3.4.15

SLC - Student Led Conference, Attachment, dan Reaksi Emosi

Karena agenda libur panjang ini berantakan, maka saya putuskan untuk menulis saja tentang pengalaman minggu ini. Mari!

Minggu ini, di Sekolah GagasCeria dijadwalkan sebagai minggu SLC – Student Led Conference. SLC adalah kegiatan yang mana siswa harus menjelaskan apa yang sudah dilakukannya selama kurun waktu tertentu di sekolah kepada orangtua berdasarkan catatan yang disebut Notebook Leadership. Jadi, orangtua dan siswa akan duduk berdampingan. Siswa menjelaskan, orangtua mendengarkan (dan diharapkan terjadi tanya jawab).

Sedikit cerita dari kegiatan SLC.
Seorang anak melihat teman-temannya duduk bersama orangtua sementara di sampingnya kursi masih kosong. Anak itu melihat ke belakang. Teman di belakangnya pun masih sendiri. Ia meletakkan kepalanya ke meja.  Anak itu menunduk kepalanya dan melingkarkan lengan di sekitar kepala. Tidak! Ia tidak mengatakan kalau ia sedih karena orangtuanya belum datang. Ketika ditanya, ia mengatakan sedang tidak enak badan. Suaranya pelan ketika berkata kalau ia sedang tidak enak badan. Matanya, mulai berkaca-kaca. Ia lap air matanya. Kemudian ia menengok ke belakang karena mendengar seseorang datang. Ternyata, seseorang itu duduk di belakangnya. Oh.. ternyata mama temannya. Akhirnya, mamanya datang. Raut mukanya berubah menjadi cerah melihat mamanya datang dan kemudian duduk di sampingnya.

Di lain hari.
Seorang anak duduk sendirian. Orangtuanya belum datang. Teman-temannya sudah mulai menjelaskan Notebook Leadership pada orangtuanya. Ada yang diapit mama papanya. Ada yang bercerita pada mamanya saja, atau papanya saja. Ia melihat ke arah kanan. Orangtua salah satu temannya pun belum datang, ama seperti dirinya. Mungkin anak itu merasa lega karena punya teman yang senasib dengannya. Anak itu akhirnya mau bercerita pada orang lain yang menggantikan orangtuanya. Saat ia bercerita, suaranya pelan. Hampir tidak terdengar. Meskipun ia diminta untuk mengeraskan suaranya, suaranya tetap pelan. Beberapa kali ia menoleh ke arah temannya yang tadi masih sendiri. Oh... ternyata orangtuanya sudah datang dan sudah duduk di samping temannya. Temannya terlihat senang. Ia pun meneruskan ceritanya tapi suaranya semakin mengecil. Matanya mulai memerah dan ada genangan air di sudut matanya. Dan ketika orangtuanya datang, ia menangis.

Sebelum acara dimulai, biasanya saya bertanya pada anak-anak. “Siapa yang deg-degan?” Hampir semua anak akan mengangkat tangan. Ketika saya berkata, “Sudah banyak lho, orangtua yang datang,” mereka kemudian bertanya dengan wajah polos dan rasa ingin tahu, “Mama aku udah ada? Papa aku udah ada?”  Saya senang melihat wajah-wajah sumringah mereka ketika tahu orangtuanya datang. Atau, mereka akan memberitahu temannya: “Ayah kamu udah ada, mama kamu udah datang.”

Sesudah acara, saya akan bertanya lagi. “Apa rasanya tadi?” Dengan berebut bicara, mereka menjawab “senang” atau “deg-degan”, “tegang” dan lain sebagainya. “Kenapa?” Tanya saya. Alasan mereka:
-          “Karena orangtuanya datang.”
-          “Karena orangtuanya bertanya.”
-          “Karena aku ditanya.”
-          “Aku lebih senang kalau orangtuanya banyak nanya.”

Masih ingat beberapa waktu lalu beredar di media sosial satu catatan tentang bagaimana orangtua berhutang banyak pada anak? Orangtua berhutang banyak cinta, kebahagiaan, dan waktu pada anak-anaknya. Bagaimana pun juga, bagi seorang anak, orangtua tetaplah figur penting yang sangat diharapkan kehadirannya.


