saat ini, setiap kali teringat (karena ulah spontaneous memory), kesalmu timbul.
Tapi, spontaneous memory sungguh tak bisa dicegah.


Dear,
Apakah mereka membuatmu terluka?
Di hari ulang tahunmu ini,
apakah kau sudah memaafkan mereka?
Apakah kau akan memaafkan mereka?
Apakah kau sudah memaafkan mereka?
Atau, kau butuh bantuan sang waktu, untuk menyembuhkannya.
Aku tak tahu.
Hanya kau yang bisa menjawabnya.

Dear, 
Angkat kepalamu, tegakkan badanmu.
Yakinlah, kau mampu mengatasinya.
Selamat Idul Fitri.




Salam,
Aku, 
Alter egomu

3.4.15

SLC - Student Led Conference, Attachment, dan Reaksi Emosi

Karena agenda libur panjang ini berantakan, maka saya putuskan untuk menulis saja tentang pengalaman minggu ini. Mari!

Minggu ini, di Sekolah GagasCeria dijadwalkan sebagai minggu SLC – Student Led Conference. SLC adalah kegiatan yang mana siswa harus menjelaskan apa yang sudah dilakukannya selama kurun waktu tertentu di sekolah kepada orangtua berdasarkan catatan yang disebut Notebook Leadership. Jadi, orangtua dan siswa akan duduk berdampingan. Siswa menjelaskan, orangtua mendengarkan (dan diharapkan terjadi tanya jawab).

Sedikit cerita dari kegiatan SLC.
Seorang anak melihat teman-temannya duduk bersama orangtua sementara di sampingnya kursi masih kosong. Anak itu melihat ke belakang. Teman di belakangnya pun masih sendiri. Ia meletakkan kepalanya ke meja.  Anak itu menunduk kepalanya dan melingkarkan lengan di sekitar kepala. Tidak! Ia tidak mengatakan kalau ia sedih karena orangtuanya belum datang. Ketika ditanya, ia mengatakan sedang tidak enak badan. Suaranya pelan ketika berkata kalau ia sedang tidak enak badan. Matanya, mulai berkaca-kaca. Ia lap air matanya. Kemudian ia menengok ke belakang karena mendengar seseorang datang. Ternyata, seseorang itu duduk di belakangnya. Oh.. ternyata mama temannya. Akhirnya, mamanya datang. Raut mukanya berubah menjadi cerah melihat mamanya datang dan kemudian duduk di sampingnya.

Di lain hari.
Seorang anak duduk sendirian. Orangtuanya belum datang. Teman-temannya sudah mulai menjelaskan Notebook Leadership pada orangtuanya. Ada yang diapit mama papanya. Ada yang bercerita pada mamanya saja, atau papanya saja. Ia melihat ke arah kanan. Orangtua salah satu temannya pun belum datang, ama seperti dirinya. Mungkin anak itu merasa lega karena punya teman yang senasib dengannya. Anak itu akhirnya mau bercerita pada orang lain yang menggantikan orangtuanya. Saat ia bercerita, suaranya pelan. Hampir tidak terdengar. Meskipun ia diminta untuk mengeraskan suaranya, suaranya tetap pelan. Beberapa kali ia menoleh ke arah temannya yang tadi masih sendiri. Oh... ternyata orangtuanya sudah datang dan sudah duduk di samping temannya. Temannya terlihat senang. Ia pun meneruskan ceritanya tapi suaranya semakin mengecil. Matanya mulai memerah dan ada genangan air di sudut matanya. Dan ketika orangtuanya datang, ia menangis.

Sebelum acara dimulai, biasanya saya bertanya pada anak-anak. “Siapa yang deg-degan?” Hampir semua anak akan mengangkat tangan. Ketika saya berkata, “Sudah banyak lho, orangtua yang datang,” mereka kemudian bertanya dengan wajah polos dan rasa ingin tahu, “Mama aku udah ada? Papa aku udah ada?”  Saya senang melihat wajah-wajah sumringah mereka ketika tahu orangtuanya datang. Atau, mereka akan memberitahu temannya: “Ayah kamu udah ada, mama kamu udah datang.”

