7.2.14

Selamat Ulang Tahun, Indah.

Hai, Indah!

Kolaborasi menulis cerita adalah awal kita kenal. 
Walaupun kita belum pernah bertemu.
Walaupun kita jarang bertegur sapa.
Tapi aku senang telah mengenalmu.

Hari ini ulang tahunmu. Beberapa hari sebelum ulang tahunku. Kita lahir pada bulan yang sama. Kita berada di bawah naungan zodiak yang berbeda. Hmm... tidak penting juga, sih. :-) 

Indah, aku ingin mengucapkan, "Selamat Ulang Tahun." Wish you all the best terlalu standar untuk diucapkan. Terlalu biasa. Semoga kamu bahagia dengan hidupmu. Itu sajalah harapanku. 

Sampai ketemu suatu saat nanti.

Iin

6.2.14

Peri Gigi, Setahun Kemudian

Hai, Peri Gigi.
Kamu masih ingat? Aku kirim surat buatmu setahun yang lalu. Ah, bukan masalah kalau ternyata kamu lupa. Aku hanya sekedar bertanya.

Peri, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaanmu di sana, di suatu daerah terpencil. Di sana kamu baik-baik saja. Keceriaan menghias wajahmu. Badanmu sudah meningkat beratnya. :-) Kamu tetap konsisten dengan apa yang sudah kau pilih, mengabdi sebagai dokter gigi. Toh segala keterbatasan yang ada tetap membuatmu bisa bertahan. Mati lampu yang kerap terjadi (bahkan sehari bisa tiga kali), air yang kadang nyala kadang sebaliknya, jalanan tanah merah yang menjadi lumpur kalau hujan tiba, semua bisa dilalui. Kau benar-benar wanita tangguh.

Peri, tampaknya, kau sudah bisa menikmati hidupmu di sana. Jangan khawatir. Kulihat para tetanggamu adalah orang-orang baik. Mereka bersedia menolongmu. Mereka menghormatimu. Walaupun aku senang jika kita berdekatan, tapi itu hidupmu. Kau yang berhak menentukan. Bukan aku. Aku hanya berharap kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada. Jaga kesehatan supaya kita bisa bertemu lagi suatu saat. Mudah-mudahan, aku bisa mengunjungimu lagi. Jika aku ke sana lagi, tolong katakan pada kelabang untuk hibernasi. Jangan keluar kalau ada aku. Bilang pada genset agar tidak rewel. Sebarkan berita pada walang sangit agar berkunjung ke rumah lain. Kirim pesan pada semut agar menjauhimu. Biarkan speedy-mu tetap ada. Aku membutuhkannya untuk menyebar berita pada dunia. Aku membutuhkannya untuk bertegur sapa dengan dorama.x264 atau gooddrama. Aku membutuhkannya untuk mengumumkan, bahwa negerimu juga dekat dengan dunia maya.

Sampai ketemu lagi, temanku. 

5.2.14

Tukang Pos Penyanyi

Hai, Kak Ika. 

Salam kenal. 

Tahun lalu, aku lihat Kak Ika di gathering Pos Cinta. Suaramu bagus! Lha, aku? Membedakan nada aja tidak bisa, apalagi menyanyi. Salut deh, sama orang-orang bersuara bagus. Keren. Sayangnya, saat itu, aku terlalu malu untuk berjalan ke depan ketika orang yang ultah Februari diminta maju. Padahal, kalau aku maju, aku dapat CD Vuje. Qiqiqi.. Maklumlah, aku ini pemalu (walaupun banyak orang tidak setuju). Ah, sudahlah. 

Kak Ika, aku suka setiap reply surat Kak Ika selalu kasih komentar. Di blog juga. Jadi tambah semangat nulis suratnya. Kalau nggak nulis, serasa ada yang kurang. Betul! Menulis untuk #30HariMenulisSuratCinta itu memaksa aku supaya tetap menulis. Juga memberikan harapan, lho, dan memiliki harapan itu menyenangkan. 