Pada momen ini, saya melihat bahwa SLC kental dengan kedekatan orangtua-anak. Saya bisa melihat bagaimana orangtua berkomunikasi dengan anak. Orangtua bisa melihat bagaimana kemampuan anak dalam menjelaskan. Yang paling penting adalah bagaimana attachment terbangun saat proses SLC berlangsung. Reaksi emosi pada anak bisa terlihat dengan jelas tergambar. Senang, sedih, kecewa, gembira.  Yang paling membahagiakan bagi saya adalah saya melihat begitu banyak ekspresi gembira terpancar di wajah anak-anak ketika orangtuanya ada dan mendengarkan mereka bercerita.

Happy long weekend!

28.3.15

Belitung Eksotik

Belitung!
Hampir semua orang mungkin sudah pernah mendengar ‘Belitung’. Bagaimana tidak? Belitung adalah satu tempat yang sangat fenomenal karena sebuah novel yang kemudian dijadikan film. Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata membuat banyak orang menyoroti Belitung. Apalagi tokoh Ibu Muslimah sebagai guru mampu membuat saya merasa bahwa sebagai pendidik, saya belum melakukan apa-apa. Kisah tentang pendidikan itulah yang justru membuat saya tertarik untuk membaca dan menonton Laskar Pelangi, bukan keindahan digambarkan dalam film tersebut. Namun, ketika ada tawaran untuk pergi ke sana, entah kenapa saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Mungkin karena saat itu saya merasa butuh bepergian. Dan tiga hari dua malam yang dihabiskan di Belitung ternyata cukup kuat tertanam dalam ingatan saya. Bahkan, ingin rasanya kembali menikmati pantai-pantai indah di Belitung. Rasanya, saya tidak pernah bosan untuk mengulang-ulang rangkaian memori yang terkumpul saat itu.

Teriakan Takjub Hari Pertama
Perjalanan ke Belitung dimulai pada tengah malam. Dinginnya udara Bandung kami (saya dan beberapa teman) abaikan. Penerbangan dari Cengkareng, Jakarta, ke Tanjung Pandan Belitung kami pilih di pagi hari. Jam 05.55. Alasannya sederhana, biar bisa cepat-cepat sampai ke Belitung. Alasan kedua lebih ekonomis, ogah rugi. Kami berprinsip: Sepagi mungkin sampai Belitung, sesore mungkin pulang ke Jakarta. Intinya, kami ingin memaksimalkan 3 hari 2 malam liburan kami di Belitung.

Perjalanan dari Jakarta ke Tanjung Pandan tidak memakan waktu lama. Kurang lebih 45 menit sampai 1 jam. Antrian pesawat yang akan take off malah terasa lebih lama (padahal sebenarnya tidak).  Di Bandara, pemandu wisata kami sudah menunggu. Kami dibawa untuk sarapan. Mie Belitung dan Es Jeruk Kunci adalah kuliner khas Belitung menjadi menu pagi itu. 


Mie Belitung dan Es Jeruk Kunci
Selesai sarapan, kami menuju hotel untuk menyimpan koper. Sesudah itu, kami langsung menuju Pantai Bukit Berahu. Begitu melihat pantai yang merupakan rangkaian dari Pantai Bukit Berahu, kami sudah berteriak-teriak kagum. Maklumlah, selama ini, pantai yang kami lihat warnanya coklat dengan pasir hitam. Sementara di sana, kami melihat air dengan warna hijau dan biru. Sampai di Bukit Berahu, kami takjub. Subhanallah! Laut  biru dan pasir putih yang halus belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya dan teman-teman enggan beranjak karena kami begitu menikmati keindahan Pantai Bukit Berahu. Tidak ada orang lain selain kami sehingga kami merasa seperti pantai milik pribadi. Dengan berat hati, saya dan teman-teman harus meninggalkan Pantai Bukit Berahu. Tujuan selanjutnya adalah Pantai Tanjung Tinggi.

Pantai Bukit Berahu
Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi adalah pantai yang paling terkenal di Belitung. Mengapa? Karena di sinilah Laskar Pelangi menggambarkan keindahan Belitung. Batu-batu besar terlihat di mana-mana. Takjub saya bertambah. Bagaimana cara Tuhan mengatur batu-batu ini? Itu yang ada di dalam benak saya. Jika Tuhan senang bermain catur, mungkin Dia menggunakan batu-batu ini  sebagai bidak. Saya tidak pernah melihat batu sebesar itu seumur hidup saya kecuali di Tanjung Tinggi. Belum lagi air bening, pasir putih, dan ikan hias semacam ikan badut berenang bebas di antara bebatuan. 