Sesudah acara, saya akan bertanya lagi. “Apa rasanya tadi?” Dengan berebut bicara, mereka menjawab “senang” atau “deg-degan”, “tegang” dan lain sebagainya. “Kenapa?” Tanya saya. Alasan mereka:
-          “Karena orangtuanya datang.”
-          “Karena orangtuanya bertanya.”
-          “Karena aku ditanya.”
-          “Aku lebih senang kalau orangtuanya banyak nanya.”

Masih ingat beberapa waktu lalu beredar di media sosial satu catatan tentang bagaimana orangtua berhutang banyak pada anak? Orangtua berhutang banyak cinta, kebahagiaan, dan waktu pada anak-anaknya. Bagaimana pun juga, bagi seorang anak, orangtua tetaplah figur penting yang sangat diharapkan kehadirannya.


Pada momen ini, saya melihat bahwa SLC kental dengan kedekatan orangtua-anak. Saya bisa melihat bagaimana orangtua berkomunikasi dengan anak. Orangtua bisa melihat bagaimana kemampuan anak dalam menjelaskan. Yang paling penting adalah bagaimana attachment terbangun saat proses SLC berlangsung. Reaksi emosi pada anak bisa terlihat dengan jelas tergambar. Senang, sedih, kecewa, gembira.  Yang paling membahagiakan bagi saya adalah saya melihat begitu banyak ekspresi gembira terpancar di wajah anak-anak ketika orangtuanya ada dan mendengarkan mereka bercerita.

Happy long weekend!

28.3.15

Belitung Eksotik

Belitung!
Hampir semua orang mungkin sudah pernah mendengar ‘Belitung’. Bagaimana tidak? Belitung adalah satu tempat yang sangat fenomenal karena sebuah novel yang kemudian dijadikan film. Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata membuat banyak orang menyoroti Belitung. Apalagi tokoh Ibu Muslimah sebagai guru mampu membuat saya merasa bahwa sebagai pendidik, saya belum melakukan apa-apa. Kisah tentang pendidikan itulah yang justru membuat saya tertarik untuk membaca dan menonton Laskar Pelangi, bukan keindahan digambarkan dalam film tersebut. Namun, ketika ada tawaran untuk pergi ke sana, entah kenapa saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Mungkin karena saat itu saya merasa butuh bepergian. Dan tiga hari dua malam yang dihabiskan di Belitung ternyata cukup kuat tertanam dalam ingatan saya. Bahkan, ingin rasanya kembali menikmati pantai-pantai indah di Belitung. Rasanya, saya tidak pernah bosan untuk mengulang-ulang rangkaian memori yang terkumpul saat itu.

Teriakan Takjub Hari Pertama
Perjalanan ke Belitung dimulai pada tengah malam. Dinginnya udara Bandung kami (saya dan beberapa teman) abaikan. Penerbangan dari Cengkareng, Jakarta, ke Tanjung Pandan Belitung kami pilih di pagi hari. Jam 05.55. Alasannya sederhana, biar bisa cepat-cepat sampai ke Belitung. Alasan kedua lebih ekonomis, ogah rugi. Kami berprinsip: Sepagi mungkin sampai Belitung, sesore mungkin pulang ke Jakarta. Intinya, kami ingin memaksimalkan 3 hari 2 malam liburan kami di Belitung.

Perjalanan dari Jakarta ke Tanjung Pandan tidak memakan waktu lama. Kurang lebih 45 menit sampai 1 jam. Antrian pesawat yang akan take off malah terasa lebih lama (padahal sebenarnya tidak).  Di Bandara, pemandu wisata kami sudah menunggu. Kami dibawa untuk sarapan. Mie Belitung dan Es Jeruk Kunci adalah kuliner khas Belitung menjadi menu pagi itu. 