Kak, nama panggilanmu sama seperti nama sahabatku. Kalian berdua sama-sama baik. Senang berkenalan dengan Kakak. Mudah-mudahan, suatu saat kita bisa ketemu, ya. Oh ya, mungkin akan ada hari-hari aku absen nulis surat. Pasti aku akan merindukan menulis surat saat aku absen. :-)
Sukses untuk band-nya. 
Sukses jadi tukang posnya.
Sukses untuk hidupmu, Kak.

4.2.14

Dear Bety

Dear Bety.

Aku nggak tahu siapa aja yang termasuk selebtwit. Yang jelas, bagiku kau adalah salah satunya, hehehe... 

Bety, kita satu kota tapi jarang ketemu. Jadwal free time kita nggak pernah cocok. Semoga 'kerjaannya' cepat kelar. Feel free to ask me if you need a hand. Selama aku masih di sana, Insya Allah bakal dibantu. Maaf-maaf kalau whatsApp-nya lama dibalas, hehehe.... Biasa, tugasku kan kayak pedagang keliling. Muter-muter. Kapan-kapan kita jalan bareng lagi. Dikau masih berutang traktir nonton. :-) Kalau ada film bagus, kita datangi Braga, BIP, atau Ciwalk. Dan jangan lagi salah masuk ke toko roti yang bersebelahan dan punya nama yang mirip. Ok? :-D Oh ya, ada satu lembar kuesioner lagi yang baru dikumpulin. Mau diambil? 

Bye. Sampai ketemu lagi.
Iin

3.2.14

Kita Belum Pernah Bertemu

Hai, Penyuka Eru! 

Bagaimana kabarmu di sana? Aku selalu berharap kau dalam keadaan yang sehat dan bahagia. Kalau kau tanya kapan kita pertama kali kenalan, entahlah. Aku lupa. Tapi kalau kau tanya bagaimana kita kenalan, mungkin aku bisa menjawabnya. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin juga (maafkan :-)). 

Satu kegiatan menulis bersama awalnya. Kita jadi tahu satu sama lain. Ternyata kita punya kesukaan yang sama. Itu yang membuat bonding di antara kita menguat. Kau suka Eru, aku punya videonya. Terang-terangan kau memintanya, dan tentu saja, dengan senang hati kukirimkan. Sejak itu, kita sering bertegur sapa. Seperti tak mau kalah dengan matahari, kau selalu menyapaku setiap pagi. Berceloteh tentang apa saja, curhat, sampai omelan panjang lebar tak segan kita lontarkan. Satu sama lain.

Maafkan aku. Desember lalu, aku terlalu hectic dengan kerjaanku. Sapaanmu setiap pagi kadang tak sempat kubalas. Aku balas pesanmu di sore atau malam hari. Mungkin kau kesal. Sedikit demi sedikit kita mulai jarang bertegur sapa. Tapi ketahuilah. Aku tetap siapkan telinga untuk mendengarmu. Kubuka mata untuk baca pesanmu. Kuberharap sakit kepala enyah dari hidupmu. Kuberdoa agar Sabtu menjadi hari yang menyenangkan buatmu. Aku meminta galau pergi dari hadapanmu. Kurangkai doa supaya kau dikelilingi teman-teman yang tulus, bukan karena punya pamrih.

Aku tidak bermaksud menggurui. Tapi sungguh aku ingin mengatakannya. Menangislah kalau kau merasa dadamu sesak. Marahlah kalau kau memang kesal. Jangan kau pendam untukmu sendiri. Kamu orang baik. Sungguh! Kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Sekali lagi maafkan jika ada perkataanku yang menyinggungmu. Percayalah, tidak ada maksud berbuat seperti itu. Semoga mimpi-mimpi indah selalu menyambangimu. 

By the way, ingatkah kau? Kita belum pernah bertemu. Ketahuilah, kedekatan kita tidak ditentukan oleh seberapa sering kita bertemu. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa bertatap muka. 

Sampai jumpa, Teman.
Aku, penyuka JIS.

2.2.14

Mental Creation

Halo kamu, kamu, dan kamu!