Beningnya Tanjung Tinggi
Batu di Tanjung Tinggi
Tanjung Tinggi. Tidak akan ada tanpa campur tangan Tuhan
Pantai ini adalah pantai yang paling banyak pengunjung. Banyak tempat makan dan warung-warung di sana. Sayangnya, semakin banyak orang berkunjung tidak diimbangi oleh kesadaran menjaga lingkungan. Banyak sampah dibuang sembarangan. Beberapa tempat menjadi gunungan sampah. Tempat-tempat tertentu bahkan berbau pesing. Sedikit mengurangi keindahan Tanjung Tinggi, namun tidak mengurangi kepuasan dan kegembiraan ketika mengunjunginya. Makan siang dengan menu masakan laut dan minum kelapa muda, bermain sampai puas, bisa dilakukan di sana. Dan, rasanya tidak pernah puas bermain di sana.

Pantai Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang adalah pantai ketiga yang saya kunjungi setelah Bukit Berahu dan Tanjung Tinggi. Pantai ini juga lebih sepi dari Tanjung Tinggi, namun lebih ramai dari Bukit Berahu. Menurut saya, pasirnya lebih putih dibanding dua pantai sebelumnya. Airnya juga lebih bening.




Tanjung Kelayang menjelang sore

Pantai Tanjung Pendam
Menurut pemandu wisata, Pantai Tanjung Pendam adalah pantai yang paling bagus di Belitung. Namun, saya dan teman-teman sepakat bahwa Tanjung Tinggi dan Bukit Berahu lebih bagus dan lebih asyik untuk dieksplorasi. Memang benar, Pantai Tanjung Pendam merupakan pantai yang paling banyak dikunjungi oleh penduduk setempat. Pantai ini lebih ramai. Berbagai acara sering diadakan di sana termasuk acara Bujang Dayang. Bujang Dayang adalah acara pemilihan semacam Mojang Jajakanya atau Abang Nonenya Belitung. Malam itu, badan kami bau matahari. Pasir pantai mengotori kaki dan lantai kamar hotel.

Teriakan Histeris Hari Kedua
Hari kedua di Belitung saya dan teman-teman kembali ke Pantai Kelayang. Agenda hari itu adalah Hoping Islands. Kami akan diajak mengunjungi pulau-pulau yang banyak bertebaran di Belitung. Jangan harap kembali dengan baju kering jika selesai berkunjung ke pulau-pulau. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Pasir, pulau yang hanya terlihat ketika surut. Tidak terlalu luas, tidak ada bebatuan. Yang ada hanya pasir putih.  
Bintang laut Pulau Pasir
Dari Pulau Pasir, kami mengunjungi Pulau Burong, Pulau Kepayang, dan Pulau Batu Layar. Uniknya, pulau-pulau ini tidak luas. Ada satu pulau yang terdiri dari bebatuan seperti Pulau Pasir yang hanya terdapat pasir.  Dan, bintang laut begitu mudah didapat di perairan tersebut. 



Pulau Lengkuas adalah pulau yang lebih luas dan sepertinya paling luas di antara pulau-pulau selama Hoping Islands. Pulau Lengkuas adalah pulau terjauh dari wilayah Belitung. Mercusuar tinggi menjulang menjadi ciri khas pulau tersebut. Keindahan sekitar Pulau Lengkuas bisa dinikmati dari tingkat tertinggi mercusuar. 
Mercusuar Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas dari atas mercusuar
Saat kami sedang di Pulau Lengkuas, mendung menggantung. Kami hampir tidak bisa pulang karena jika mendung, gelombang laut cenderung lebih tinggi. Akhirnya, kami pergi dari Pulau Lengkuas dengan beberapa kapal lainnya. Konvoi. Deg-degan karena gelombang laut masih tinggi, mendung masih menggantung. Kami seperti diayun. Awalnya, kami berteriak dengan teriakan senang (karena kami merasa seperti arung jeram). Lambat laun, ombak semakin tinggi, kami terombang-ambing dan teriakan senang itu menjadi histeris ketakutan.  Di situlah kebesaran Tuhan. Sesungguhnya manusia itu 'kecil'. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga. Tapi, toh hal itu tidak membuat saya kapok untuk ke sana lagi. Syukurlah, hujan turun. Turunnya hujan seperti obat yang menurunkan panas. Ombak menjadi tenang jika hujan turun. Perjalanan pun dilanjutkan menuju satu pulau. 