Mie Belitung dan Es Jeruk Kunci
Selesai sarapan, kami menuju hotel untuk menyimpan koper. Sesudah itu, kami langsung menuju Pantai Bukit Berahu. Begitu melihat pantai yang merupakan rangkaian dari Pantai Bukit Berahu, kami sudah berteriak-teriak kagum. Maklumlah, selama ini, pantai yang kami lihat warnanya coklat dengan pasir hitam. Sementara di sana, kami melihat air dengan warna hijau dan biru. Sampai di Bukit Berahu, kami takjub. Subhanallah! Laut  biru dan pasir putih yang halus belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya dan teman-teman enggan beranjak karena kami begitu menikmati keindahan Pantai Bukit Berahu. Tidak ada orang lain selain kami sehingga kami merasa seperti pantai milik pribadi. Dengan berat hati, saya dan teman-teman harus meninggalkan Pantai Bukit Berahu. Tujuan selanjutnya adalah Pantai Tanjung Tinggi.

Pantai Bukit Berahu
Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi adalah pantai yang paling terkenal di Belitung. Mengapa? Karena di sinilah Laskar Pelangi menggambarkan keindahan Belitung. Batu-batu besar terlihat di mana-mana. Takjub saya bertambah. Bagaimana cara Tuhan mengatur batu-batu ini? Itu yang ada di dalam benak saya. Jika Tuhan senang bermain catur, mungkin Dia menggunakan batu-batu ini  sebagai bidak. Saya tidak pernah melihat batu sebesar itu seumur hidup saya kecuali di Tanjung Tinggi. Belum lagi air bening, pasir putih, dan ikan hias semacam ikan badut berenang bebas di antara bebatuan. 

Beningnya Tanjung Tinggi
Batu di Tanjung Tinggi
Tanjung Tinggi. Tidak akan ada tanpa campur tangan Tuhan
Pantai ini adalah pantai yang paling banyak pengunjung. Banyak tempat makan dan warung-warung di sana. Sayangnya, semakin banyak orang berkunjung tidak diimbangi oleh kesadaran menjaga lingkungan. Banyak sampah dibuang sembarangan. Beberapa tempat menjadi gunungan sampah. Tempat-tempat tertentu bahkan berbau pesing. Sedikit mengurangi keindahan Tanjung Tinggi, namun tidak mengurangi kepuasan dan kegembiraan ketika mengunjunginya. Makan siang dengan menu masakan laut dan minum kelapa muda, bermain sampai puas, bisa dilakukan di sana. Dan, rasanya tidak pernah puas bermain di sana.

Pantai Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang adalah pantai ketiga yang saya kunjungi setelah Bukit Berahu dan Tanjung Tinggi. Pantai ini juga lebih sepi dari Tanjung Tinggi, namun lebih ramai dari Bukit Berahu. Menurut saya, pasirnya lebih putih dibanding dua pantai sebelumnya. Airnya juga lebih bening.




Tanjung Kelayang menjelang sore

Pantai Tanjung Pendam
Menurut pemandu wisata, Pantai Tanjung Pendam adalah pantai yang paling bagus di Belitung. Namun, saya dan teman-teman sepakat bahwa Tanjung Tinggi dan Bukit Berahu lebih bagus dan lebih asyik untuk dieksplorasi. Memang benar, Pantai Tanjung Pendam merupakan pantai yang paling banyak dikunjungi oleh penduduk setempat. Pantai ini lebih ramai. Berbagai acara sering diadakan di sana termasuk acara Bujang Dayang. Bujang Dayang adalah acara pemilihan semacam Mojang Jajakanya atau Abang Nonenya Belitung. Malam itu, badan kami bau matahari. Pasir pantai mengotori kaki dan lantai kamar hotel.