Apakah kalian tahu kenapa kalian terpilih? Kugantung kalian di tas ranselku. Tas yang selalu kubawa ke mana-mana. Seandainya kalian bisa bicara, mungkin kalian sudah bertanya. Sayangnya, kalian adalah benda mati. Diam tak bicara. Setidaknya, kalian bukan seperti orang-orang nyinyir yang selalu ingin tahu dengan komentar yang kadang sinis dan menyakitkan. Beruntunglah karenanya.

Baiklah, aku akan bercerita. Begini. Kalian kupilih karena kalian adalah simbol mimpiku. Mimpi sekaligus harapanku. Ya, aku adalah seorang pemimpi. Kadang, aku heran pada orang yang tak punya mimpi sedangkan aku memiliki beribu mimpi. Ah, sudahlah. Setiap orang pasti punya alasan sendiri, kan. Aku sedang melakukan mental creation. Katanya, segala sesuatu diciptakan dua kali. Satu, penciptaan secara mental yang disebut mental creation, satu lagi penciptaan secara fisik. Nah, kugantung kalian di tasku sebagai bentuk mental creation. Kuciptakan mimpiku untuk menjadi kenyataan. Gantungan naga dari Jepang, buk (drum Korea) tentu saja dari Korea, gantungan kunci berbentuk 'kunci' dengan tulisan Goteborg (salah satu kota di Swedia), dan gantungan berbentuk bola yang kuanggap sebagai 'dunia'. Aku seorang petualang. Petualang ini ingin melihat dunia. Sebagian dunia yang diwakili kalian. "Suatu hari aku akan ke sana", kalimat mental creation yang sering kuucapkan. Kupilih kalian adalah mental creation. Kugantung kalian untuk mengingat: mental creation butuh diwujudkan. 

Aku adalah sang pemimpi. Pemimpi yang perlu menjejak bumi. Pemimpi yang perlu mengantar mental creation menjadi nyata.


mental creation

1.2.14

Jangan Lelah Memberiku Semangat

Hai murid-muridku di kelas Program Tantangan SD4. 

Selamat pagi! 

Pasti kalian sekarang sedang berkumpul dengan keluarga. Sama. Aku juga. Tapi, aku sempatkan waktu sejenak menulis untuk dan tentang kalian. 

Aku ingin mengucapkan rasa terima kasih. Aku tidak pernah bilang bahwa kalian adalah obor. Ya, obor yang menyulut semangatku untuk mengajar. Di depan kelas, aku hanya mengatakan "senang" karena kalian begitu rajin mengumpulkan jurnal dan portofolio. Di depan kelas, aku hanya mengatakan "senang" karena kalian begitu semangat untuk presentasi. Di depan kelas, aku hanya mengatakan "bangga" karena tanggung jawab dan kemandirian kalian.

Ya, aku bangga dengan kalian semua. Aku tidak pernah bilang bahwa semangat kalian sudah menulariku. Kalian tidak pernah tahu, berada di antara dua kepala (dan aku di tengah-tengah) dengan ide yang sama-sama ingin diwujudkan kadang membuatku pusing, bahkan terpuruk. Sungguh! Kalian tidak pernah tahu, dan aku tidak pernah memberitahu kalian. Keluhan dari kanan, kiri, depan, belakang, sempat membuat aku ingin mundur. Tapi adanya kalian membuat aku semangat lagi. Hanya dengan perkataan sederhana yang sering aku dengar, "Bu, aku bawa jurnal." atau "Bu, aku mau presentasi."

Kalian tidak pernah tahu, kalianlah yang membuatku bertahan. Kalian yang membuatku tersenyum dengan celoteh kalian. Kalian yang membuatku punya bahan cerita untuk disebar. Kalian tidak pernah tahu bahwa aku bangga dengan presentasi kalian. Bahkan aku tak mengira, kalian bisa menjelaskan sebaik itu. Mungkin, suatu saat, aku akan bercerita pada kalian. Dan, aku baru sadar, selama satu setengah tahun bersama kalian, aku tidak pernah berfoto bersama kalian.

Selamat berlibur, Diya, Salsa, Alika, Nadhia, Ica, Iza, Nabil, dan Tristan.
Tetap tulari aku dengan semangat kalian. Jangan merasa lelah memberiku semangat.
Sampai ketemu hari Rabu depan.