Kami makan di pulau tersebut. Banyak turis-turis yang makan di sana. Sepertinya, pulau tersebut memang dijadikan tempat makan siang. Sesudah itu, saya dan teman-teman snorkling. Banyak ikan berenang-renang ke sana ke mari. Sayang, mata saya minus. Jadi pemandangan indah itu menjadi kabur. Jika teman-teman memiliki mata minus atau plus, sebaiknya memakai kacamata berenang yang minus atau plus (jika punya). Jangan sampai seperti saya. 

Hari kedua ditutup dengan bermain pasir di Pantai Kelayang. Baju basah yang berat karena pasir yang terbawa lebih banyak dari hari kemarin. Untung pihak hotel tidak mengusir kami karena pasir-pasir yang terbawa di baju dan badan kami.

Belanja Oleh-oleh, Rumah Adat, Danau Buatan di Hari Ketiga
Kami akan terbang di sore hari. Tidak ada lagi jadwal ke pantai. Jika saja ada, saya takut saya tak mau pulang. Saya ketagihan bermain di pantai. Pemandu wisata membawa kami ke pusat oleh-oleh, mengunjungi rumah adat Belitung,dan ke danau yang terbentuk karena pengerukan tambang. 
Rumah Adat
Danau yang terbentuk dari hasil pengerukan
Hari ketiga ditutup dengan perpisahan di Bandara dengan Belitung. Delay pesawat kurang lebih satu jam membuat kami menunggu di Bandara. 

Jika ada kesempatan, sempatkan ke Belitung, Teman. Percayalah,  niscaya tidak akan pernah bosan.


Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari tiket.com dan nulisbuku.com. #MenikmatiHidup #TiketBaliGratis

28.2.15

Untuk Penghujung Februari

Hai, Penghujung Februari!

Kau tahu? Sekarang mendung menggantung setelah panas menyengat. Sebenarnya, sudah sejak beberapa hari lalu aku ingin menulisnya. Menceritakan suatu kisah tentang 23-26 Februari setahun lalu. Sedikit hari tapi memenuhi sebagian besar ruang memori. Serangkaian peristiwa menyenangkan yang patut diulang. Satu petualangan yang pantas dikenang. Dimulai dengan deringan telepon untuk saling membangunkan, menjelajah dunia baru hingga kaki pegal. Berlarian mengejar bus terakhir dan berakhir dengan berendam kaki di bath tub sambil saling bercerita. Sungguh kenangan indah yang tak terlupakan.

Sayangnya, waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Sayangnya juga, kesibukan yang demikian padat hanya menyempatkan kenangan itu diulas sekilas. Kehidupan yang terus berjalan, kesibukan mengaduk sisi emosional, membuat keadaan tidak sesuai harapan. Kegembiraan berganti kekecewaan, kebersamaan berganti kesendirian, keramaian berganti kesepian, kesenangan berganti kekesalan, rasanya memenuhi udara akhir Februari. Kenangan itu pada akhirnya berlalu tak terasa, padahal aku ingin menempatkannya pada satu masa yang berharga.

Tidak, tidak!


Aku tetap akan menempatkannya sebagai kenangan berharga. Masa itu adalah masa di mana aku mengenal jauh menjadi dekat, teman menjadi saudara, tak bisa menjadi bisa, takut menjadi berani (bahkan tawa), dan sahabat menjadi keluarga. Aku tidak tega meninggalkan momen itu berlalu begitu saja, meski hanya bisa dikenang. Aku ingin mengulangnya, walaupun tidak akan sama. Aku ingin menutup Februari dengan gembira. Meninggalkan duka nestapa, menggantinya dengan bahagia.

Hai, Penghujung Februari!
Mendung sudah berganti menjadi hujan. Gerimis membuat bunyi teratur di atap rumah. Beberapa jam lagi, hari akan berganti. Maret sedang menjelang. Semoga saja, Maret akan menjadi awal kebahagiaanku. Aku ingin merajut peristiwa menjadi ingatan-ingatan yang pantas dikenang, menyiasati waktu yang tak berkenan diputar ulang.

Februari, jika Tuhan berkenan, kita akan jumpa lagi tahun depan. 

22.2.15

Surat Untuk Sang Penguasa Waktu

Wahai Sang Penguasa Waktu, 
Terima kasih Kau beri aku tambahan usia. Engkau sungguh Hebat. Pasti Kau sudah merencanakan setiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun kehidupan manusia. Tak ada manusia yang mampu melakukan itu. Pasti Kau juga sudah punya rencana bagi tambahan usiaku. Karenanya, selalu ada cerita seiring dengan itu.