Teriakan Histeris Hari Kedua
Hari kedua di Belitung saya dan teman-teman kembali ke Pantai Kelayang. Agenda hari itu adalah Hoping Islands. Kami akan diajak mengunjungi pulau-pulau yang banyak bertebaran di Belitung. Jangan harap kembali dengan baju kering jika selesai berkunjung ke pulau-pulau. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Pasir, pulau yang hanya terlihat ketika surut. Tidak terlalu luas, tidak ada bebatuan. Yang ada hanya pasir putih.  
Bintang laut Pulau Pasir
Dari Pulau Pasir, kami mengunjungi Pulau Burong, Pulau Kepayang, dan Pulau Batu Layar. Uniknya, pulau-pulau ini tidak luas. Ada satu pulau yang terdiri dari bebatuan seperti Pulau Pasir yang hanya terdapat pasir.  Dan, bintang laut begitu mudah didapat di perairan tersebut. 



Pulau Lengkuas adalah pulau yang lebih luas dan sepertinya paling luas di antara pulau-pulau selama Hoping Islands. Pulau Lengkuas adalah pulau terjauh dari wilayah Belitung. Mercusuar tinggi menjulang menjadi ciri khas pulau tersebut. Keindahan sekitar Pulau Lengkuas bisa dinikmati dari tingkat tertinggi mercusuar. 
Mercusuar Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas dari atas mercusuar
Saat kami sedang di Pulau Lengkuas, mendung menggantung. Kami hampir tidak bisa pulang karena jika mendung, gelombang laut cenderung lebih tinggi. Akhirnya, kami pergi dari Pulau Lengkuas dengan beberapa kapal lainnya. Konvoi. Deg-degan karena gelombang laut masih tinggi, mendung masih menggantung. Kami seperti diayun. Awalnya, kami berteriak dengan teriakan senang (karena kami merasa seperti arung jeram). Lambat laun, ombak semakin tinggi, kami terombang-ambing dan teriakan senang itu menjadi histeris ketakutan.  Di situlah kebesaran Tuhan. Sesungguhnya manusia itu 'kecil'. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga. Tapi, toh hal itu tidak membuat saya kapok untuk ke sana lagi. Syukurlah, hujan turun. Turunnya hujan seperti obat yang menurunkan panas. Ombak menjadi tenang jika hujan turun. Perjalanan pun dilanjutkan menuju satu pulau. 

Kami makan di pulau tersebut. Banyak turis-turis yang makan di sana. Sepertinya, pulau tersebut memang dijadikan tempat makan siang. Sesudah itu, saya dan teman-teman snorkling. Banyak ikan berenang-renang ke sana ke mari. Sayang, mata saya minus. Jadi pemandangan indah itu menjadi kabur. Jika teman-teman memiliki mata minus atau plus, sebaiknya memakai kacamata berenang yang minus atau plus (jika punya). Jangan sampai seperti saya. 

Hari kedua ditutup dengan bermain pasir di Pantai Kelayang. Baju basah yang berat karena pasir yang terbawa lebih banyak dari hari kemarin. Untung pihak hotel tidak mengusir kami karena pasir-pasir yang terbawa di baju dan badan kami.

Belanja Oleh-oleh, Rumah Adat, Danau Buatan di Hari Ketiga
Kami akan terbang di sore hari. Tidak ada lagi jadwal ke pantai. Jika saja ada, saya takut saya tak mau pulang. Saya ketagihan bermain di pantai. Pemandu wisata membawa kami ke pusat oleh-oleh, mengunjungi rumah adat Belitung,dan ke danau yang terbentuk karena pengerukan tambang. 
Rumah Adat
Danau yang terbentuk dari hasil pengerukan
Hari ketiga ditutup dengan perpisahan di Bandara dengan Belitung. Delay pesawat kurang lebih satu jam membuat kami menunggu di Bandara. 

Jika ada kesempatan, sempatkan ke Belitung, Teman. Percayalah,  niscaya tidak akan pernah bosan.


Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari tiket.com dan nulisbuku.com. #MenikmatiHidup #TiketBaliGratis