Wahai Sang Penguasa Waktu,
Tentunya Engkau ingat bertahun-tahun lalu, Kau memberiku sebuah pisau. Aku tolak dengan keras saat itu. Kau tentu tahu alasannya. Ya, aku takut memegang pisau itu. Aku takut pisau itu akan melukaiku. Aku takut, dengan pisau itu aku tidak bisa membelah benda sama besar. Dan aku berhasil menolaknya saat itu.

Wahai Sang Penguasa Waktu
Kali ini, kau beri lagi aku kesempatan memegang pisau dan aku menerimanya. Pisau yang berat dan tajam. Pisau khusus bermata banyak. Kali ini, benda yang harus kupotong lebih banyak dan lebih besar.
Dengan pisau itu, aku mengasah diriku untuk menjadi lebih tajam. Tapi, seperti buah simalakama (sesungguhnya, aku belum tahu buahnya seperti apa). Ketika pisau itu belum tajam, aku menggesekkannya berulang kali pada batu pengasah. Dengan mata pisau yang banyak, aku harus berhati-hati memegangnya supaya tidak terluka. Susah, lelah, dan sakit rasanya. Kadang, ketika aku mengarahkan pisaunya dengan maksud baik, orang lain menyangka sebaliknya. Ketika aku menggunakan pisau untuk membelah, orang lain tidak puas dengan hasilnya. Dengan pisau itu, mungkin sebagian orang membenci aku, menjelekkan kemampuanku memegang pisau, menertawakan bahwa aku bukan orang yang tepat untuk memegang pisau. Sedih sekali rasanya. Yang terakhir itu sungguh membuatku sakit. Tanpa kukatakan alasannya, Kau pasti sudah tahu. Kau tentu ingat, sudah berapa banyak air mata tumpah karena itu. Belum lagi air mata-air mata lainnya sesudah itu yang hanya Kau saja yang tahu. Wahai Sang Penguasa Waktu, akhir-akhir ini, mataku mudah sekali mengeluarkan air. Harapku, tak ada lagi air mata yang mengalir karena cemoohan, ejekan, ketidakpercayaan, atau keputusasaan. Aku tahu, Kau mengizinkanku memegang pisau untuk membuatku menjadi orang yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih baik baik lagi. Aku juga tahu, Kau ingin aku banyak belajar ilmu-ilmu kehidupan, nilai-nilai moral, dan warna-warni dunia.

Wahai Sang Penguasa Waktu, 
Beri aku waktu untuk belajar. Dampingi supaya aku bisa menggunakan pisau itu dengan bijaksana. Jadikan ejekan, cemoohan, tertawaan itu sebagai pelebur dosaku. Tidak ada dukungan yang lebih berarti selain dukungan dari-Mu.

Wahai Sang Penguasa Waktu,

Sekarang, beri aku waktu sejenak untuk mencari tiket-tiket murah. Kebutuhan untuk melihat dunia begitu mendesak dalam tubuhku. Terima kasih karena Kau mau membaca suratku.  

15.2.15

Surat Untuk Aku

Ini surat pertama untuk diriku. Sebab rasa rindu yang membuncah dengan amat sangat. Aku rindu pesawat. Sungguh! Seperti setahun lalu. Euforia bersama sekelompok manusia atau pergi sendiri terasa menggairahkan jiwa. Penuh keriangan dan semangat berpetualang. Tak mengeluh meskipun harus bangun dini hari karena jadwal take off pagi hari. Dering suara ponsel berkali-kali hanya sekedar memberi tanda bahwa sekarang saatnya bangun. Berkumpul di bandara pada saat pintu bandara masih tertutup rapat. Tubuh-tubuh di atas bangku ruang tunggu melenguhkan nafas perlahan. Entah sejak kapan mereka tertidur lelap. Tas-tas dan koper-koper bergeletakan tak tahu siapa pemiliknya. Mini market dengan kopi instan buka 24 jam. Hiruk pikuk kala pintu bandara di buka terjadi di pagi buta. Orang lalu-lalang bersliweran menarik koper. Antri  panjang melintasi penjaga, sensor bagasi, check in, imigrasi, rasanya masih kuat di ingatan. Aku merindukan keriuhan saat itu. 

Aku rindu pesawat. Sungguh! Setiap beberapa menit, pesawat yang melintas di depan mata membuat kawah dalam diriku . Kawah keinginan yang bisa meletus. Aku ingin mengulang kenangan setahun lalu. Berada di dalamnya, semangatku membara. Ketika memandangnya, rasa takjub mendera. Ketika meninggalkannya, aku merindukannya. Kejenuhan, ketidakpercayaan diri, keputusasaan terhadap rasa percaya yang kurasa tak kunjung ada, tusukan dari belakang yang tak disadari, rasa kecewa, komentar-komentar yang menjatuhkan, tangisan diam-diam, membuat aku enggan membuka mata setiap pagi, mengumpulkan rasa ingin pergi. Aku ingin terbang jauh. 

Aku rindu pesawat. Sungguh! Seperti setahun lalu. Kenangan yang sering menyeruak tanpa diminta. 

8.2.15

Keluarga -i-

Hai, Gerimis!
Akhir-akhir ini kau datang setiap hari. Tak apa-apalah, asalkan gerimismu tak menjadi banjir.

Gerimis, aku mau cerita tentang sebuah keluarga. Aku menyebutnya keluarga –i-. Sebuah keluarga yang terbentuk bukan karena pertalian darah. Tapi, hubungan kami bisa jadi seerat hubungan darah. Tawa, tangis, suka, duka, kami alami bersama. Saling dukung, saling canda, saling cerita. Hanya pada keluarga itulah aku bisa terbuka. Aku bisa menahan air mata, tapi tidak di depan keluarga itu. Hanya dengan membaca pesan dari keluarga –i-, pertahananku bisa runtuh.

“Jangan nangis sendirian!” Biasa aku dengar dari mereka.
 Move on!” teriakan yang jadi trending topic di antara kami. Sesudahnya, kami akan tertawa bersama. Mengutak-atik foto kemudian menyebarkannya di antara kami menjadi salah satu hiburan bagi kami. Jalan-jalan, makan, mengobrol, sudah menjadi kebiasaan.

Apakah kami tidak pernah konflik? Tentu saja pernah. Aku pernah kena marah. Didiamkan begitu saja oleh mereka. Kadang tanpa tahu apa yang salah. Tapi kami bisa rukun kembali.

Aku suka. Setiap hari selalu ada cerita. Apapun topiknya. Lelaki masa lalu, lelaki sekarang, liburan, kekesalan, kenangan, semuanya. Hidupku jadi semakin berwarna.

Gerimis, katanya, saat hujan adalah waktu di mana doa kita akan dikabulkan. Jadi, aku mau berdoa.

" Ya Tuhan, semoga selamanya kami selalu jadi keluarga. Semoga kami bisa tetap saling dukung, saling canda, saling cerita."

Gerimis, tolong sampaikan salamku pada mereka.
Selamat berakhir pekan. 

Dari aku yang mereka panggil 'Lin'.

1.2.15

Dear Kei,

 

Dear Kei,

Kei, dingin sekali di sini. Mungkin tak sedingin musim gugur (apalagi musim salju) di tempat tinggalmu. Rasa dingin ini mengingatkanku pada satu gunung tinggi dengan puncak bersalju. Entah kenapa, melihat foto itu, justru hatiku jadi hangat. Kenapa? Karena, 

aku ingat betapa senyummu sangat menenangkan,

aku ingat kata-katamu yang menentramkan,

aku ingat ucapanmu yang memberikan semangat,

aku ingat saat kau menawarkan bantuan,

dan yang paling aku ingat, ketika kau memberikan komentar tentang tulisan di komputerku. Saat itu, kita duduk berdampingan untuk transfer video. (Sayangnya, saat itu kita tidak berhasil memindahkan video tersebut).

Kenal denganmu menumbuhkan semangatku untuk menjalani hidup. Mungkin kau tidak tahu, dirimu membawa pengaruh terhadapku. Bahkan, mungkin kau sudah tidak ingat padaku. Tak apa. Tak masalah buatku. Aku hanya ingin berkata,

“Terima kasih, Kei. Kau orang yang baik. Sungguh! Terima kasih karena kau sudah pernah mampir dalam hidupku.”


Kei, mudah-mudahan, suatu saat kita bisa bertemu lagi. 
Mudah-mudahan, aku bisa memandang gunung bersalju (yang kau banggakan itu) dari kotamu.

#1 Februari 2015 di pagi yang dingin.